Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 121 Perang Batin Karena Eden


__ADS_3

Dua hari pasca Ilham menceraikan Naomi secara lisan, kehidupan mereka kembali berjalan seperti sebelumnya. Ilham sudah merangkai rencana sedemikian rupa untuk menjerat Rendy. Satu hari lalu Ilham sudah mendaftarkan perceraian mereka di pengadilan, kekuasaan yang Ilham miliki tentu akan membuat proses gugatan cerai itu berjalan mulus, seperti hari ini, Ilham sudah resmi mengantongi akta cerai bersama Naomi yang berhasil Andre selesaikan. Pria itu kini sudah tidak terikat pernikahan lagi dengan Naomi.


Tidak hanya Monita, Eden juga sudah tau pelaku tabrak lari ibunya dan perselingkuhan Naomi bersama Rendy. Mendengar hal itu tentu saja Eden geram, ingin rasanya dia lempar badjingan itu ke laut mati, tapi Ilham mencegahnya dan meyakini Eden bahwa Ilham bisa melumpuhkan pria bangsat itu.


“Kenapa masih di sini? Balik kantor sana.” Ujar Monita kemudian kala menyadari Ilham belum beranjak ke kantor setelah dia selesai dari pengadilan.


“Nanti saja, aku masih betah di rumah, ada Andre tenang saja.”


Ilham menepuk sisi kosong di sebelahnya, meminta Dikta untuk duduk di sana. Mata bulat Dikta sedikit membuatnya tenang, Ilham tersenyum bahagia kala melihat putranya kini beranjak naik ke atas perutnya.


Bugghh


“Ah papa belum siap Dikta.” Ilham meringis kala Dikta tiba-tiba menduduki perutnya. Ilham berpikir putranya akan duduk di sisinya, mana dia tau Dikta mala menjadikan perutnya persis kursi tunggu begitu.


Bermain bersama Dikta yang menjadikan perutnya sebagai tempat duduk adalah kehangatan yang tidak pernah Ilham duga. Meski itu sedikit menyakitkan karena Dikta tidak bisa berdiam diri di satu posisi, melainkan terlalu banyak bergerak.


“Aarrgghh, papa bukan kuda sayang.” Dikta terus bergerak bebas di atas perut Ilham.


“Dikta lagi naik apa?” Tanya Monita yang kini berbaring di sisi Ilham dengan menjadikan lengan suaminya sebagai bantal.


“Duda.” Jawab Dikta singkat dan berhasil membuat Ilham mengerutkan dahi, naik duda?


“Ku-daaa bukan duda.”


“Dia bisanya duda.” Sela Monita merasa lucu mendengar ucapan Dikta jika salah begitu.


“Ya harus diajarkan. Dikta, ayo papa ajarkan bicara ya.”


“Kuu..”


“Uuu.” Dikta mengikuti ucapan sang papa tapi memang belum sebaik itu.


“Da.”


“Dah.”


“Ok kuda.”


“Duda.”


Sudahlah, Ilham menyerah, mungkin memang belum bisa sekalipun dipaksakan. Sementara Monita hanya tertawa lucu melihat keseriusan dua pria ini dalam belajar bicara.


“Kamu terlalu menggemaskan, aku mau satu lagi sayang.”


Ilham terlalu gemas hingga Ilham memeluk erat putranya dengan sangat kuat hingga membuat Dikta tak nyaman dan berakhir dengan tepukan keras di wajah papanya.


“Aawww, Mon.”


Pria itu meringis menahan sakit lantaran kelopak matanya Dikta cubit. Namun dia juga tidak ingin melepaskan pelukannya dari sang putra, susah payah Monita melepaskan cubitan Dikta, dia terus berteriak hingga suasana kamar yang tadinya tenang jadi penuh kekacauan antara anak dan papanya.


“Papa smackdown ya.” Ucap Ilham kala sang putra sudah berada di bawahnya.


