Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 130 Calon Pewaris Tahta


__ADS_3

Malam kelam kini berganti seiring dengan pergerakan sang mentari, begitu terus menerus hingga 10 tahun berlalu.


Ya, saat ini usia rumah tangga Monita dan Ilham sudah berjalan 10 tahun lamanya bersamaan dengan usia Dikta yang juga sudah masuk ke bangku sekolah dasar.


Selama dalam kurun waktu sepuluh tahun itu pula keluarga Adhitama begitu menikmati waktu kebersamaan mereka bersama calon pewaris tahta berikutnya, Dikta Anugerah Adhitama.


Selama sepuluh tahun, tidak ada masalah yang begitu berarti hadir dalam kehidupan mereka seperti yang sudah sudah, yang ada hanya lah rasa suka cita untuk mendampingi tumbuh kembang Dikta. Anak itu tumbuh menjadi bocah cilik yang tampan, lucu, pintar, namun terkenal paling usil di keluarga Adhitama.


Dikta Adhitama, meski ia terlahir dari keluarga kaya, namun tidak membuatnya tumbuh menjadi anak yang manja. Bahkan ia begitu dekat dan tak gengsi menyatu dengan semua pegawai yang bekerja di rumah megahnya itu. Tanpa memilih-milih orang, Dikta kerap usil pada para pelayan, supir, security, bodyguard bahkan tukang kebun sekali pun.


Saat itu, tepatnya di pagi hari yang cerah, Monita dan Ilham tengah duduk di taman belakang rumah mereka. Sembari menikmati secangkir teh buatan istri tercintanya, Ilham pun terus menatap bangga Dikta yang kala itu tampak begitu asyik bermain bola dengan beberapa pelayan pria di rumahnya.


“Sedang lihat apa? Kenapa senyum-senyum sendiri?” Tanya Monita dengan dahi berkerut. Tangannya terus mengelus perutnya yang kini sudah membuncit.


Ya, saat ini mereka sedang menantikan anak kedua mereka yang sebentar lagi akan lahir ke dunia, kandungan Monita sudah memasuki usia 9 bulan dan memasuki status siaga satu baginya dan juga Ilham.


“Lihatlah bagaimana anak kita tumbuh menjadi anak yang humble, aku bersyukur dia tidak mewarisi sifatku yang keras dan dingin.”


“Tapi jangan salah, kamu mewarisi sifat usilmu itu padanya.”


Ilham hanya terkekeh, memang benar apa yang istrinya katakan. Dikta mewarisi sifat usil dan tengil Ilham, bahkan tengilnya Ilham hanya seperempat saja dari tengilnya Dikta.


Detik berikutnya, Ilham meraih tangan Monita dan mengecup punggung tangan sang istri dengan penuh penjiwaan.


“Terima kasih banyak karena sudah hadir dalam hidupku dan melahirkan seorang putra untukku dan kini kau juga tengah mengandung pewaris berikutnya.”


“Tidak perlu berterima kasih, kita memang saling membutuhkan, aku juga sangat bersyukur bisa dicintai oleh pria seperti mas. Aku begitu lega, bersama mas Ilham, aku bisa melewati masa-masa sulit dalam hidupku dan kini hidupku terasa sempurna.” Monita pun tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di pundak Ilham.


Setelah berbincang dan saling mengungkapkan perasaan, mereka kembali fokus menatap sang putra yang kini sedang melempar bolanya pada salah satu pelayan yang ada di depannya.


“Lihatlah sayang, dia begitu mirip denganmu.” Ucap Monita dengan matanya yang tak lekang menatapi sang buah hati.


“Iya, dia tampan sepertiku, aku jadi semakin yakin kalau dia putraku.” Jawab Ilham dengan tenang.


Mendengar jawaban Ilham, raut wajah Monita seketika berubah, senyum manisnya langsung pudar, kepala yang sejak tadi bersandar manja di pundak sang suami kini tertegak, dibarengi dengan tatapan yang luar biasa tajam seolah ingin menguliti Ilham hidup-hidup.

__ADS_1


“Kenapa sayang?” Tanya Ilham yang belum sadar juga.


“Maksud kamu apa?”


“Maksud aku apa sayang?” Tanya Ilham yang masih belum mengerti.


“Apa maksud kamu mengatakan kalau kamu semakin yakin bahwa Dikta adalah anakmu, apa selama ini kamu kurang yakin? Apa dimatamu aku seperti wanita murahan yang menjajahkan tubuh pada banyak lelaki hah?!” Omel Monita dengan suara yang sedikit meninggi seraya mengecakkan pinggang.


Mendengar itu Ilham jadi ketar ketir, raut wajahnya terlihat panik dan dia tampak gelagapan.


