
“Sayang…” Panggil Ilham begitu mendapati wanita pertamanya sedang berdiri di balkon kamar dengan posisi membelakangi Ilham.
Namun Naomi tak menggubris panggilan itu, ia terus menatap kosong ke depan dengan mata yang berkaca-kaca.
Alih-alih membuatnya senang, suara dan juga kehadiran suaminya justru membuat hatinya semakin teriris, wanita mana yang bisa tersenyum saat menunggu suaminya semalaman ini yang diketahuinya sedang bersama wanita lain.
Sakit yang Naomi rasakan tak terelakkan lagi, bisa dipastikan suami dan juga madunya sudah menghabiskan malam bersama, seketika rasa insecure menyeruak jauh ke dalam hati wanita cantik itu, semenjak mengenal Monita, suaminya sudah tidak pernah menyentuhnya lagi.
“Sayang.” Seru Ilham begitu dia sudah berdiri tepat di belakang Naomi, dan tanpa aba-aba Ilham memeluk erat pinggang Naomi dari belakang.
Ilham membenamkan wajahnya di pundak Naomi dan memeluk sang istri dengan hangat.
“Senang ya mas, bisa dengan leluasa berduaan dengan istri muda.” Sindir Naomi masih dengan tatapan kosong, buliran bening kini sudah membasahi netranya.
Merasa dirinya disindir, Ilham membalikkan tubuh Naomi agar bisa berhadapan dengannya, ia merengkuh kedua bahu wanitanya itu dengan lembut dan menatap lekat-lekat ke dalam manik mata sang istri.
“Maafkan aku sayang.” Hanya kata itu yang mampu Ilham ucapkan, ia tidak bisa lagi membohongi Naomi lebih jauh.
Naomi memejamkan matanya sejenak, ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, kali ini Naomi ingin membuktikan apakah Ilham masih mencintainya atau tidak, hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya.
“Mas… aku ingin kita mencoba hal yang sudah tidak pernah lagi kita lakukan.”
“Mak.. sud kamu, hal apa sayang?” Tanya Ilham dengan sedikit terbata-bata.
“Aku ingin kita melakukan hubungan itu lagi.”
Jleb…
Pikiran Ilham melayang-layang, Naomi menuntut jatah yang sudah tidak pernah ia salurkan selama ini, merasa tidak adil karena sudah tidak pernah memberikan nafkah batin pada istrinya itu, Ilham pun terpaksa mengiyakan apa yang menjadi keinginan hati Naomi.
Detik berikutnya, Ilham tersenyum menggoda, dengan sigap ia membopong tubuh Naomi ala bridal style dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang king size itu.
Ilham menatap lekat wajah istri pertamanya yang masih terlihat cantik itu, ia membelai lembut wajah hingga lengan mulus Naomi.
Tak butuh waktu lama, Ilham mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Naomi, memangkas jarak di antara mereka, kemudian Ilham mendekatkan b*b*rnya ke b*b*r Naomi, semakin dekat hingga akhirnya penyatuan b*b*r pun terjadi.
Naomi yang agresif tak mau tinggal diam, ia merubah posisinya jadi di atas, berniat ingin menguasai permainan.
Istri pertama Ilham itu melepas pak*an Ilham satu persatu begitu pun dengan pak*annya, kini tubuh mereka sudah sama-sama polos.
__ADS_1
Naomi tampak agresif karena mungkin sudah lama tak mendapatkan jatah, mungkin karena kebutuhan biologisnya sudah tidak terpenuhi selama beberapa bulan terakhir ini, jadi dia terlihat binal dan liar saat melakukan pemanasan.
Namun sudah lumayan lama rasanya dia melakukan pemanasan, Ilham tidak turn on juga, seketika Naomi mengerutkan alis, kenapa Ilham mendadak jadi impoten? Tak lama mood Naomi jadi rusak begitu dia memainkan milik Ilham dengan durasi yang sudah sangat lama namun tetap tak bangkit juga.
Naomi pun beranjak dari tubuh Ilham dan memunguti pakaiannya lalu mengenakannya, sedangkan Ilham semakin merasa tak enak saat melihat Naomi yang sudah menyerah sebelum bertempur.
Ada apa dengan junior Ilham? Padahal semalam bersama Monita, dia baik-baik saja, dan selalu turn on setiap kali mendekati Monita, namun begitu bersama Naomi, juniornya tiba-tiba layu dan tak bereaksi.
