
“Halo.” Jawab seorang wanita dari seberang telepon.
“Halo ma, ini aku Naomi.” Naomi menempelkan benda pipih miliknya di telinga.
“Naomi? Ini benar kamu nak? ya ampun Naomi, akhirnya kamu menelepon mama, dari mana saja kamu nak? Setiap mama menelepon nomormu, selalu saja tidak tersambung, begitu mama tanya ke Ilham selalu saja ada alasannya untuk bilang kalau kamu tidak ada.” Cetus Nancy dengan wajah berbinarnya.
“Iya maaf ya ma, Naomi baru mengabari mama, ada yang ingin Naomi dan Mas Ilham katakan pada mama dan papa.”
“Apa sayang? Kamu mau mengatakan apa?” Tanya Nancy antusias.
“Naomi hamil dua bulan ma.” Ucap Naomi kemudian, sesuai kesepakatan mereka, Naomi akan pura-pura hamil selama Monita hamil.
“Apa? Benarkah? Kamu hamil?” Wajah Nancy semakin berseri-seri, gurat senyum terus terpancar dari bibirnya.
Sedangkan pak Agam yang tampak cuek dan tengah membenarkan dasinya sontak terperanjat begitu mendengar kata hamil dari mulut Nancy, ia langsung berjalan menghampiri istrinya, ia menempelkan telinganya agar bisa mendengar lebih jelas obrolan istri dan menantunya itu dengan raut wajah berbinar.
“Iya ma, benar kalau mama tidak percaya coba tanya Mas Ilham.” Naomi pun mendekatkan ponselnya ke bibir Ilham.
“Iya ma.” Jawab Ilham lalu kemudian mendengus, sebenarnya ia kurang setuju dengan ide Naomi barusan, hanya saja dia sudah tidak bisa membantahnya lagi karena sudah terlanjur setuju dari awal.
“Alhamdulilah, akhirnya nak… mama dan papa senang sekali, kalau begitu mama mau ke sana, mama mau menemui kamu nak.”
“Kapan saja waktu mama, mama bisa ke sini.” Jawab Naomi.
“Kebetulan hari ini papa sibuk dan tidak ada yang bisa mengantar mama, jadi mama ke sana besok ya nak.”
“Iya ma boleh, Naomi akan menghidangkan makanan kesukaan mama.”
“Ah tidak tidak sayang, justru mama yang akan membawa makanan kesukaan kamu, pokoknya mulai sekarang, kamu jangan memasak ya, jangan melakukan banyak hal yang hanya akan membuatmu lelah, tugas kamu hanya menjaga cucu mama dan papa dengan baik, selama dalam kandungan.” Jelas Nancy mulai protektif.
“Ya sudah ma kalau begitu, Naomi menurut saja, Naomi dan mas Ilham menunggu kedatangan mama dan papa, pokoknya mama dan papa harus jadi datang besok ya.”
“Siap sayang.”
“Eh tapi, kenapa setelah dua bulan baru kamu bilang sama mama kalau kamu sudah hamil?” Tanya Nancy berhasil membuat Naomi terdiam sejenak.
__ADS_1
“Iy.. iya ma, karena… karena Naomi baru menyadari kalau Naomi sudah dua bulan telat menstruasi, jadi Naomi baru tes sekarang.” Jawab Naomi sedikit gelagapan, dia lumayan kaget dengan pertanyaan mertuanya itu, namun Naomi selalu saja mendapatkan jawaban yang sekiranya tidak akan membuat Nancy curiga.
“Oh begitu, ya sudah tidak penting mama tau diawal atau tidak, yang jelas sekarang mama bahagia sekali, akhirnya kamu hamil juga, mama kan sudah bilang, jangan berkecil hati, cepat atau lambat, kamu pasti hamil lagi dan benarkan apa yang mama katakan? Kamu hamil.” Ujar Nancy dengan senyum bahagia.
“Iya ma, Naomi dan Mas Ilham juga senang sekali.” Jawab Naomi kemudian menatap Ilham yang kala itu hanya diam saja.
“Ya sudah kalau begitu mama tutup dulu ya, kamu jaga kesehatan.” Ucap Nancy lalu mengakhiri panggilan teleponnya.
Begitu selesai menelepon, Naomi melirik ke arah Ilham.
“Dia rupanya tidak senang dengan ideku ini, tapi terserah lah yang penting dia tidak protes.” Gumam Naomi dalam hati sembari menatap Ilham yang kala itu hanya diam mematung.
“Emm mas..”
“Ya.”
“Belum mau ke kantor?”
