Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 116 Rahasia Naomi


__ADS_3

Begitu Ilham keluar dari kamar mandi, dia sontak terkejut melihat Monita yang tadi dikiranya sudah tidur, nyatanya sedang duduk di tepi ranjang sembari menatapnya datar.


“Sayang_”


“Mas, siapa dalang dari penyebar gosip itu?” Monita memotong ucapan Ilham dan mendadak melayangkan pertanyaan.


“Kamu dengar apa yang aku katakan tadi sayang?” tanya Ilham kemudian menghampiri istrinya dengan keadaan wajah yang masih basah karena di kamar mandi tadi ia hanya cuci muka saja.


“Jawab saja mas, tidak usah banyak bertanya.” cecar Monita dengan alis yang bertaut.


“Sebelumnya, aku mau tanya, apa kamu siap mendengarnya?” Ilham menepikan anak rambut istrinya yang sedikit mengganggu wajah.


“Siapa pun orangnya, aku ingin tau mas. Aku benci orang yang sudah tega menyebut Dikta anak hasil zina. Kalau saja aku yang mereka hina, aku tidak memusingkannya, tapi mereka menghina Dikta juga, aku tidak terima mas.” keluh Monita dengan mata yang mengembun.


“Bukan hanya kamu sayang, aku juga tidak terima dan bahkan geram sekali kala mereka menghina kamu dan juga anak kita bersamaan. Aku tidak akan pernah membiarkan penyebar fitnah itu lolos begitu saja sekali pun itu Naomi.”


Monita menatap suaminya dengan raut wajah penuh tanya, kenapa mas Ilham menyebut Naomi sebagai dalang dari kekacauan ini, apa itu hanya perumpamaan saja atau memang dia? Tapi, bukan kah dalam isu tersebut dia juga dihina? Semua pertanyaan itu timbul begitu saja dalam benak wanita ini.


“Ya, dalangnya adalah Naomi istriku. Aku bahkan tidak pernah menduga kalau dia akan berubah sekejam ini.” ujar Ilham seakan mengerti ekspresi wajah istrinya.


Hingga detik ini, rasanya Ilham tidak menyangka jika harus menyebut nama Naomi sebagai wanita kejam. Pasalnya, wanita ini adalah wanita yang pertama kali menghuni hatinya, wanita yang sudah ia percayai sampai hari ini. Naomi adalah wanita yang lemah lembut, bahkan membunuh hewan saja dia takut, apalagi membunuh manusia. Ya Ilham tidak menduga kala mendengar rencana pembunuhan yang Naomi rangkai.


Sedangkan Monita, dia terperanjat mendengarnya. Ibu dari anak Ilham itu menggeleng pelan seraya menutup mulutnya yang menganga. Bak dihantam bongkahan batu besar, benang kusut itu sudah menemukan intinya. Tapi Monita sama sekali tidak menyangka kalau pelakunya adalah Naomi. Wanita yang sudah ia anggap kakaknya sendiri, wanita yang akhir-akhir ini begitu baik padanya.

__ADS_1


Pernyataan sang suami mengoyak jiwa raganya. Dia ingin menampik, tapi itulah kenyataannya, kenapa harus Naomi? Selama ini Monita tidak pernah menaruh curiga pada wanita bersurai indah itu. Monita sudah percaya sepenuhnya pada Naomi, tapi kenyataan yang dia dengar kini sungguh berlawanan dengan ekspektasinya. Ia berlalu dari ruangan itu yang mendadak panas dalam waktu kurang dari 5 menit.


“Kamu mau ke mana sayang?” tanya Ilham kala melihat istrinya melepas genggaman tangan Ilham dari jemarinya dan hendak beranjak.


“Aku mau ke kamar Dikta mas, tolong biarkan aku sendiri malam ini.” ujar Monita denga raut wajah yang masih tampak syok.


Ilham yang mendengar itu sontak kelimpungan, dia menahan Monita agar tidak pergi. Pria itu mendadak negatif thinking, bayangan Monita akan pura-pura ke kamar Dikta dan nyatanya akan pergi meninggalkan dirinya muncul dalam benaknya. Trauma akan Monita tinggalkan masih begitu melekat dalam hatinya dan dia tidak akan membiarkan itu terjadi.


“Kamu ingin sendiri kan? Kalau begitu biarkan Dikta di sini bersamaku.” mungkin kalau Dikta tidur di kamar ini istrinya tidak akan berani meninggalkan dia, pikirnya.


