
Satu jam kemudian, meeting Ilham bersama David selesai, makan siang pun juga sudah berakhir.
“Baiklah kalau begitu, saya pamit pulang dulu, semoga kita bisa bekerja sama lagi dengan baik seperti sebelumnya.” Ujar Ilham sembari mengulurkan tangannya untuk menyalami David.
Melihat uluran tangan Ilham, David pun menyambut tangan Ilham dan mereka pun bersalaman.
“Terima kasih karena masih mau berkerja sama dengan saya.” Jawab David, tautan tangan mereka pun terlepas.
“Ilham!” Panggil David sebelum Ilham berlalu dari hadapannya.
“Ada apa?”
“Bagaimana kabar Monita?” Tanya David dengan entengnya.
Mendengar itu emosi Ilham mulai naik, namun dia tetap berusaha tenang, ia pun memasukkan kedua tangannya di saku celana dan menatap David.
“Ada apa kau menanyakan istriku? Apa sudah tidak ada wanita lajang di luar sana yang mau dekat denganmu?”
“Ah tidak.” David tersenyum, “aku hanya khawatir saja kalau Naomi tau hubungan kalian seperti apa, Naomi akan memusuhi Monita, dan pastinya kau akan dihadapkan pada dua pilihan, aku yakin kau pasti akan memilih Naomi, jika kau memilih Naomi, aku harap kau berikan saja Monita padaku.” Ucap David dengan santainya.
Ilham sontak mengepalkan tangannya dan meraih jas David dengan satu tangannya.
“Kau pikir istriku barang yang dengan mudahnya akan saya berikan pada orang lain? Jangan mimpi David Bramantyo yang terhormat! Saya tidak akan pernah melepaskan Monita, saya akan segera melegalkan pernikahan kami, dan kau jangan pernah bermimpi untuk bisa memiliki istri saya, karena saya pastikan itu tidak akan pernah terwujud!” Ucap Ilham dengan nada pelan namun penuh penekanan.
__ADS_1
David pun tersenyum dan melepaskan cengkraman tangan Ilham dari jasnya yang sudah sedikit kusut.
“Saya berkata seperti ini karena memang benar, suatu saat nanti,kau pasti akan memilih Naomi, kau tidak mungkin bisa melepaskan Naomi dengan mudahnya, kau sangat takut kehilangan Naomi, lihat saja, kau akan jadi suami yang plin plan dan mencampakkan Monita demi Naomi, sekarang saja kau takut kan kalau sampai Naomi tau hubungan kalian di belakangnya seperti apa? Jadi kau hanya bisa menjalin hubungan dengan Monita diam-diam di belakangnya.” Setelah berkata panjang lebar, David pun langsung berlalu dari hadapan Ilham.
Perkataan David berhasil membungkam mulut Ilham, apa yang dikatakan David ada benarnya, saat ini Ilham berada dalam kebimbangan antara memilih Naomi atau Monita? Apalagi sekarang Naomi sudah pernah memergoki Ilham dan Monita melakukan hubungan ranjang di kamar, Naomi pasti akan memintanya untuk memilih.
Hati Ilham gundah gulana, ia kembali terduduk lesu di kursinya dengan raut wajah bimbang, dia mengusap kasar wajahnya yang sudah tampak memerah karena emosi.
Punya istri dua ternyata tak seindah yang dibayangkan, dua wanita itu sama pentingnya bagi Ilham, namun keduanya tidak ingin membagi cinta dan tidak mau berbagi suami, Ilham jadi dilema sendiri.
Tak terasa waktu begitu cepat bergulir, siang berganti malam, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan perut Monita sudah semakin membesar karena usia kandungannya yang sudah menginjak 8 bulan.
Selama berbulan-bulan lamanya, hubungan Naomi dan Monita tidak membaik juga, Ilham pun semakin pusing jadinya, Ilham pun sudah tidak pernah tidur di kamar lagi melainkan tidur di sofa ruang TV, namun dia tidak tahan jika berbulan-bulan lamanya jauh dari istrinya, terkadang dia menyelusup masuk ke kamar Monita saat larut malam, dia selalu memilih kamar Monita untuk ia masuki, rupanya daun muda lebih segar rasanya.
“Mas, bisa kesini sebentar?” Panggil Naomi yang kini sudah berdiri di ambang pintu.
