
Seminggu setelah keluar rumah sakit Rosa tak ingin diam lagi. Selesai berkemas, wanita cantik dengan tinggi semampai itu ingin terbang ke negeri paman Sam demi menyusul kedua orang tuanya.
Orang tua Rosa sudah beberapa bulan ini menetap di sana, mereka hanya datang untuk menjaga Rosa selama di rumah sakit kemudian pergi lagi setelah dua hari Rosa berada di rumah sakit, karena kesibukan demi kesibukan yang mereka geluti mereka mempercayakan Rosa pada David. Rosa tidak berterus terang pada orang tuanya perihal apa yang terjadi sebenarnya wanita itu takut akan balik disalahkan karena sudah berani mengusik keluarga Adhitama yang namanya begitu tersohor di negeri ini.
Tanpa orang tua Rosa tahu, kemarin David sudah pergi meninggalkan Rosa sendirian. Pria itu tidak datang juga hingga dokter mengizinkan Rosa pulang seminggu yang lalu. Sudah tidak ada lagi bodyguard Ilham di sana karena secara nyata pria itu sudah membebaskan Rosa.
Wanita itu sebenarnya menunggu, tapi hingga satu jam meyakini bahwa David tidak akan datang, Rosa beranjak dari kamarnya lalu berjalan keluar untuk menunggui taxi di halte yang tak jauh dari rumahnya, ingatan Rosa kembali tertuju pada David. Satu fakta tentang David yang sukses membuat Rosa berdesir, walau sekecewa apapun David masih ingin membayar biaya pengobatan Rosa.
Rosa duduk sendirian di halte, tubuhnya terasa lelah dan dia ingin segera bertemu mamanya.
Begitu Rosa hendak menunggui taxi, tak disangka tiba-tiba seseorang membekap mulut Rosa dari belakang dan menyeretnya ke dalam mobil.
****
Kelahiran anak kedua Ilham dan Monita merupakan karunia bagi keluarga Adhitama. Saat ini kediaman Adhitama nampak ramai dengan diadakannya aqiqah untuk buah hati mereka.
Banyak yang Ilham undang, termasuk diantaranya beberapa kolega dan rekan bisnisnya.
Malaikat kecil yang diberi nama Devano Maheswara Adhitama tampak tenang selama acara. Ilham menggunakan baju koko dan peci yang tampak membuatnya semakin menawan, begitu pun dengan Monita yang terlihat anggun dengan abaya dan hijabnya.
Sesempurna ini seorang Ilham untuk Monita, begitu pun dengan Ilham yang selalu menganggap Monita istri sempurna. Cinta yang berawal dari sekedar bayar rahim, berakhir menjadi pelabuhan terakhir cinta seorang Ilham.
“Terima kasih sudah mau mencintaiku.” Ucap Ilham begitu serangkaian acara selesai.
“Terima kasih kembali karena mas juga mau mencintaiku.”
__ADS_1
“I love you Mon, mas sangat sangat mencintai kamu.”
“Demi Tuhan aku juga mencintaimu papa Dikta dan Devano.” Jawab Monita dengan mata membasah sebelum kemudian Ilham menariknya dalam dekapan.
Disaat mereka tengah bahagia, di tempat lain Rosa justru kembali terjebak di rumah bordil tepatnya di kamar mami Bela. Wanita itu menatap murka Rosa yang kini sedang duduk di tepi ranjang kamarnya.
“Dari mana saja kamu?! Mami mencarimu Rosa, banyak sekali klien yang terpaksa harus pulang karena kau tidak ada. Mereka tidak ingin ladies yang lain, mereka cuma mau kamu Ros!” Tutur mami Bela meninggi, dia benar-benar muak melihat Rosa yang bikin sakit kepala.
Tidak pernah membangkang, tapi sekalinya membangkang, mampu membuat seorang Bela ketar ketir dan merasakan emosi yang tak terbendung.
“Aku sakit mam, dan dirawat di rumah sakit selama seminggu.”
“Kenapa kau tidak mengabari mami? Kalau begitu kan mami bisa meminta para klienmu menunggu hingga kamu sembuh.”
Rosa menatap datar wajah mami Bela yang menurutnya sangat menjengkelkan itu. Dalam keadaan seperti itu, mami Bela masih saja mementingkan egonya untuk memikirkan klien-klien haus belaian itu. Padahal Rosa hampir mati, alih-alih menanyakan kabar Rosa, perempuan itu malah memikirkan perasaan pelanggannya. Benar-benar tidak menggambarkan seorang bos yang solid.