“Iya, aku akan ke kantor sekarang.” Jawab Ilham mulai beranjak dari duduknya dengan disusul oleh Naomi yang juga ikut berdiri dan menggandeng tangan suaminya.
Mereka pun berjalan beriringan sampai di teras depan.
“Aku ke kantor dulu ya.” Ujar Ilham kemudian mengecup singkat kening Naomi.
Naomi menyalami tangan Ilham dan ia pun pamit berangkat ke kantor.
Kantor utama Anugrahjaya…
“Pagi tuan.” Suara sapaan dari para kariyawan santer terdengar.
Ilham tak menjawab sapaan dari para kariyawan yang menyapanya, suasana hatinya pagi ini agak buruk, karena Naomi yang sudah menjalankan ide yang sangat tidak ia setujui itu.
Para kariyawan dan juga kliennya sudah 5 menit menunggu Ilham di ruang rapat, begitu masuk, Ilham mengucap salam yang disambut oleh semua peserta rapat, setelah itu ia duduk di kursi kejayaannya yang berada di depan para peserta rapat, ia mulai memimpin rapat.
Satu jam kemudian, rapat berjalan lancar sesuai yang diharapkan, Ilham sudah menutup rapat dan ia bersalaman dengan klien sebagai tanda terjalinnya kontrak kerja sama antara mereka.
__ADS_1
“Terima kasih tuan Ilham, sudah memberi saya kesempatan untuk menjalin kontrak kerja sama dengan perusahaan anda.” Ucap pria paruh baya itu dengan posisi tangan yang masih bersalaman.
“Sama-sama, semoga kita bisa menjalin kerja sama dengan baik.”
“Kalau begitu, saya pamit dulu tuan, sampai ketemu nanti.” Ucap pria itu lagi sembari melepaskan tautan tangan mereka.
“Baik.” Jawab Ilham singkat.
Klien dan juga para peserta rapat yang lainnya sudah meninggalkan ruang rapat, menyisakan Ilham dan Andre di dalamnya.
“Ndre, tolong kamu jemput mereka bertiga di kampung, saya tidak bisa ikut, saya harus ke rumah Rendy untuk membereskan semuanya.” Ucap Ilham menatap serius.
“Apa tuan akan pergi sendiri?” Tanya Andre tanpak khawatir.
“Saya akan ke sana bersama anak buah kita yang lainnya, tugas kamu adalah menjemput mereka pulang ke rumah, saya sudah berjanji pada Monita untuk cepat menjemputnya, berhubung saya masih akan menyelesaikan urusanku dengan Rendy, jadi kamu saja yang ke sana.” Ucap Ilham yang mulai berdiri dari duduknya, sembari merapikan jasnya, dan berlalu begitu saja meninggalkan Andre yang masih ada di ruang rapat.
Begitu Ilham memeberi Andre perintah untuk menjemput Monita dan adiknya, dia langsung berangkat dari kantor tanpa mampir lebih dulu ke apartemennya.
Andre terus melajukan mobilnya meninggalkan jalanan kota yang nampak begitu ramai, kini ia kembali memasuki jalanan sepi menuju desa tempat tinggal Monita.
Entah kenapa, perasaan aneh kembali muncul dalam hati Andre, ia merasa senang akan segera menjemput Eden tinggal ke kota, sehingga dia bisa melihat Eden kapan saja.
Rupanya Andre mulai jatuh hati pada gadis belia itu, namun sayangnya Andre belum menyadarinya.
Kini mobilnya melesat semakin jauh hingga tak terasa, ia sudah menempu dua jam perjalanan dan kini ia sudah sampai tepat di pekarangan rumah Monita.
Mereka bertiga sudah siap-siap untuk berangkat, sedangkan Monita sudah duduk di depan rumah menunggu kedatangan Ilham yang akan datang menjemputnya.
Begitu melihat mobil Ilham terparkir sempurna di depan rumahnya, Monita tampak antusias, ia berdiri dan menanti suaminya yang akan datang menghampirinya, dengan senyum sumringah.
Detik berikutnya, senyuman Monita seketika pudar saat tidak melihat Ilham turun dari mobil, raut wajahnya mendadak jadi sendu.
“Ndre, Mas Ilham mana?” Tanya Monita begitu Andre berdiri di hadapannya.
“Tuan muda sedang sibuk nona, dia tidak bisa datang, dia hanya menugaskan saya seorang untuk datang menjemput kalian bertiga.” Jawab Andre.
__ADS_1
“Ada apa dengan dia? Kenapa aku merasa jika akhir-akhir ini dia seperti menghindariku, semalam dia tidak membalas pesanku, sekarang dia tidak menjemputku.” Gumam Monita dalam hati dan tersenyum getir.