
“Ma pa? Baru datang?” Tanya Naomi begitu dia sudah menuruni anak tangga dan berjalan menghampiri mama mertuanya yang sudah berdiri menatap sang menantu dengan tatapan yang tak biasa.
“Coba kamu jelaskan apa maksudnya ini Naomi?” Tanya mama Nancy dengan nada tegas, tatapannya sangat tak bersahabat. Mama Nancy yang biasanya bersikap hangat dan lembut kala berhadapan dengan Naomi kini berubah jadi ketus dan seakan ada kobaran api amarah yang meyelimuti dirinya.
Mama Nancy mengulurkan tangannya yang tengah memegang ponsel papa Agam, untuk memperlihatkan rekaman cctv yang menampilkan Naomi di sana.
Deggg
Jantung Naomi seakan berhenti berdetak, tubuhnya menegang, ia menelan salivanya yang mendadak pekat. Sejenak Naomi terpaku dan memutar otak untuk memikirkan, berbohong apa lagi kali ini agar tidak ketahuan. Namun seberapa keras pun Naomi berpikir untuk mengeluarkan sebuah ide, tetap saja otaknya seakan buntuh tak mampu berpikir jernih lagi.
Jelas saja wanita itu tegang, kedoknya terbongkar kala melihat rekaman cctv yang menampilkan dirinya yang baru selesai mengantar mertuanya sampai teras depan, begitu mertuanya pulang, ia mengeluarkan bantal berukuran sedang itu dari balik bajunya tepatnya di bagian perut.
“Lelah juga berpura-pura begini, tapi kalau tidak begini bisa-bisa aku ditendang dari keluarga Adhitama, aku akan terus berpura-pura seperti ini, sampai anak itu lahir lalu aku akan mengenalkan pada seluruh dunia kalau itu adalah anakku.” Naomi bermonolog sendiri dalam video rekaman itu.
“Kenapa diam saja Naomi? Jelaskan pada mama sekarang juga, anak siapa yang kamu maksud yang akan kamu jadikan anak itu?” Tanya Nancy dengan nada pelan, namun penuh penekanan.
Naomi terdiam dengan wajah piasnya, dia tidak tau lagi harus berkata apa, pasalnya dia tidak ingin mertuanya sampai tau kalau yang dia maksud itu adalah anak Monita, sungguh dia tidak rela Monita akan mengambil posisinya dan menempati hati mama Nancy yang memang sejak awal sudah menyukainya.
Istri mana yang rela posisinya tergeser oleh wanita lain, hanya karena dia tidak bisa memberikan mereka keturunan, nyatanya kemarahan kedua mertuanya ini bukan karena itu, sama sekali tidak. Sebetulnya mereka sudah menerima Naomi apa adanya sekali pun dia sudah tidak bisa melahirkan penerus Adhitama, namun pikiran Naomi yang terlalu jauh dan terlalu overthinking membuat wanita cantik itu melakukan banyak kebohongan.
“Maafkan Naomi ma.” Isak Naomi tertunduk, bibirnya bergetar mengungkapkan kata maaf itu.
Sementara pak Agam, hanya diam saja dengan raut wajah yang memerah akibat emosi yang membara. Pak Agam sangat sangat menyayangkan tindakan Naomi ini, baginya Naomi sudah menipu mereka mentah-mentah dan bodohnya mereka percaya begitu saja.
“Apa Ilham juga ikut andil dalam permainan bodoh ini Naomi?” Tanya pak Agam tanpa menatap Naomi. setelah sejak tadi diam, akhirnya dia mengeluarkan suara juga.
“Iy-iya pa.” Jawab Naomi tampak terbata.
“Keterlaluan! Kenapa kalian harus membohongi kami seperti ini?!” Sentak pak Agam yang beranjak dari duduknya lalu berbalik menatap Naomi.
“Karena kalian terlalu berharap lebih padaku! Padahal sewaktu aku melahirkan anak pertama waktu itu, dokter sudah memvonis kalau aku sudah tidak bisa hamil lagi selamanya, rahimku bermasalah!” Ujar Naomi dengan suara tegas.
“Tapi bukan dengan melakukan kebohongan sebesar ini Naomi.”