“Sialan, kamu kenapa sih? Lihat tuh, kan dia jadi marah.” Seru Ilham pada juniornya sendiri.
Tak lama, Ilham ikut bangkit dari tempat tidur dan memakai pak*annya yang sudah berserakan di lantai, ia pun mengayunkan kakinya menuju balkon tempat Naomi berdiri.
“Maafkan aku sayang.” Ucap Ilham sembari mengusap lembut kedua pundak Naomi.
“Tidak apa-apa.” Naomi balas mengusap punggung tangan Ilham yang merengkuh pundaknya sembari tersenyum getir.
Naomi membalikkan tubuhnya jadi menghadap Ilham, dan menggenggam kedua tangan suaminya, ia menatap Ilham dengan senyuman tipis yang menghiasi wajah manisnya.
“Apa bersama Monita, mas juga susah turn on seperti ini?”
Deeggg….
“Emmmm, aku….” Tiba-tiba ucapan Ilham terpotong karena dering ponselnya yang ada di atas nakas.
Ilham melirik singkat ke arah nakas, bunyi ponsel itu menjadi penyelamat baginya untuk tidak menjawab pertanyaan Naomi sekarang.
“Sayang, aku angkat telepon dulu ya.” Ucap Ilham sembari melepas tautan tangan mereka.
“Iya mas.”
Ilham pun melangkah menuju nakas lalu dengan sigap meraih ponselnya dan menggeser icon hijau di layar ponselnya dan menjawab panggilan tersebut.
“Halo ma.”
“Kamu di mana?”
“Di rumah, kenapa ma?”
“Sebentar malam dinner yuk, ajak Monita ya.”
__ADS_1
“Hah? Ta… tapi ma.”
“Tidak ada tapi tapi, pokoknya kamu harus ajak Monita juga, dia masih ada di rumah kalian kan?”
“Tidak ma.” Jawab Ilham ragu-ragu, dia tidak berani menyebut nama Monita karena saat ini, Naomi sudah berada di sampingnya.
“Tidak? Maksud kamu, Monita sudah kembali ke rumahnya? Suaminya sudah pulang?”
“Iy…iya ma.”
“Kalau begitu pas sekali, kamu ajak suaminya juga, biar sekalian kenalan sama mama dan papa.”
Deegg..
Jantung Ilham berdetak kencang, suami Monita yang mana coba? Pasalnya suami Monita itu adalah dirinya, dia harus menghadirkan lelaki mana lagi untuk dijadikan suami Monita, pria itu tidak rela jika Monita harus diakui sebagai istri orang di depan matanya, Ilham jadi keki sendiri.
“Ham? Kenapa diam? Mama itu sengaja mau ajak dia karena mama sudah janji padanya kalau mama akan menganggap dia sebagai anak mama juga seperti kamu dan Naomi, mama kasihan padanya Ham, dia tidak punya ibu jadi mama ingin menjadi ibu untuknya.” Jelas Nancy panjang lebar.
“Tapi ma, sebenarnya……” belum juga selesai Ilham bicara, Naomi segera merebut ponsel Ilham dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
“Halo ada apa ma?”
“Naomi? Ilham tadi ke mana?” Nancy terkejut karena tiba-tiba suara Naomi lah yang terdengar.
“Emmm, ke toilet ma, kebelet katanya.”
Ilham sontak menoleh dan menatap istrinya dengan raut wajah bingung, alisnya pun saling bertaut, pandai betul istrinya ini berakting.
“Oohh pantas tadi bicaranya jadi terbata-bata tadi.”
“Iya, memangnya kenapa ma?”
“Jadi mama itu mau ajak kalian berdua dinner nanti malam, sekalian ajak Monita dan suaminya juga, kata Ilham suaminya sudah pulang ya.”
Mendengar ucapan mertuanya, senyum sinis menghiasi wajah Naomi, tiba-tiba dia menemukan sebuah ide.
“Oh itu ya ma, bisa, nanti Naomi ajak dia ya, dia pasti senang sekali.”
Ilham yang sejak tadi mendengar percakapan istri dan mamanya jadi melongo sendiri, kenapa Naomi harus setuju, apalagi rencana wanita ini sekarang? Setelah mengakui David sebagai suami pura-pura Monita, lalu sekarang apa lagi? Akan meminta David bekerja sama? Sungguh di luar nalar, istrinya ini memang suka seenaknya sendiri, tanpa harus memikirkan perasaannya.
__ADS_1