Ilham menoleh dan tersenyum, begitu ia mengayunkan kakinya menghampiri istri pertamanya, ia kembali dikejutkan dengan suara seorang wanita yang lainnya memanggil, ia pun sontak menghentikan langkahnya dan menoleh, rupanya Monita yang memanggil.
“Mas, sini yuk ada yang ingin Monita katakan.” Ucap Monita yang juga sudah berdiri di depan pintu.
Seketika Ilham dibuat bingung bukan kepalang, dia bingung menghampiri yang mana dulu, pasalnya dua istrinya memanggilnya dalam waktu bersamaan, ia menatap Naomi dan Monita secara bergantian, Ilham tak bergeming, ia masih berdiri mematung, tidak berani menghampiri siapapun.
Monita melirik ke arah kamar utama, di sana ada Naomi yang berdiri di ambang pintu dengan raut wajah dingin, tanpa menatap Monita sedikit pun, seakan mengerti dengan raut wajah Naomi, Monita memilih mengalah.
__ADS_1
“Mas hampiri Mbak Naomi dulu.” Ujar Monita lalu masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamar itu dengan agak keras, membuat Ilham dan Naomi sama-sama tersentak, ibu hamil itu sedang tidak mood, namanya juga orang hamil, moodnya berubah-rubah.
Ilham pun dibuat panik, dia takut istri kecilnya itu marah padanya, barangkali ada yang dia butuhkan dan Ilham tidak ada di sisinya, namun begitu dia ingin melangkah menyusul Monita, Naomi pun buka suara.
“Kalau Mas masih mencintai aku, jangan susul dia.” Ucapan Naomi berhasil menghentikan langkah Ilham, ia pun mengalihkan pandangannya ke arah Naomi.
“Tapi sayang..”
“Terserah kalau kau masih ingin tetap menyusulnya dan masuk ke kamar itu, kalau Mas memilih menghampirinya, kita cerai saja.”
Ilham benar-benar tertampar dengan ucapan Naomi, istri pertamanya ini sekarang punya hobi baru, suka mengancam kalau ada yang tidak sesuai dengan keinginannya, sementara Ilham, dia sangat benci dengan kata cerai, dia tidak ingin kata-kata itu keluar dari mulut Naomi, tak bisa dipungkiri, Ilham masih sangat berat bila harus kehilangan Naomi.
“Jangan katakan ucapan kotor itu lagi di depanku! Aku tidak ingin bercerai darimu Naomi!” Cetus Ilham dengan nada yang agak tinggi karena saking jengkelnya.
“Terserah kamu saja.” Naomi pun berjalan masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras.
Ilham pun tersentak, ia mengusap kasar wajahnya, benar-benar bikin pusing saja, Ilham kembali menatap pintu kamar Monita yang sudah tertutup rapat sejak tadi.
“Apa dia juga marah?” Batin Ilham yang ingin mengayunkan kakinya menuju kamar Monita namun dia kembali teringat dengan ancaman Naomi tadi yang ingin mereka cerai jika Ilham nekat menyusul Monita ke kamarnya, akhirnya dengan berat hati, Ilham melangkahkan kakinya dengan gontai menuju kamar sang istri pertama, dari pada diceraikan, lebih baik dia mengabaikan Monita dulu malam ini, begitu Naomi sudah tidur pulas, dia akan kembali menyelusup masuk ke kamar Monita dan meminta maaf padanya.
Malam ini Monita sedikit kecewa pada suaminya karena dia hanya ingin meminta Ilham untuk membelikannya mangga muda, tapi Ilham hanya diam saja dan tidak segera menghampirinya karena takut ada Naomi.
Hingga tak sengaja, air mata Monita menetes, dia benar-benar kecewa, apa hanya karena ingin makan mangga muda saja dia harus memohon dulu? Monita menatap langit-langit kamarnya, rasanya dia ingin keluar dari rumah megah itu malam ini juga, tapi itu tidak mungkin karena di depan pintu, sudah ada bodyguard yang menjaga, rupanya Ilham sudah memperketat penjagaannya, semenjak hari itu Monita mencoba kabur dari rumah.
__ADS_1
Ternyata menjadi yang kedua tidak akan diprioritaskan, jadi yang kedua itu akan selalu makan hati karena pasti sang suami akan memilih mendengarkan ucapan istri pertamanya.