“Iya lalu apa ma? Bahkan baru saja aku sedang dalam masa nifas, mama dan papa sudah membahas anak lagi. Kalian pikir aku tidak berat begitu melihat mata kalian yang menaruh harapan besar padaku agar bisa memberikan pewaris tahta untuk keluarga ini? Aku tertekan ma, aku tertekan.” Lirih Naomi dengan berurai air mata, dia terduduk di sofa sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya tampak bergetar menunjukkan betapa terpukulnya dia dengan kenyataan ini.
__ADS_1
Merasa suasana sudah tidak terkondisikan lagi, bi’ Ratih dan juga Ija yang sejak tadi jadi penonton merasa tidak enak, dan berlalu dari hadapan mereka saat itu juga.
“Mama dan papa sama sekali tidak menekan kamu Naomi, kalau kamu jujur tentang keadaan rahim kamu sejak awal, mama dan papa akan tetap menerimanya tanpa harus membahas seorang anak lagi di depanmu yang akan membuat kamu tertekan pada akhirnya.” Ujar Nancy kemudian.
Memang dari awal Nancy tidak akan memaksa Naomi kalau memang dia sudah tidak bisa hamil lagi. Mana dia tau kalau rahim menantunya bermasalah, mana dia tau? Yang dia tau saat ini baik Naomi mau pun anaknya sama-sama sehat, jadi dia tidak henti-hentinya membahas soal cucu di depan mereka, kalau saja seandainya dia tau begini keadaannya, dia tidak akan menyinggung perasaan Naomi dengan terus membahas anak.
Walau sebenarnya tak bisa di pungkiri, jauh di dalam lubuk hatinya dia menginginkan seorang cucu, tapi dia tidak bisa memaksakan kehendak pada anak dan menantunya kalau memang tidak bisa. Nancy dan Agam adalah mertua idaman, mereka tidak pernah menuntut lebih pada menantunya itu, mereka bahkan sangat mengerti kondisi Naomi. Kalau ditanya mertua terbaik di dunia ini siapa, maka jawabannya adalah Nancy dan Agam. Tapi rupanya Naomi tidak mensyukuri itu, pikirannya yang terkontaminasi dengan drama-drama sinetron ikan terbang tentang mertua jahat membuat dia menjadi wanita yang overthinking begini.
“Hubungi Ilham sekarang dan suruh dia pulang, papa akan meminta penjelasan padanya.”
“Percuma pa, sejak semalam dia tidak mengangkat teleponku.”
“Kemana anak itu!” Gerutu Agam tampak kesal pada putranya juga.
“Lalu apa kau tau kejadian apa yang terjadi di rumah ini semalam?” Tanya Nancy yang sontak membuat Naomi mengerutkan dahinya.
“Ke-kejadian apa maksud mama?”
“Rupanya kau tidur pulas semalam sampai-sampai tidak mengatahui ada orang yang berpakaian serba hitam menyelundup masuk ke rumah ini, dan membius bi’ Ratih sampai pingsan di ruangan ini.”
“Apa?!” Pekik Naomi pura-pura terkejut, dia sontak beranjak dari duduknya, hatinya mendadak jadi ketar ketir, entah kebohongan apa lagi sekarang, yang bahkan Author saja belum tau.
“Na-Naomi tidak tau ma, semalam Naomi memang tidur dan soal cctv rumah, memang cctv itu rusak ma jadi Naomi menyimpannya di lemari dan akan segera Naomi perbaiki.” Alibi Naomi memberi alasan, tentu saja dia mengada-ngada, jelas-jelas semalam orang itu masuk ke kamarnya dan membekap mulutnya lantaran melihat dirinya yang hampir berteriak karena terkejut kamarnya dimasuki orang asing.
Rupanya wanita itu sudah terlatih bersilat lidah, dia berani mengutarakan kebohongan di saat menutupi kebohongan yang lain.
****
“Mas aku ke supermarket dulu ya, kulkas kamu kosong tidak ada apa-apa di sana yang bisa dimakan.”
“Tunggu sayang, biar aku antar.” Ujar Ilham seakan tidak mempercayai istrinya lagi.
