
Kini Ilham dan Monita sudah sampai di Indonesia setelah menempu 16 jam perjalanan, sekarang mereka sudah berada di perjalanan menuju rumah dengan disupiri oleh pak Rudi, mobil hitam itu melesat membela jalanan Jakarta.
“Ada kabar baik di Swiss tuan?” Tanya Pak Rudi karena melihat ekspresi wajah Ilham yang tampak bahagia dari biasanya.
“Banyak yang terjadi di sana pak.” Jawab Ilham.
Ilham sempat-sempatnya mengecup pucuk kepala Monita yang sedang tertidur karena kelelahan.
“Apakah Nyonya Naomi sudah ditemukan?” Tanya pak Rudi menangkap ekspresi bahagia dari Ilham.
“Belum.” Jawab Ilham kembali lesu, Ilham baru ingat dengan pujaan hatinya itu, bahkan sampai mereka pulang, Naomi juga belum ditemukan.
Begitu sampai di kota Bern, Ilham hanya mengantar Monita sampai hotel, lalu dia bergegas menuju vila mereka yang di sana, namun begitu sampai sana, Ilham terpaksa harus menelan pil pahit, ternyata Naomi tidak ada di sana, dia berbohong, sebegitu tidak inginkah Naomi bertemu dengannya? Hingga tempat di mana dia pergi saja dia tidak jujur pada Ilham, mungkin dia takut Ilham akan menyusul, dan memang benar Ilham akan menyusul.
Bagaimana pun perasaan Ilham terhadap Monita sekarang, dia tidak bisa begitu saja melupakan Naomi yang sudah bertahun-tahun ini menemaninya, bahkan jika bisa, Ilham ingin memiliki keduanya.
Tak terasa mobil sudah melesat sampai di depan rumah utama, Ilham melirik ke arah istrinya yang masih tertidur pulas, lelaki itu tak tega membangunkan istrinya, lantas dia berinisiatif menggendong Monita sampai kamar.
“Pak Rudi, tolong bawakan semua koper kami menuju kamar.” Kata Ilham yang sedang berjalan sambil menggendong Monita.
“Baik tuan muda.” Jawab Pak Rudi sembari membungkukkan badannya.
Namun Monita sudah terjaga, dia lumayan kaget saat melihat dirinya sudah ada dalam gendongan Ilham.
“Sudah bangun?” Tanya Ilham yang masih belum menurunkan Monita, dia terus melangkahkan kakinya menuju kamar.
Monita melihat sekelilingnya, di sana ada beberapa pelayan dan juga pak Rudi yang menyusul langkah Ilham dari belakang.
__ADS_1
“Mas, turunkan aku, malu dilihat pelayan, ada pak Rudi lagi di belakang.” Keluh Monita memukul-mukul pelan dada bidang Ilham.
“Kenapa harus malu? Kamu kan istriku dan ini rumahku, jadi bebas tidak perlu malu.”
Monita hanya memutar bola matanya dengan malas, bagaimana pun dia masih marah dengan suaminya itu, semenjak kejadian Ilham menidurinya secara paksa di hotel waktu itu, Monita jadi semakin kesal padanya dan belum mau bicara dengannya.
Begitu sampai kamar, Ilham membaringkan tubuh istrinya di ranjang, dan menatap istrinya dengan begitu lekat, dia membelai lembut pipi Monita dengan jarak yang sangat dekat, tak lama, dia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Monita, memangkas jarak di antara mereka, kini wajah Ilham dan Monita hanya berjarak beberapa senti saja, mereka saling menatap manik mata masing-masing.
Pada saat Ilham mulai mendaratkan ciuman ke bibir Monita, ia memalingkan wajah, dengan wajah datarnya, Monita mendorong tubuh sang suami lalu dia beranjak menuju kamar mandi.
Ilham tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya menatap punggung Monita yang sudah hilang dari depan mata, dia menghela napas kasar lalu duduk di tepi ranjang sembari mengusap wajah.
Detik berikutnya, Monita sudah keluar dari toilet dengan hanya mengenakan kimono warna maron berbahan dasar satin dengan menampilkan dua gundukan daging milik Monita yang masih tampak kencang.
Ilham menelan salivanya melihat pemandangan yang tersaji di depan matanya, terpaksa dia harus menahan gejolak gairah yang kian terasa.
“Kalau saja saya tidak memaksanya malam itu, pasti sekarang dia tidak akan marah padaku seperti ini, tapi kalau saya tidak menidurinya, mungkin sampai sekarang saya masih terus menorehkan luka di hatinya karena penghinaan saya, mungkin sampai sekarang saya masih menganggapnya wanita malam yang menjijikan.” Gumam Ilham dalam hati dengan terus menatap nanar istrinya yang kini sudah duduk di meja rias.
