Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 127 Tak Peduli Lagi


__ADS_3

“Aku mau.” Jawab Eden tiba-tiba muncul pada saat kedua pria itu sedang asyik mengobrol.


“Mau apa?” Ilham sontak mengerutkan dahinya karena pembicaraan mereka sudah bukan tentang lamaran dadakan Andre lagi tetapi hal yang lain.


“Mau jadi istri kak Andre.” Jawab Eden dengan polosnya.


Setelah mendengar jawaban Eden, barulah Ilham mengerti. Gadis ini menjawab lamaran Andre setelah sejak tadi Andre mengadukan kecemasannya bagaimana kalau Eden menolak, kenapa Eden belum keluar kamar juga, kenapa lama, kenapa ini, kenapa itu hingga membuat Ilham kesal dan mengalihkan pembicaraan ke hal-hal yang lain.


Kecemasan Andre berlebihan, Andre terlalu overthinking padahal Eden akan menerima lamarannya.


“Tuh dengar, dia mau katanya.” Seru Ilham seraya bangkit dari tempat duduk dan meminta Eden bertukar tempat demi memberi kesempatan untuk mereka agar bisa duduk berdekatan.


“Jadi kamu menerima lamaranku Den?” Tanya Andre memastikan kalau indera pendengarannya tidak salah.


“Iya.” Jawab Eden sembari mengangguk pasti.


Mendengar jawaban Eden, pria itu sontak memeluk erat tubuh Eden saking bahagianya tanpa peduli siapa yang kini sedang duduk di depan mereka.


“Ekhem ekhem.” Dehaman Ilham berhasil membuat tautan tubuh mereka terlepas.


“Jangan berlebihan, kalian belum sah Andre!” Tegur Ilham seakan lupa diri, mungkin dia lupa bagiamana dia dulu sewaktu pacaran dengan Naomi, walau hidup Ilham lurus lurus saja, tapi beberapa kali di depan Andre juga mereka sering pelukan bahkan Andre sering melihat Ilham mengecup bibir Naomi tepat di depannya.


“Maaf tuan, aku terlalu bersemangat.” Jawab Andre sekenannya.


“Ingat Andre, kalian hanya boleh tunangan dulu, kalau mau menikah, tunggu Eden sampai selesai kuliah.” Ilham kembali mengingatkan, barangkali Andre lupa.


Kesepakatan itu sudah mereka bahas jauh sebelum Eden ikut bergabung bersama mereka. Oleh karena itu, Andre hanya mengangguk patuh begitu Ilham kembali mengingatkan. Itu bukan hanya keputusan sepihak, melainkan permintaan Monita istrinya yang saat itu tidak sempat duduk dan bergabung bersama mereka karena Monita sedang sibuk menenangkan Dikta yang sejak tadi menangis minta dimanja.

__ADS_1


“Lama sekali! Kenapa tidak dipercepat si kak.”protes Eden mencebik kesal, ia memajukan bibirnya satu centi. Benar-benar menyebalkan, Eden yang mempunyai kesabaran setipis tisue tentu tidak sabar jika harus menunggu lama.


“Aku hanya menyampaikan permintaan kakakmu Eden.”


“Mana kak Monita?”


“Kenapa? Kamu mau merayunya agar dia berubah pikiran? Tidak mungkin, kalau dia sudah buat keputusan, maka tidak bisa diganggu gugat. Kamu tau sendiri, kakakmu menaruh harapan besar padamu untuk jadi sarjana karena dia tidak bisa mencapainya. Jadi tolong jangan kecewakan istriku.” Tutur Ilham yang sebenarnya juga heran dengan perubahan sikap istrinya yang menurutnya sangat cepat. Padahal tadi Monita persis kebelet pipis kala melihat rekaman cctv yang menampilkan Andre yang melamar Eden dengan cara yang berbeda nyatanya ia malah membuat keputusan tak terduga ini.


“Ya sudah.” Eden akhirnya mengalah, masih untung diizinkan tunangan, dari pada tidak sama sekali.


“Lalu, kapan acara pertunangannya?”


“Minggu depan, aku yang akan persiapkan semuanya, kalian tinggal terima beres saja.” Jawab Ilham yang membuat Eden ingin memeluknya saat ini juga tapi hanya ucapan terima kasih yang ia lontarkan, tidak mungkin sampai pelukan segala.


****


Dengan didampingi Sinta, wanita itu tidak sadarkan diri. Tak lupa dengan beberapa polisi yang berjaga di sana, bagaimana tidak, Naomi pingsan sewaktu dalam sel.


Akhir-akhir ini kesehatan Naomi menurun drastis. Wanita itu hidup sebatang kara, hanya Sinta sahabat yang dia punya selama ini.


Kanker serviks. Itulah penyakit yang kini menggerogoti Naomi, kanker tersebut sudah stadium akhir dan baru terdeteksi begitu dia mengalami gejala nyeri panggul yang hebat hingga membuat dirinya tak sadarkan diri.


Sinta yang kala itu setia menemaninya menatap miris jalan kehidupan sahabatnya ini. Kanker serviks, penyakit turunan karena sang mama dari Naomi juga dihabisi oleh penyakit tersebut membuat Sinta khawatir kalau kalau Naomi juga mengalami nasib yang sama.