Alih-alih menangis, balita itu justru tertawa tanpa henti. Sementara Monita yang khawatir, sontak berteriak kala Ilham memperlakukan Dikta persis anak umur enam tahun.


“Jangan dibanting begitu dong, tulangnya masih lembut mas.”


“Tenang sayang, aku bisa jaga anak.” Ucap Ilham yakin sekali, padahal Monita sudah cemas, takut dua-duanya jatuh dari tempat tidur.


Keringat Dikta bercucuran, dia sangat senang kala menikmati permainan bersama papanya. Mereka kerap bermain seperti itu, dan hal itu tak henti-hentinya membuat darah Monita tumpah setengah.


“Tarik napas.. coba lawan papa lagi, ayo pukul papa.” Titah Ilham menunggu putranya benar-benar memukulnya.

__ADS_1


Dikta masih bingung jika diperintah begitu, ia berdiri di depan wajah Ilham, hingga Ilham bertepuk tangan kala putranya mendaratkan pukulan di wajahnya.


“Bagus! Dikta kalau papa pukul menghindar seperti ini.”


Dikta baru berumur 1 tahun, bukan sepuluh tahun. Ilham memang kurang asupan atau bagaimana, menerapkan permainan seperti itu untuk putranya yang masih balita.


“Sebenarnya anak itu diajarkan nama-nama buah, nama-nama hewan dan lainnya, bukan diajarkan jadi tukang pukul.” Monita menggeleng-gelengkan kepala, namun melihat Dikta yang begitu bahagia kala bermain bersama papanya membuat Monita tidak masalah. Nyatanya sang putra lebih seru bermain bersama Ilham dibandingkan dengannya.


“Ada waktunya sayang, Dikta laki-laki, harus diajarkan bela diri seperti papanya.”


Ilham dan Dikta benar-benar bergulat di tempat tidur, meski memang sejak tadi Monita perhatikan Ilham yang heboh sendiri, jungkir balik di atas tempat tidur demi mengajarkan anaknya cara jadi laki-laki pemberani.


“Terserah, tapi awas kalau dia menangis ya.”


“Tenang sayang.”


Tenang kata dia? Baru saja Monita beranjak mengambil makanan untuk anaknya, jerit tangis Dikta mulai terdengar hingga membuat Monita mengurungkan niatnya.


“Ada apa lagi? Dia jatuh ya?”


“Tidak sayang.” Jawab Ilham yang kini sedang menenangkan Dikta dalam dekapan.


“Terus kenapa? Dikta kenapa nak? Astaga jarinya digigit ya.”


Monita membeliak tajam kala menyadari ada bekas gigitan di jemari Dikta, tidak mungkin itu bekas gigi Dikta, ukurannya saja beda. Sementara Ilham, kini sedang menahan tawanya.


“Tidak sengaja sayang, tapi tenang aku bisa membuatnya diam.”


“Bisa bagaimana? Jelas-jelas mas membuat dia menangis begini.”


“Aku bisa sendiri sayang, lihat tuh dia diam kan?”


Memang betul Dikta hanya diam, hanya saja untuk meninggalkan putranya bersama Ilham sendirian, Monita tidak yakin. Dia khawatir Dikta menangis lebih dari ini.


Dikta malah membuang muka kala Monita mengulurkan tangannya, dia tetap memilih berada dalam dekapan Ilham dan kini dia benar-benar mulai tenang.


“Tu kan, apa aku bilang. Tidak percaya suami sih.”


Setelah terdiam, Dikta mulai minta dilepaskan. Melihat Ilham yang jungkir balik seperti tadi membuat Dikta kini mengambil posisi membuat mamanya ketar ketir luar biasa.


“Dikta! Kan sudah kubilang jangan diajarkan macam-macam, pasti kemarin-kemarin mas sudah ajarkan dia begini ya.”


“Tidak sayang, memang daya tangkap Dikta yang cepat.” Ilham mengelak, mana mungkin dia mengaku pada Monita kalau dia sudah mengajarkan hal tersebut pada Dikta sejak kemarin-kemarin.


