
Naomi yang mengetahui usia kehamilan Monita, ikut menyesuaikan juga, dia pun mengakhiri kepura-puraannya dengan membayar seorang dokter wanita yang merupakan rekan lamanya semasa sekolah, ia mengajak Ilham untuk menjalani kebohongan ini sekali lagi, awalnya Ilham menolak karena ia sudah terlalu jauh membohongi orang tuanya demi memenuhi keinginan istrinya, namun apa daya, Naomi tipe orang pemaksa, sehingga Ilham dibuat tak berdaya begitu Naomi memaksanya untuk melakukan kebohongan itu sekali lagi.
Karena Monita sudah pergi entah ke mana dan tidak memberikan anaknya pada Naomi dan juga Ilham, kali ini Naomi akan berakting seolah-olah anaknya sudah meninggal.
Seperti hari ini, Naomi sedang berada di rumah sakit, dia mengabari kedua mertuanya begitu anaknya sudah dikuburkan, bahkan Naomi juga membuat kuburan palsu anak pura-puranya yang tentu saja kuburan itu kosong tidak ada isinya.
Namun sebelum kedua mertuanya datang, Naomi sudah mengabari kalau anak yang ia kandung selama ini sudah meninggal dan kini sudah dikuburkan, bu Nancy dan juga pak Agam begitu syok mendengarnya, lagi-lagi mereka kehilangan cucu pertama mereka untuk kedua kalinya.
Kedua orang tua Ilham tampak terpukul, namun sebagai orang tua yang baik, layaknya mertua idaman, mereka mencoba menyembunyikan kesedihan mereka di depan Ilham dan Naomi, semua itu tentu untuk menghibur mereka, karena dalam hal ini yang paling terpukul sebenarnya adalah Naomi selaku ibunya.
Begitu apiknya Naomi merancang kebohongan demi kebohongan tersebut, hingga berhasil membuat mertuanya percaya seratus persen padanya.
Kedua orang tua Ilham, selalu berkunjung ke rumah sakit demi merawat dan menghibur Naomi yang baru saja kehilangan anak bohongan itu, hingga tepat seminggu sudah Naomi diperbolehkan pulang oleh dokter bayarannya.
Malam harinya, ketika Naomi sedang meringkuk di balik selimut, Ilham berdiri di balkon kamarnya.
Ilham menatap langit yang gelap, ia tidak tau bahwa akan sesulit ini ternyata mencari Monita, pria itu ingin tau bagaimana kabar istrinya? Bagaimana kabar anaknya? Apa mereka berkekurangan? Apa mereka punya tempat untuk berteduh? Apa mereka…. Ah Ilham mengusap wajahnya dengan berat, seberat rindu yang ia rasakan.
Pagi hari, suasana rumah Ilham sedikit ramai, karena mama Nancy sedang berkunjung, dia ingin berbincang dengan menantu kesayangannya, semenjak Naomi masuk rumah sakit mertuanya itu selalu berkunjung ke rumahnya setiap hari.
Hari ini Ilham mulai masuk kantor, ia berjalan melewati istri dan mamanya yang sedang berbincang di ruang keluarga.
“Mau berangkat Ham?” Tanya mama Nancy basa basi.
Ilham hanya mengangguk kemudian pergi.
Selepas Ilham hilang dari pandangan, mama Nancy mulai bertanya.
“Oh ya Mi, mama sudah tidak pernah mendengar kabar Monita lagi, kira-kira ke mana ya dia?”
Degg…
Jantung Naomi seakan terhenti sejenak, tubuhnya menegang, setelah sekian lama ternyata mama mertuanya belum juga melupakan Monita.
“Mi?” Suara mama Nancy membuyarkan lamunan Naomi.
__ADS_1
“Eh iya ma?”
“Kenapa sayang? Kamu sakit?” Tanya mama Nancy lembut sembari mengusap bahu menantunya.
“Ti… tidak mam.” Naomi sedikit gelagapan.
“Lalu kenapa?”
“Naomi hanya… hanya rindu saja pada Monita karena mama tiba-tiba menanyakan keberadaannya.” Jawab Naomi beralibi.
“Iya mama juga rindu padanya, lalu di mana dia sekarang Mi?” Tanya mama lagi.
