Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 66 Mbak Naomi Sudah Berubah!


__ADS_3

Tepat pukul 12.00 siang, Monita sudah turun ke ruang makan untuk makan siang, begitu sudah berada di ruang makan, tidak ada siapa pun di sana, namun bi’ Ratih sudah menghidangkan makan siang untuk Monita.


“Ke mana Mbak Naomi?” Tanya Monita dalam hati, karena biasanya jika Naomi ada di rumah, mereka akan makan siang bersama.


Monita tau hari ini Naomi tidak ke butik, semenjak kejadian pertengkaran yang terjadi antara Naomi dan suaminya, Naomi tidak keluar-keluar kamar.


Akhirnya, Monita memutuskan untuk kembali menapaki anak tangga menuju kamar tamu tepatnya kamar Naomi.


Begitu sampai di depan pintu kamar, Monita mulai ragu saat ingin mengetuk pintu, kejadian tadi pagi membuatnya enggan untuk bicara dengan Naomi, kata-kata Naomi tadi pagi benar-benar menjadi tamparan keras baginya, benar-benar membuat dia sadar sesadar sadarnya.


Alhasil Monita hanya berdiam diri di depan pintu kamar Naomi, dia tidak berani mengetuk pintu.


Monita putar haluan, dia memilih kembali ke ruang makan, Mbak Naomi biar bibi’ saja yang memanggil.


“Bi’ Ratih, bi!” Panggil Monita begitu sampai di dapur.


“Iya nona.” Jawab bi’ Ratih bergegas menghampiri Monita.


“Bibi’ tolong panggilkan Mbak Naomi ya, Sejak pagi dia belum makan, aku takut dia sakit.”


“Baik nona, akan bibi’ panggilkan.” Ucap Bi’ Ratih menunduk, lalu berlalu dari hadapan Monita.


Monita pun mendudukkan dirinya di kursi ruang makan itu, dia belum mulai makan karena mau menunggu Naomi dulu.


Tak lama bi’ Ratih datang, lalu mengambil piring dan menyendokan nasi dan lauk ke piring itu, tak lupa bibi’ mengambil nampan lalu meletakkan sebuah makanan dan minuman di atas nampan itu, Monita yang melihat itu mengerinyitkan dahinya, karena penasaran ia pun bertanya.


“Bi’ itu makanan buat Mbak Naomi ya? Kenapa tidak makan saja di sini? Apa Mbak Naomi sakit?”


“Tidak tau nona, tadi sewaktu bibi’ memanggil Nyonya Naomi untuk makan siang, Nyonya malah menyuruh bibi’ untuk membawakan makan siangnya di kamar, katanya mau makan di kamar saja nona.” Jelas bi’ Ratih dengan nada sopan.


“Begitu ya bi? Ya sudah kalau begitu bibi’ antarkan saja makanan itu, lalu kembali lagi ke sini, temani aku makan.”


“Baik nona.” Bi’ Ratih pun berlalu sembari membawa nampan berisi makanan ke kamar Naomi.


“Ada apa dengan Mbak Naomi? Apa dia benar-benar ingin menghindariku? Ya Tuhan aku benar-benar tidak enak dengan Mbak Naomi, bagaimana ini?” Batin Monita dengan wajah sendu.


Detik berikutnya bi’ Ratih datang, Monita mempersilahkan bi’ Ratih duduk lalu mereka makan siang bersama dengan damai.


Begitu makan siang berakhir, Monita hendak ke kamarnya lagi, dia berjalan menapaki anak tangga menuju kamar utama, begitu sampai di depan kamar, dahi Monita mengkerut, kamarnya sedikit terbuka.


“Siapa yang di dalam?” Tanya Monita lirih.


Ia pun mengayunkan kakinya menuju kamar, begitu sampai kamar, Monita memasang raut wajah bingung saat melihat seorang wanita sedang menata pakaiannya di lemari.


“Mbak?” Naomi pun menoleh dengan wajah datarnya.