“Tapi mas_”


“No sayang, biarkan Dikta tidur bersamaku malam ini, menenangkan diri tapi ada Dikta itu tidak akan membuatmu tenang karena pasti dia tidak akan membiarkan kamu tidur enak sepanjang malam.” ucap Ilham untuk mengelabui istrinya.


Monita bukan menghindari Ilham, tidak sama sekali. Ia hanya ingin menenangkan diri. Kebaikan Naomi yang ia tunjukkan dalam setahun terakhir ini membuat Monita bingung bagaimana dia harus bersikap. Naomi sudah menggiring opini keji tentang putranya, mana mungkin Monita tidak sakit hati. Dia tidak tau apa dia mampu meredam emosinya kala suatu saat nanti dia bertemu Naomi. Sejak tadi Ilham sudah berpikir bahwa mungkin Monita kecewa padanya karena dia masih mempertahankan Naomi setelah apa yang wanita itu lakukan. Sehingga pikiran untuk menceraikan Naomi muncul dalam benaknya, dan tanpa ada kebimbangan lagi, Ilham akan menceraikan wanita pertamanya itu.


****


“Aaarrgghhhh!!!” Teriak Naomi sembari mengacak-acak kamar utama. Dia melempar semua skincare yang ada di atas meja riasnya. Penampakan kamar Naomi benar-benar kacau saat ini. Naomi memang terlahir sebagai wanita playing victim, bahkan saat ini saja dia masih menyalahkan Monita atas kesalahan yang dia perbuat.


Drrrtt drrrtt drrtt


Ponsel Naomi bergetar di tengah kekalutan hatinya. Dia menatap nanar nama “hubby” di layar ponselnya.

__ADS_1


“Halo by.” jawab Naomi dengan suara seraknya, dia ingin mengadu, tapi rasanya jahat sekali jika dia harus mengadukan rasa sakit hatinya pada pria ini.


“Kamu menangis?” tanya pria yang suaranya tak asing itu.


“Ti_tidak.” jawab Naomi singkat, niatnya ingin mengadu sontak ia urungkan. Tidak mungkin dia curhat tentang suaminya pada pria yang mencintainya.


“Suaramu seperti sedang menangis.”


“Tidak sayang aku tidak menangis.”


“Awas saja kalau kau menangisi pria itu lagi, aku tidak suka Naomi.”


“Tidak, aku tidak menangisinya.” jawab Naomi dengan suara senetral mungkin agar tak terdengar bergetar, ia mengusap air matanya dan tersenyum.


“Aku rindu, aku mau ketemu, sudah tiga hari kita tidak melakukannya.” ungkap pria itu kemudian.


“Iya, mau bertemu di mana?”


“Di rumahmu saja, aku ke sana sekarang ya.”


“Ok sayang.”


Naomi mengakhiri sambungan telponnya, secepat itu hatinya terobati, bukan dia sudah melupakan Ilham sepenuhnya, pria itu masih bertahta di hatinya bahkan cintanya pada Ilham masih begitu besar melebihi cintanya pada pria itu. Namun dia hanya ingin mencari kesenangan saja dengan bermanja pada pria lain.

__ADS_1


Ya Naomi berselingkuh tanpa Ilham ketahui. Bahkan sudah tiga kali dia berani membawa pria itu ke rumah, tanpa sepengetahuan bi’ Ratih dan pelayan lainnya. Begitu apik ia menyimpan perselingkuhan itu hingga Ilham tak bisa mengendusnya, dan itu sudah berjalan sangat lama, bahkan sebelum ia meminta Ilham menikah lagi. Naomi bertemu lagi dengan pria itu di Paris, sikap Naomi yang mudah terbawa perasaan membuat ia terbuai dengan rayuan manis pria itu. Sifat plin plan yang sudah melekat dalam dirinya membuat ia tega mengkhianati pernikahannya. Bahkan ia bisa menyembunyikan semuanya dengan sangat rapi, selama ini Naomi menggunakan topeng. Perangai lembut yang selama ini dia tampilkan ternyata hanya fatamorgana belaka. Ya banyak orang tertipu mentah-mentah dengan kepribadiannya itu. Benar-benar sangat disayangkan, Ilham menikahi wanita yang tak ubahnya seorang pembual.


__ADS_2