“Dia keluar kota ma bersama suaminya.” Jawab Naomi berbohong lagi, sepertinya mulut wanita itu sudah sangat ringan untuk mengucap kebohongan, sudah tidak ada rasa bersalah lagi ketika mengucapkannya, seakan kebohongan itu sudah menjadi keahliannya.
“Keluar kota ke mana?”
Lagi-lagi mamanya melontarkan pertanyaan yang tak terduga, ia tak menyangka mama Nancy bertanya serinci itu, Naomi kembali berfikir kebohongan apa lagi yang harus ia sampaikan.
“Ke kota C ma, aku dengar dia sudah melahirkan anaknya laki-laki.” Jawab Naomi asal, ia menambahkan satu kebohongan lagi agar mama mertuanya berhenti bertanya.
“Kenapa ma?”
“Mama hanya merasa sedih saja jauh darinya, padahal kalau dia masih ada di sini, kita bisa sekali-sekali meminjam anaknya untuk kita rawat di sini, sebagai pengobat rasa sedih mama karena kehilangan cucu.” Lirih Nancy dengan suara serak.
“Ma, itu juga yang Naomi inginkan, tapi sayangnya Tuhan memang tidak pernah memberi Naomi kesempatan untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu.” Jelas Naomi tak kalah lirih.
Mendengar itu, mama Nancy buru-buru menyela ucapan Naomi, tiba-tiba ia merasa bersalah karena sudah berkata seperti itu, secara tidak sadar, ia sudah membuat Naomi kembali teringat dengan anaknya yang sudah pergi.
“Tidak begitu nak, maaf mama kembali membuatmu teringat tentang anakmu, mama tidak sengaja mengucapkan itu, maafkan mama ya.”
“Tidak ma tidak apa, mulai sekarang, Naomi harus belajar ikhlas, kita tidak boleh terus menerus larut dalam kesedihan, yang pergi sudah tenang di sisi Tuhan, sedangkan yang hidup harus tetap melanjutkan hidup.”
Ucapan bijak menantunya itu membuat Nancy terharu, ia tersenyum haru sembari merengkuh tubuh sang menantu dengan sayang.
Namun dibalik itu Naomi tersenyum getir, semenjak kehadiran Monita, dalam rumah tangganya ini ia bagai hidup dengan robot tanpa hati.
__ADS_1
Ilham memang bersamanya, tapi Ilham seperti membangun tembok besar yang sulit ia tembus, seperti ada dinding kaca di antara mereka berdua.
Di kantor utama Anugrahjaya…
Di ruangan meeting, di saat seseorang telah memaparkan materi serius, nampak Ilham sedang melamun.
“Bagaimana tuan Ilham?” Tanya seseorang berjas hitam yang duduk di sebelah Ilham, ia ingin tau tentang pendapat Ilham mengenai materi yang baru saja dipaparkan tadi.
Ilham masih terlihat melamun, hingga Andre mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Ilham.
“Rapat ditunda!” Ucap Ilham kemudian bangkit dari duduknya.
Pria itu bergegas pergi bersama Doni, rupanya tadi Andre berbisik untuk memberitahukan kalau Doni sedang menunggunya di luar karena ada info penting yang akan ia sampaikan.
Sesuai perintah Ilham, Andre harus memberitahukan padanya jika nanti Doni mencarinya walau pun dia sedang meeting sekalipun.
“Kamu yakin?”
Doni mengangguk.
“Mereka melihat nona Monita di sebuah bandara beberapa saat lalu.”
“Suru mereka menahannya!”
Kedua orang itu pun berjalan menuju mobil, bersiap menuju bandara untuk menangkap Monita.
“Cepat Don! Apa kamu sudah kehilangan keahlian mengemudi? Cepat menepi! Biar saya yang menyetir!” Ujar Ilham dengan gusar, padahal Doni sudah melajukan mobilnya dengan kencang, namun Ilham masih merasa mobilnya melamban.
Tidak mau telinganya sakit mendengar radio rusak, akhirnya Doni menepi, tanpa turun Ilham langsung pindah ke tempat Doni yang sudah kosong.
Hitungan detik Ilham langsung tancap gas.
WUSSHH
Bagaikan pembalap profesional, Ilham menyetir ugal-ugalan, bila harusnya perlu waktu satu setengah jam untuk sampai ke bandara, tidak lebih dari satu jam Ilham sudah sampai ke tempat yang dituju.
__ADS_1