“Apa katamu?! Berhenti? Rosa, kamu gila ya. Kamu pikir semudah itu mami bisa mendapatkan primadona seperti kamu? Hanya kamu pengganti Monita yang pantas diandalkan Rosa, mami tidak akan mengizinkan kamu berhenti.” Mami Bela ketar ketir, bagaimana pun Rosa adalah sumber uangnya. Tidak adanya Rosa selama dua minggu saja sudah berhasil membuat pendapatan club itu menurun, bagaimana kalau sampai Rosa benar-benar hengkang? Membayangkan saja mami Bela tidak sanggup.
“Tapi aku ingin berubah mam, aku ingin menjadi wanita baik-baik!”
“Baik-baik apanya Rosa? Kau ingin berubah di saat tubuhmu sudah terlanjur kau jajahkan sana sini? Terlambat! Tidak ada pria yang mau menerima kamu apa adanya.” Mami Bela berdecih, dia meremehkan Rosa yang sudah beberapa kali terjamah.
“Bahkan Monita saja lebih baik darimu, gadis itu meninggalkan club ini dalam keadaan suci oleh karena itu seorang presdir mau membelinya dengan harga fantastis. Sedangkan kau? Jangan kan seorang presdir, security saja tidak sudi mempersunting kamu. Pelacur seperti kamu tidak pantas mengharapkan pangeran berkuda putih datang menjemputmu, karena hanya ada pria bermobil putih yang akan datang menyewamu setiap malamnya Rosa, kamu harus sadar itu.”
Lengkap sudah kekesalan Rosa pada mami Bela, sebegitu rendahkah dia di mata orang-orang? Tapi Rosa tidak peduli, walau pun tidak ada yang mau menikahinya, Rosa tetap ingin keluar dari tempat ini.
__ADS_1
“Aku tetap ingin keluar dari sini meski tidak seorang pun pria yang mau melirikku mami.”
“Benar-benar keras kepala! Jangan harap kau bisa keluar dari sini Rosa! Pintu depan dan belakang sudah dijaga beberapa pengawal mami. Jadi kamu tidak bisa lari ke mana-mana.”
“Mami benar-benar kejam! Mami tidak bisa memaksakan kehendak mami seperti ini, mami tidak berhak merampas hak asasi saya!” Bentak Rosa namun tetap nekat keluar dari kamar itu.
Mami Bela tersenyum smirk, dia yakin Rosa tidak akan lolos dari tempat itu karena penjagaan sudah diperketat agar Rosa tidak bisa kemana-mana.
Rosa berjalan dengan langkah panjang menuju pintu belakang seraya menyeka air matanya. Rosa tidak kehabisan akal, dia membawa sebilah kayu untuk menyerang anak buah mami Bela jika mereka menghadang jalannya.
Sungguh Rosa tak menyangka dia akan menghadapi ini sendirian. Walau rasanya mustahil, tapi Rosa tetap nekat ingin keluar dari tempat itu, tak peduli jika dia harus mati sekalian. Mungkin lebih baik begitu, alangkah baiknya kalau dia mati dari pada harus kembali menyerahkan diri dan menjadi santapan pria hidung belang yang menginginkan tubuhnya.
Benar saja, begitu sampai di pintu belakang, beberapa orang berbadan kekar yang merupakan penjaga di rumah Bordil itu sedang berdiri di sana seraya menatap Rosa dengan tatapan yang luar biasa tajam.
Nyali Rosa tidak ciut sama sekali meski mereka sudah segarang itu. Tatapan tajam mereka dibalas juga dengan tatapan tajam oleh Rosa.
Dengan langkah panjang, wanita itu menghampiri mereka.
“Minggir!”
“Tidak akan!”
“Minggir kataku!” Rosa memberontak dengan memukul kepala salah satu penjaga yang menghalangi langkahnya dengan menggunakan kayu di tangannya.
Namun sayangnya, mereka bisa dengan mudah meringkus Rosa begitu menyaksikan salah satu rekan mereka terluka.
__ADS_1
“Lepaskan aku brengsek!” Rosa terus meronta-ronta dengan emosi yang membuncah. Kekuatan Rosa tak sebanding dengan cekalan tangan mereka yang terlalu kuat. Bahkan salah satu pengawal yang tadinya dipukul Rosa juga ikut meringkus wanita itu.
Cukup sulit mereka meringkus Rosa karena wanita itu terus berusaha melepaskan diri. Salah satu dari mereka memikul tubuh Rosa bak karung beras. Belum sempat mereka membawa masuk Rosa, seseorang yang tak dikenal datang dan menghentikan langkah mereka. Pria asing itu sama sekali tak mereka kenal, namun mendengar suara itu Rosa menarik sudut bibirnya.