****


Hari ini, Eden sedang berada di depan kampus bersama Arga. Jam mata kuliah sudah berakhir, tapi dua mahasiswa ini masih betah duduk di salah satu gazebo kampus.


“Kenapa Ga? Apa yang ingin kamu katakan?” Tanya Eden yang sejak tadi mulai gerah karena Arga belum juga bicara. Sudah setengah jam ini mereka duduk di gazebo itu, tapi belum juga ada tanda-tanda Arga menyampaikan sesuatu.


Arga menarik napas dalam, demi menetralkan perasaannya yang karu-karuan. Hari ini ia berencana untuk kembali menyatakan cintanya, entah sudah kali keberapa, yang jelas Arga pantang menyerah.


Kali kesekian mendapat penolakan membuat hati Arga cenat cenut kala ia kembali menyatakan cintanya hari ini. Tidak seperti diawal mengutarakan perasaannya yang tampak percaya diri tinggi, kali ini Arga tampak gugup bahkan berkeringat dingin.


“Eeemmm… Den… se_sebenarnya, a_aku..” gumam Arga jadi tampak gelagapan persis siswa yang menghadap guru BK. Gugupnya bukan main.


“Iya kenapa Ga?”


“Aku…. Aku… i_ingin….” Arga menggantung kalimatnya dan kembali mengambil napas dan menghembuskannya perlahan.


“Ingin apa?” Eden tampak gusar sembari mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah saking panasnya. Bagaimana tidak, Arga mengutarakan perasaannya di gazebo yang sinar mataharinya bisa sampai menelusup ke dalam gazebo tersebut.

__ADS_1


“Kamu kepanasan Den?” Tanya Arga yang tidak peka sejak tadi.


“Menurutmu? Makanya cepat katakan, apa sih yang mau kamu katakan? Sudah setengah jam loh kita di sini.”


“Ya sudah Den tundah saja, besok saja aku katakan, aku tidak tega lihat kamu kepanasan begini.”


“Enak aja, aku sudah di sini sejak tadi sudah terlanjur penasaran juga, kamu main tundah begitu. Ayo cepat katakan sekarang!” Titah Eden dengan nada sedikit meninggi. Arga menelan salivanya, padahal Arga hendak mengutarakan rasa cintanya, namun belum juga dijawab oleh Monita, dia sudah mendapatkan omelan dari gadis yang kesabarannya setipis kulit lumpia ini. Ya Eden tidak sesabar kakaknya Monita yang lemah lembut itu.


“Oke oke, aku ambil napas dulu.” Ujar Arga kemudian kembali mengambil napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, entah sudah kali keberapa.


Eden memutar bola matanya malas, sembari menguap lebar kala Arga masih juga mengulur waktu begitu. Bagaimana tidak, ini sudah jam tidur siang Eden, dia sudah rindu kasurnya yang seolah memanggil-manggil kala ia membayangkannya.


“Den, aku mau jadi pacar kamu, apa kamu bersedia? Aku mencintai kamu Eden.” Ungkap Arga pada akhirnya sembari menggenggam jemari lentik gadis itu.


Berganti Eden yang bungkam kali ini, dia melongo kala mendengar pernyataan Arga yang sudah kesekian kali ini. Rupanya pria itu belum menyerah juga, dan sesuai janji Eden pada dirinya sendiri. Kalau sampai Andre belum juga mengungkapkan perasaannya pada Eden, dia akan menerima cinta pria lain entah siapa pun itu. Dan saat ini ada pria yang mengajaknya mengarungi lautan cinta bersama, dia tidak mungkin tutup mulut dan telinga, mau tidak mau dia harus menerimanya, soal rasa, biarlah itu menjadi urusan belakangan.


“Iya aku menerima_”


“Eden!” Ucapan Eden terhenti kala lengkingan tak asing itu memanggil namanya.