“Ada apa ya Mbak?” Tanya Monita lagi dengan nada yang sopan.


“Kamu yang ada apa?” Ketus Naomi.

__ADS_1


“Maksudnya Mbak?”


“Dari awal ini kamar saya kan? Jadi saya mau mengambil kembali kamar ini, semua barang-barang kamu sudah saya pindahkan ke kamar tamu, jadi mulai sekarang kamar tamu adalah kamar kamu, dan kamar ini adalah kamar aku dan SUAMIKU.” Jelas Naomi menekankan kata ‘suamiku’ pada Monita.


Perkataan Naomi itu seperti peringatan bagi Monita untuk menjauhi Ilham, mendengar kata mengambil kembali kamar ini, seperti peringatan keras untuk Monita kalau apa yang dimiliki Naomi sebelumnya akan dia ambil kembali, bahkan hari ini Naomi berkata begitu formal dengannya, seakan hendak membentangkan jarak yang amat panjang diantara mereka, seakan mengingatkan Monita tentang statusnya.


Akhirnya Monita pun tersenyum lirih dan mengangguk tanda mengerti.


“Baik Mbak, kalau begitu saya permisi ke kamar saya dulu.” Ucap Monita kemudian berlalu dari hadapan Naomi.


Monita pun terus berjalan menuju kamar tamu yang sudah kembali menjadi kamarnya itu, dia membuka gagang pintu dan masuk ke dalam kamarnya.


Begitu masuk, Monita mengedarkan pandangannya, kamar yang benar-benar asing namun masih tampak aesthetic, meski pun tak seluas kamar utama, tapi cukup membuat Monita nyaman, toh sebentar lagi dia akan pindah dari sini, pikirnya.


Tak lupa Monita mengirim pesan pada Eden kalau dia sudah pindah kamar, jadi bila Eden ingin ke kamar Monita, Eden tidak akan salah kamar.


“Den, kakak sudah pindah kamar, kamar kakak di kamar tamu lantai atas sekarang, kakak memberitahukan ini supaya kamu tidak salah masuk kamar kalau mau bertemu kakak.”


“Kenapa kakak bisa pindah kamar?”


“Kamar kakak yang dulu itu kamar utama, kamar milik Mbak Naomi dan Mas Ilham, dan sekarang Mbak Naomi kembali menukar kamar kami.”


“Kakak ada masalah dengan kak Naomi?” Tanya Eden curiga.


“Tidak ada masalah apa-apa, sudah ya Den tidak usah dibahas, kakak mau tidur siang dulu.” Pesan pun berakhir.


“Aku yakin kak Monita dan kak Naomi ada masalah, aku sangat hafal siapa kak Monita, kalau ada masalah dia tidak akan cerita.” Gumam Eden dalam hati.


Eden pun jadi cemas dengan kakaknya itu, dia takut Monita stres dan berpengaruh pada kandungannya, dia juga tidak akan terima kalau sampai Naomi berbuat jahat pada kakaknya itu, kalau sampai itu terjadi, Eden tidak akan tinggal diam, feelingnya mengatakan kalau sedang terjadi masalah antara kakaknya dan Naomi.


Sementara di tempat lain, tepatnya di kantor utama Anugrahjaya, Ilham akan mengadakan meeting dengan David di cafe tempat mereka biasa mengadakan meeting, sekalian makan siang.


Karena mereka akan pulang telat dan Eden tidak ada yang menjemput, seperti biasa, Ilham menyuruh Andre untuk menjemput Eden dan Andre pun menyanggupinya, Ilham pun memperbolehkan Andre pulang, karena semalam, Andre pasti kelelahan, ia begadang karena harus menyelesaikan beberapa laporan keuangan di perusahaan Anugrahjaya.


“Ingat ya Ndre, hanya jemput dan bawa pulang, jangan mampir ke mana-mana lagi.” Ucap Ilham memperingatkan.