Selesai dengan rutinitasnya di meja rias, Monita melangkahkan kakinya menuju ranjang, merebahkan tubuhnya dengan tidur membelakangi Ilham, menarik selimut sampai batas bahu.
Melihat itu, Ilham berinisiatif hendak memeluk Monita, pria itu melingkarkan tangannya ke pinggang Monita namun wanita itu segera menepis tangannya dengan kasar, namun Ilham tidak gentar sedikit pun, ia kembali melingkarkan tangannya ke pinggang Monita, namun lagi-lagi tangan itu ditepis kasar oleh Monita.
Ilham kembali mendekatkan dirinya, dan kali ini dia lebih mengeratkan pelukannya, Monita yang menerima perlakuan itu dari Ilham berusaha memberontak, dengan sekuat tenaga ia berusaha melepaskan dirinya, namun apa daya, tenaga Monita tidak sebanding dengan tenaga Ilham.
“Aku mohon jangan menjauhi diriku, maafkan aku Monita, aku janji aku tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi, katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku.” Bisik Ilham dengan masih merengkuh tubuh Monita sembari mencium pundaknya.
“Kau mau tau apa yang harus kau lakukan agar aku memaafkanmu?” Tanya Monita setelah dia mulai pasrah dan membiarkan tubuhnya dalam dekapan Ilham.
__ADS_1
“Iya, jadi apa yang harus aku lakukan Monita?” Tanya Ilham antusias.
“Ceraikan aku!” Tegas Monita dengan mata berkaca-kaca.
Bak disambar petir, Ilham terperanjat tak terkira, ia sontak melepaskan tautan tubuhnya dari Monita, dia segera bangun dari tidurnya dengan tatapan tajam, perkataan Monita seperti tamparan baginya, bagai dihunus pedang tepat di jantung, hati Ilham berdenyut nyeri, Monita ikut bangkit dari tidurnya dan berbalik badan menatap Ilham dengan tatapan yang sama tajamnya.
“Ceraikan aku Mas!”
Ilham mencengkram kedua bahu Monita dengan keras, lalu berkata.
“Asal kamu tau Monita Maheswari, mulai detik ini sampai selamanya, aku tidak akan pernah menceraikanmu, aku tidak akan melepaskanmu bahkan sekalipun kau lari, aku akan kembali mencarimu sampai ke lubang semut sekalipun!” Tegas Ilham dengan suara pelan namun penuh penekanan.
“Lepaskan aku!” Monita meringis kesakitan karena bahunya dicengkram kuat oleh Ilham.
Ilham mulai melepaskan cengkraman tangannya dari bahu Monita, melihat Monita meringis kesakitan menciptakan sakit di hati Ilham, dia tidak sampai hati melihatnya.
“Bukan kah di dalam surat perjanjian itu kita akan tetap bercerai? Awalnya aku akan lahirkan anak untukmu, aku akan berikan anak ini padamu dan Mbak Naomi, lalu akan pergi jauh, namun sekarang aku berubah fikiran, aku minta cerai sekarang juga darimu tak peduli nantinya aku akan hamil atau tidak, yang kau inginkan hanyalah anak kan? Kamu tenang saja, kalau ternyata aku hamil, aku akan tetap mengantarkan anak ini di sini, tapi selama menunggu kelahirannya, biarkan aku pergi dari sini.” Jelas Monita panjang lebar.
“Tidak akan Monita, aku tidak akan menceraikanmu, entah itu kau hamil atau tidak, aku tidak akan melepaskanmu! Persetan dengan surat perjanjian itu aku akan merobeknya!”
“Tapi kenapa?” Pekik Monita dengan suara melengking.
“Karena….” Ilham tidak melanjutkan ucapannya, lidahnya mendadak keluh, suaranya seperti tercekat, susah payah ia menelan air liurnya yang terasa pahit.
Ilham sudah mencintai Monita, tapi dia tidak punya keberanian untuk mengakuinya, ternyata Ilham masih gengsi, ia terdiam lalu melangkahkan kakinya menuju pintu kamar, sebelum ia menyentuh gagang pintu, ia kembali membalikkan badannya.
“Kau boleh marah dan menghindariku selama di rumah, tapi jangan pernah meninggalkan rumah ini apa lagi sampai mau bercerai, aku bersumpah aku tidak akan mengabulkan itu!” Ucap Ilham lalu langsung berlalu begitu saja meninggalkan Monita yang masih diam tak bergeming.
__ADS_1