Eden dan Arga sama-sama menoleh ke sumber suara. Eden sedikit tersentak dengan mulut yang menganga melihat sosok pria tampan di depannya sekarang.


“Kak Andre?”


“Aku mohon, tolong jangan terima dia Den.”


“Kenapa?”


“Den jangan dengarkan laki-laki ini, hei bang, tolong dong jangan merusak suasana. Aku sangat mencintai Eden, tolong jangan halangi dia, dia sudah menerima cintaku.” Sergah Arga mulai ketar ketir, bagaimana tidak, secara tidak langsung pria ini seperti sudah menguasai hati Eden sepenuhnya. Gara-gara dia, Eden sampai menolaknya berkali-kali.


Arga tentu sadar akan hal ini, meski pun Andre belum menyatakan perasaannya, tapi Arga bisa melihat dari cara Eden menatap pria ini. Ada cinta yang tersirat di sana. Omongan Andre yang mengaku-ngaku sebagai pacar Eden tempo hari dia anggap bualan semata.


“Ayo kita pulang!” Andre menarik pergelangan tangan Eden dan membawanya pergi dari hadapan Arga namun Arga segera menghentikannya. Pria itu juga ikut mencekal pergelangan tangan Eden yang satunya lagi.


“Den please, jangan pergi, kamu sudah menerimaku kan? Kita sudah pacaran kan sekarang?.”


“Ta_tapi Ga.” Eden jadi kelimpungan kala melihat dua pria ini secara bergantian, dua-duanya tidak mau kalah, sama-sama ingin mendahulukan egonya masing-masing.


“Den, ayo kita pulang sekarang!”


“Bang, jangan curang dong! Aku bisa mengantar Eden pulang, dia sudah jadi pacarku sekarang.”


“Jangan mimpi kamu! Eden belum sepenuhnya mengatakan kalau dia menerimamu.”


“Itu semua karena kau yang memotong ucapannya.”


“Eden tidak mencintaimu Arga, kamu harus sadar itu!”


“Sudahlah bang, lebih baik Eden pulang bersamaku saja.”


“Yang bisa mengantar pulang Eden itu hanya aku. Aku yang dipercayakan kakak dan kakak iparnya untuk mengantar jemput Eden.”


“Oh ya? Yang ada kakaknya justru akan kaget kalau melihat adik perempuan kesayangannya diantar pria berumur sepertimu?” Ejek Arga dengan senyum miring yang terbit dari bibirnya.


“Kamu tidak tau saja kalau aku tangan kanan kakak iparnya.” Tuturnya sembari melepas paksa tautan tangan Arga dari tangan Eden.


“Dan satu lagi, jangan pernah sebut aku pria berumur. Meski aku umurnya lebih tua darimu, tapi aku jelas lebih tampan.”


Soal ketampanan memang benar yang dikatakan Andre. Meski Arga pria yang tampan, tapi tak setampan pria pemilik hidung bangir itu, yang berkali-kali selalu membuat Eden terbuai setiap kali melihatnya.


“Jangan harap kau bisa membawa pergi Eden!” Ujar Arga hendak mulai menarik pergelangan tangan Eden namun secepat mungkin Eden menepisnya.

__ADS_1


“Stop! Tolong jangan kekanak-kanakan! Kalau begitu lebih baik aku pulang naik taxi saja. Bisa pusing kepalaku kalau lama-lama ada di tengah-tengah kalian berdua!” Ketus Eden kemudian. Kepalanya sampai megeluarkan asap, benar-benar menjengkelkan.


Eden melepaskan genggaman tangan Andre dan hendak berlalu dari hadapan dua pria yang tengah perang batin itu, namun Andre tak tinggal diam. Secepat kilat pria itu menggendong Eden persis karung beras dan membawanya pergi dari tempat itu. Tak peduli dengan Arga yang terus berteriak-teriak memanggil Eden. Andre tak menggubris kala Eden terus meronta-ronta minta diturunkan, benar-benar kurang asupan.


__ADS_2