Namun selaku sahabat yang banyak menyimpan kartu As Naomi membuat Sinta sangat menyayangkan sifat labil wanita tersebut. Akibat dari perbuatannya yang selalu mengambil keputusan tanpa pikir panjang membuat Naomi kesepian kala dia mengalami musibah ini.


Membayangkan bagaimana watak sahabatnya ini mulai dari berselingkuh dengan pria tak berhati, memaksa Ilham menikah lagi hingga merencanakan pembunuhan untuk Monita merupakan tindakan gegabah yang justru menyeretnya dalam lubang penderitaan.

__ADS_1


Begitu Sinta memberitahukan penyakit yang diderita Naomi pada Rendy, reaksi pria itu malah membuat Sinta mengeluarkan taringnya. Benar-benar kejam, Rendy seolah acuh dan tak peduli begitu dia mengetahui kondisi Naomi. Alih-alih memantik simpati Rendy, Sinta justru dibuat geram kala Rendy berkata tak peduli meski Naomi mati sekalipun.


Sinta memberitahu Rendy bukan karena apa-apa. Dia berharap begitu Rendy tau, Rendy bersedia mengirim asistennya atau pelayan yang ada di rumahnya untuk bergantian menjaga Naomi di rumah sakit. Mana tau dia kalau pria itu sudah tak punya kuasa lagi. Namun pria itu enggan membantu, bahkan terkesan tak peduli.


Akhirnya Sinta mencoba menghubungi Ilham, mungkin jika Ilham tau kondisi Naomi pria itu akan simpati dan bersedia membantunya untuk bergantian menjaga Naomi. Sinta tidak khawatir soal biaya karena Ilham sudah memberikan harta gono gini begitu mereka bercerai. Hanya saja yang menjadi beban wanita itu adalah, waktunya untuk menjaga Naomi terbatas dikarenakan kesibukannya dan tanggung jawabnya yang lain. Namun untuk meninggalkan Naomi juga dia tidak tega, oleh karena itu dia memutuskan untuk mencari teman yang mau bergantian dengannya saat menjaga Naomi.


“Aku juga punya keluarga Sinta, aku punya anak dan istri serta perusahaan yang harus terus ku kembangkan demi kelangsungan hidup keluarga kecilku. Kenapa kau tidak beritahu Rendy saja? Bukan kah mereka adalah pasangan? Aku sudah tidak punya urusan apa-apa lagi dengan wanita itu, jadi jangan ganggu aku lagi!” Tegas Ilham kemudian mengakhiri sambungan telpon secara sepihak.


“Apa yang terjadi dengan mbak Naomi mas?” Tanya Monita yang saat itu tengah berada di samping suaminya, tak lupa pula dengan si gembul Dikta yang ada di pangkuannya.


“Dia sakit, dan Sinta memintaku untuk membantu menjaganya, enak saja. Aku sudah tidak punya urusan lagi dengan wanita itu.” Gerutu Ilham melempar asal ponselnya di ranjang lalu mengulurkan tangan untuk mengambil ali Dikta.


“Sekarang aku sudah punya kalian, dan aku tidak peduli wanita mana pun lagi.” Pungkasnya seraya menatap putranya yang kini tengah membalas senyumnya.


“Tapi mas, kasihan juga mbak Naomi, apa tidak sebaiknya_”


“Sayang stop ya, jangan meminta hal yang tidak-tidak. Aku sama sekali tidak ingin menemuinya.” Belum selesai Monita bicara, Ilham sudah memotong pembicaraannya.


“Tapi, apa tidak sebaiknya mas minta salah satu bodyguard mas untuk menjaganya di rumah sakit.” Monita mencoba memberi saran, karena meminta suaminya yang menjaga langsung Ilham enggan. Entah karena terlalu baik atau kelewat polos, Monita malah mempercayakan suaminya berdua dengan sang mantan.


Mendengar Naomi sakit, rasa iba menggelora dalam dirinya. Karma is real, tapi Monita sama sekali tidak mendoakan hal itu untuk Naomi, kepada Naomi mungkin Monita masih bisa kasihan tapi tidak kepada Rendy yang dengan jelas membunuh ibunya.


Sementara Ilham, dia terdiam mencerna ucapan Monita, pasalnya wanita itu sudah tidak punya siapa-siapa lagi, oleh karena itu Ilham mempertimbangkan saran dari istrinya ini, asal bukan dia yang harus menemani wanita itu di rumah sakit.


Perbuatan fatal Naomi, tidak membuat Ilham iba meski pun ia tau wanita itu jatuh sakit, walau pun ia tidak tau pasti penyakit apa yang mendera mantan istrinya itu, Ilham tidak mau ambil pusing meski dia kena’ kanker sekali pun. Batin Ilham.


“Mas? Gimana, apa mas setuju mengirim bodyguard untuk menjaga Naomi?”

__ADS_1


“Sayang, aku ingin satu anak lagi.” Ujar Ilham mulai tidak nyambung.


__ADS_2