“Maaf sayang aku salah bicara, maksudku bukan begitu, hehehe maafkan aku ya sayang.” Bujuk Ilham dengan memasang senyum termanisnya.


“Jangan marah dong sayang, nanti cantiknya hilang.” Goda Ilham yang terus saja membujuk sang istri.


Monita sebenarnya tidak pemarah apalagi hanya karena masalah sepele. Tapi efek hormon lah yang mengubah Monita menjadi seperti sekarang. Ia jadi gampang marah, gampang menangis dan gampang membaik.


Namun Ilham tak putus asa dalam membujuk rayu istrinya, ia masih berusaha memeluk Monita dan tangannya selalu ditepis oleh sang istri karena saking kesalnya.


“Sayang, aku sudah minta maaf, maksud aku, aku bangga punya anak seperti Dikta dan dia benar-benar anakku karena wajah kami yang begitu mirip.” Jelas Ilham lagi dengan raut wajah memohon ampun pada istrinya.


Kini Ilham sudah menjelmah menjadi pria yang bucin setengah mati. Seperti cinta mati, Ilham sudah tidak tertarik lagi dengan wanita mana pun. Di matanya hanya ada Monita, di hatinya juga hanya ada nama Monita yang terukir di sana. Meski pun sampai sekarang masih banyak wanita muda yang mengejar cintanya, tapi Ilham sama sekali tak bergeming.


Hingga beberapa detik berselang, sebuah bola melayang dan mendarat tepat di kepala Monita.


“Awww.” Monita meringis kesakitan.


Melihat hal itu, Ilham malah tertawa, ia tertawa bukan karena tidak kasihan pada Monita, hanya saja dia tau itu bola karet, jadi tidak mungkin sakit kalau sampai mengenai kepala.


“Hahahaha tu kan kena’ getahnya. Kamu sih, suami kok dimarahin.” Ledek Ilham yang masih terus menunjukkan gelak tawanya.


Perlakuan Ilham itu semakin membuat Monita geram. Ia kembali melayangkan tatapan mematikan ke arah sang suami dan mencebik kesal sembari mengusap-usap kepalanya.


Namun Ilham tak ciut sama sekali, dia masih terus menertawakannya.


Tak lama, Dikta yang tampan pun datang menghampiri Monita.

__ADS_1


“Mama, maaf ya Dikta tidak sengaja, sakit ya ma?” Tanya Ilham seraya mengusap kepala ibunya.


“Anakku sayang.” Monita pun berakting seolah kesakitan dan sontak memeluk anaknya.


“Ma? Kenapa mama semakin menangis? Apa rasanya sakit sekali?” Tanya Dikta semakin merasa bersalah.


“Sebenarnya tidak terlalu sakit sayang, ta- tapi…” Monita terus berlakon seolah menjadi wanita paling sedih sedunia.


Sementara Ilham terdiam sembari menatap bingung istrinya yang sedang berakting.


“Tapi apa ma?”


“Tapi papamu begitu tega terus menertawai mamamu ini tanpa henti sayang.” Jawab Monita yang sengaja dibuat lirih agar terdengar begitu memilukan.


Dikta mengusap punggung mamanya lalu melepaskan pelukan dari sang mama kemudian beralih menatap papanya yang kala itu masih tercengang menyaksikan akting istrinya di depan sang anak.


“Papa, seharusnya papa tidak boleh begitu, seharusnya kepala mama dielus bukan malah papa tertawakan begitu.”


“Ta-tapi kan sayang, itu sama sekali tidak sakit, itu kan hanya bola karet sayang.” Ilham masih berusaha membela diri.


Mendengar hal itu, Monita kembali berakting menangis.


“Tu kan mama menangis, itu tandanya sangat sakit pa. Kita sebagai laki-laki harus menjaga mama dan melindunginya. Tidak boleh membuat mama menangis.” Dikta menasehati lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


Penuturan anaknya begitu bijak sehingga membuat Monita terharu, kemudian ia beralih menatap sang suami lalu menjulurkan lidahnya karena merasa begitu merdeka.


Akhirnya Ilham mengalah dan mengaku kalah.


“Baiklah, untuk anak dan istriku tersayang, papa minta maaf ya sayang.”


“Ok.” Jawab Dikta seraya menampilkan senyum manisnya.


Namun Monita tetap bergeming, ia tak menggubris ucapan suaminya sembari melipat tangan di atas perut.


Melihat hal itu, Dikta kembali mendekati sang ibu lalu tangan mungilnya menggoyang-goyangkan lengan Monita.

__ADS_1


“Ma ayo bersalaman, papa sudah minta maaf.”


“Iya sayang, ayo bersalaman.” Bujuk Ilham seraya menatap genit istrinya.


__ADS_2