
Tepat pukul 07.00 malam Monita sudah sampai di restoran yang di sharelock David, kebetulan hari ini Ilham lembur, jadi Monita bisa dengan leluasa pergi tanpa harus menghadapi Ilham dengan berbagai pertanyaannya.
Malam ini Monita tampil mempesona dengan long dress putih yang flowy, dress tersebut didominasi motif bunga-bunga cantik yang membuat Monita terlihat anggun dengan rambut yang dibiarkan tergerai.
David sudah menunggu Monita di ruang VVIP, ia melihat Monita dari pintu masuk, begitu masuk, Monita tidak mendapati siapa pun duduk di sana selain David, rupanya David sudah menyewa ruangan itu khusus untuk mereka berdua, David ingin mengadakan dinner romantis bersama Monita.
“Haii Mas David.” Monita malambaikan tangan ke arah David dengan wajah sumringah.
David pun membalas lambaian tangan Monita, tak lama Monita menghampiri David yang sudah setia menunggu kedatangannya.
“Aku lama ya?” Tanya Monita dengan wajah berseri-seri.
“Lumayan.” David tersenyum lalu beranjak dari duduknya, menuju kursi yang ada di depannya, menarik kursi tersebut dan mempersilahkan Monita duduk.
“Silahkan duduk tuan putri.” Seru David dengan tersenyum hangat.
“Terima kasih.” Jawab Monita kemudian mendudukkan dirinya di kursi yang sudah David sediakan untuknya.
“Kamu sangat cantik malam ini.” Puji David yang terus memandangi Monita.
“Baru malam ini ya?” Seru Monita dengan mengulum senyum.
“Kau memang cantik Monita, tapi malam ini cantikmu bertambah berkali lipat.”
“Tapi aku tidak punya uang kecil.”
“Untuk apa?” Tanya David mengerutkan kening.
“Untuk membayar pujian yang sudah kamu lontarkan padaku.” Jawab Monita dengan tersenyum sumringah.
“Ada ada saja.” Ujar David tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Oh ya, slamat ulang tahun, maaf aku tidak bawah hadiah, aku tidak tau apa kesuakaanmu.”
__ADS_1
“Tidak apa, kan sudah aku bilang, hadiahku adalah kamu datang ke sini menemaniku makan malam.”
Baru kali ini David tersenyum sebegitu bahagianya, maklum David hidup dari keluarga broken home, sejak David kecil orang tuanya sudah bercerai, dan David memilih tinggal sendiri dan mengelolah perusahaan ibunya yang sudah ibunya berikan padanya, kini David menjadi CEO di perusahaan keluarga ibunya dan menjadi rekan bisnis Ilham.
Tak lama, tiga pelayan datang dengan membawa berbagai jenis makanan, mulai dari buah-buahan, kue, ice cream dan steak daging.
“Banyak sekali makanannya, aku tidak yakin bisa menghabiskan semua makanan ini, aku sudah makan banyak sore tadi dan rasanya sampai sekarang perutku masih kenyang.” Ujar Monita melirik makanan-makanan itu dengan tak bersemangat.
“Ya sudah makan yang ringan-ringan saja.” Jawab David memberi saran.
“Baiklah kalau begitu saya akan lebih dulu makan ice cream.” Ujar Monita lalu meraih ice cream, Monita meraih ice cream lebih dulu karena hanya makanan itu yang ada di dekatnya sekarang, sedangkan makanan yang lain diletakkan di tempat yang sedikit jauh untuk Monita jangkau.
Begitu Monita memasukkan beberapa suap ice cream ke mulut, saat sudah suapan ke 3, Monita merasakan sedang menggigit sesuatu yang keras, rupanya ada sesuatu berupa benda yang tercampur di ice cream itu, dia segera mengeluarkan benda tersebut dari dalam mulutnya, dan alangkah kagetnya Monita benda itu adalah cincin berlian.
“Loh? Kenapa ada cincin berlian di makanan ku? Ini pasti pelayannya tidak teliti.” Tukas Monita dengan polosnya, dia lumayan kesal dan menganggap kalau cincin itu adalah milik pelayan di dapur.
“Saya akan mengembalikan cincin ini pada pelayan-pelayan di dapur itu, dan menegur mereka agar lebih hati-hati lagi, bagaimana kalau sampai tertelan coba, ada ada saja.” Geram Monita mulai beranjak dari tempat duduk.
“Kenapa harus marah-marah, itu bukan cincin pelayan di sini, dan itu juga bukan keteledoran mereka.” Ucap David dengan tersenyum lebar, dia merasa lucu dengan tingkah Monita yang menurutnya kelewatan polos.