“Siap tuan.” Jawab Andre sembari mengulum senyumnya.


“Kau semangat sekali ya kalau aku menyuruhmu menjemput Eden, awas ya kau berani macam-macam.”


“Tidak tuan, saya tidak berani.”


“Ya sudah cepat kau jemput dia, sepertinya dia sudah pulang.”


“Baik tuan, saya pamit.” Andre pun berlalu meninggalkan Ilham sendirian di ruang pribadinya.


****


Eden duduk di halte depan sekolah bersama dua temannya yaitu Riri dan Indra, tiga bulan berada di sekolah itu Eden sudah mendapatkan teman, tak lama kemudian sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan halte.

__ADS_1


“Ayo!” Ajak Andre begitu dia menurunkan kaca mobilnya.


“Kak Ilham mana?”


“Ada meeting, dia menyuruku aku untuk menjemputmu.”


Mendengar kata ‘aku’ dari Andre membuat seseorang bertanya-tanya dalam hati, panggilan aku kamu? Berarti mereka sudah dekat atau bahkan sudah berpacaran, kata tanya itu timbul dalam benak seorang lelaki seumuran Eden yang ternyata juga menyimpan cinta terpendam untuk Eden, siapa lagi orang itu kalau bukan Indra, salah satu teman dekat Eden di sekolah.


Begitu Eden ingin masuk mobil, langkah Eden tertahan karena Indra memanggilnya.


“Ada apa Ndra?” Tanya Eden begitu dia menoleh.


“Den itu siapa?”


“Oh dia tangan kanan sekaligus sekretaris pribadi kakak ipar saya, memangnya kenapa Ndra?”


Indra terdiam sejenak, Eden tidak bilang kalau pria itu adalah crush Eden, itu artinya belum ada yang spesial dalam hubungan mereka, tapi panggilan aku kamu itu? Ah sudahlah, itu tidak penting selagi janur kuning belum melengkung, itu tandanya Eden tidak ada yang punya, pepatah itu membuat Indra tidak gentar sedikit pun dalam memperjuangkan cinta Eden, hanya saja dia masih belum berani mengutarakan perasaannya langsung, karena Indra benar-benar malu dan belum siap.


“Ndra? Hei kenapa diam saja?” Tanya Eden yang sontak membuyarkan lamunan Indra.


“Eh maaf, kalau begitu hati-hati di jalan ya.” Ucap Indra basa basi, Eden pun mengangguk lalu langsung memasuki mobil yang ada Andre di dalamya.


“Daaa sampai ketemu besok ya.”


“Iya hati-hati ya Den.” Jawab Riri.


“Ok!”


Sementara Eden, dia memperkenalkan Andre hanya sebagai tangan kanan Ilham itu bukan apa-apa, hanya saja dia belum yakin kalau Andre juga menyukainya atau tidak, jadi dia belum mau mengakui Andre sebagai orang spesial dalam hidupnya.


“Emmm…. Den?” Panggil Andre begitu mereka sudah di perjalanan.


“Ya.”


“Kita mampir ke cafe dulu yuk, makan siang.”


“Kak Andre lapar?”


“Iya, tapi aku juga hanya ingin makan siang berdua denganmu.”


Mendengar itu, pipi Eden bersemu merah, di tengah kekalutannya dalam memikirkan kakaknya, Eden sedikit terhibur dengan adanya Andre di sisinya.


“Baik, kalau begitu kita makan di cafe x saja bagaimana? Itu cafe favorit aku bersama kak Monita, kalau senggang, aku dan kak Monita sering makan berdua di sana.”


“Ok, siap laksanakan tuan putri.” Ucap Andre melirik singkat ke arah Eden dan mengulas senyum.


“Duh senyumnya…” Eden tampak terkesima.


Andre pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membela keramaian kota, untung saja tidak ada macet, jadi mereka bisa sampai di cafe tersebut tepat waktu.

__ADS_1


__ADS_2