“Kenapa Mas David bisa tau kalau cincin ini bukan milik mereka?” Tanya Monita sembari menunjukkan cincin berlian yang ada di tangannya.
“Itu memang aku yang minta.” Jawab David dengan raut wajah tenang.
“Hah? Ini cincin Mas David?”
“Itu cincin kamu.” Jawab David yang kini menatap Monita dengan tatapan hangat.
“Ta.. tapi dalam rangka apa Mas David memberiku cincin?”
“Dalam rangka melamarmu, Monita dengarkan aku.” Kini David menatap Monita dengan tatapan serius, ia meraih tangan Monita dan menggenggamnya, Monita yang masih bingung membiarkan tangannya di genggam David begitu saja.
“Jadi, saat pertama kali bertemu denganmu di Swiss tempo hari, aku sudah mulai tertarik padamu, lalu kita kembali bertemu di bandara, aku semakin senang saat tau kalau ternyata kamu adalah sepupu Ilham, rekan bisnisku, jadi menurutku itu peluang bagus, aku bisa tau tempat tinggalmu, setiap hari aku selalu teringat denganmu, aku baru sadar ternyata aku sudah jatuh hati padamu.” David menjeda ucapannya sejenak.
__ADS_1
“Aku adalah pria yang hidup tanpa orang tua, aku kesepian, orang tuaku bercerai sejak aku kecil, lalu aku memutuskan untuk tinggal sendirian dan mengelolah bisnis milik keluarga ibuku, aku pikir mengajakmu pacaran bukan keputusan yang tepat, jadi aku langsung mengajakmu menikah saja, jadi cincin itu sengaja aku persiapkan untuk memberimu kejutan, maafkan aku ya, kamu jadi kaget dan salah paham tadi.” Lanjutnya sembari mengusap lembut punggung tangan Monita.
Monita masih melongo mendengar semua pernyataan David, dia tidak mengirah kalau David ternyata ingin melamarnya, selama ini dia hanya menganggap David sebagai teman.
“Monita!” Panggil David dengan nada lembut, membuyarkan lamunan Monita.
“Ya?” Monita terperanjat, dan menatap David dengan kikuk, tiba-tiba suasana jadi canggung, Monita jadi tidak nyaman setelah mengetahui isi hati David untuknya.
“Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, sampai kapan pun aku akan menunggu jawaban kamu, tidak harus malam ini, pikirkan saja dulu.”
“Iya Mas, aku belum punya jawabannya sekarang.” Jawab Monita sembari melepaskan tautan tangannya dari David.
Monita belum menjawab lamaran David bukan karena Monita mempertimbangkannya, Monita jelas-jelas akan menolaknya, tapi Monita hanya tidak enak saja kalau harus menolak secara langsung lamaran David untuknya, dia hanya tidak ingin merusak moment ulang tahun David malam ini.
Makan malam berakhir dengan damai, sudah tidak ada lagi percakapan di antara mereka, semenjak David menyatakan cinta untuknya, suasana jadi canggung, Monita jadi semakin sungkan dengan David, dia yang awalnya selalu bercanda dengan David kini jadi pendiam, sungguh dia tidak menyangka orang kaya seperti David, seorang CEO menyatakan cinta kepadanya, yang notabennya adalah wanita biasa, bukan dari kalangan orang berada.
Selesai makan malam, Monita meminta David untuk mengantarkannya pulang, David pun mengantarnya pulang, tak lama mobil David sudah melesat sempurna di depan gerbang rumah Ilham.
“Terima kasih traktirannya ya Mas.” Ucap Monita dengan senyuman canggung.
“Jangan sungkan, seharusnya aku yang berterima kasih karena kamu sudah bersedia menemaniku.”
“Baiklah, aku ikut masuk ya, aku mau pamit pada Ilham dan Naomi, sekaligus biar mereka bisa melihat kalau aku mengantamu dengan selamat.” Ucap David sembari mulai melepas sabuk pengaman namun buru-buru Monita mencegahnya.
“Tidak perlu Mas! Emmm Mas Ilham dan Mbak Naomi sedang tidak ada di rumah.” Sergah Monita berbohong.
“Kalau begitu lain kali saja ya, aku ingin menemui keluarga terdekatmu dulu, baru mau menemui ibumu di desa.”
“Tidak usah terburu-buru seperti itu.”
“Ya sudah aku masuk duluan ya Mas.” Monita melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil.
Begitu sampai depan rumah, Monita bernapas lega, untung saja Ilham belum pulang dari lemburnya, mobilnya belum kelihatan terparkir di garasi, akhirnya ia memutuskan untuk masuk dan mengganti pakaiannya untuk tidur.
__ADS_1