“Mas, kamu di rumah jaga Dikta, lagi pula aku tidak mungkin kabur sedangkan Dikta ada di rumah ini bersama mu.”
Benar juga kata istrinya, mana mungkin dia kabur sedangkan Dikta ada bersamanya, akhirnya Ilham mengangguk patuh, lebih baik dia di rumah saja menjaga Dikta, di sini tidak ada siapa-siapa yang bisa Ilham percayai untuk menjaga Dikta, apalagi Eden sedang ke kampus, meski pun sebenarnya ada pelayan wanita yang lain, tapi Ilham belum mempercayai mereka sepenuhnya. Ya untuk urusan Dikta Ilham juga tak kalah posesifnya.
__ADS_1
“Kamu harus pergi ditemani supir ya, jangan pergi sendiri, ada pak Rudi di depan kau pergi bersama dia saja.” Ucap Ilham seakan takut istrinya diculik orang, lebih tepatnya diculik David.
“Iya, aku pergi ya mas, tolong jaga Dikta baik-baik.”
“Siap ibu negara.” Jawab Ilham seraya menampilkan senyuman lebar untuk sang istri.
Setelah Monita berlalu, Ilham melirik anaknya yang sedang terbaring di tempat tidur.
“Baby boy, kita mandi ya.” ucap Ilham pada putranya dan menganngkat Dikta menuju kamar mandi untuk dimandikan.
Ilham tidak punya pengalaman memandikan bayi, hanya dengan berbekal kemampuan otodidaknya mencari tutorial di Youtube, dia memberanikan diri untuk memandikan Dikta.
Begitu selesai mandi dia menidurkan Dikta yang terbungkus handuk putih itu di ranjang, pada saat dia mengambil baju dan perlengkapan Dikta lainnya, Dikta menangis karena dia memang tidak suka dibaringkan sedangkan dirinya belum mengantuk.
Ilham melirik Dikta dan berkata, “tunggu sebentar sayang, papa mau mengambil bajumu.” Ujar Ilham pada anaknya lalu kembali melanjutkan pencariannya.
Pada saat dia sibuk mencari perlengkapan Dikta, bayi itu kembali menangis bahkan lebih keras dari sebelumnya. Ilham pusing sendiri dibuatnya, belum juga selesai ganti baju, anak itu sudah minta digendong.
Ilham kembali ke ranjang dan meletakkan baju yang akan Dikta kenakan, namun dia belum menemukan minyak telon serta minyak wangi anaknya.
Ia memeluk Dikta sesaat dan menepuk-nepuk pelan punggung putranya itu agar tenang, setelah dirasa Dikta sudah tenang, Ilham kembali membaringkan Dikta ke tempat tidur, namun baru saja dibaringkan, lagi-lagi Dikta menangis.
“Hah lalu aku harus bagaimana Dikta?” Keluh Ilham dengan wajah lelahnya menatap anaknya yang terus saja mengeluarkan suara tangisannya bahkan yang kali ini lebih keras lagi.
Akhirnya Ilham mengambil sebuah mainan kecil untuk Dikta, dan memberikannya. Dikta terdiam begitu mendapatkan mainan itu dan sibuk menggigit mainan tersebut dengan gusinya.
Melihat Dikta sudah tenang, Ilham kembali melanjutkan pencariannya.
“Minyak telonnya yang mana? Kenapa banyak sekali.” Gumam Ilham sendirian melihat begitu banyaknya botol-botol perlengkapan Dikta di atas meja.
“Oh ini shampo rupanya.” Ilham bermonolog sendiri seraya melirik Dikta sekilas.
“Rambut cuma satu pake shampo segala.”
Sudah setengah jam Ilham mencari minyak telon dan minyak wangi Dikta, tapi tidak ditemukan juga. Bahkan rambut dan tubuh Dikta sudah kering kembali dan sudah tidak terlihat seperti baru mandi.
__ADS_1
“Nah ini dia.” Akhirnya Ilham menemukan botol minyak telon putranya, rupanya jatuh di bawah kolong meja.
Ilham pun mulai menggosokkan minyak telon di tubuh Dikta dan mengganti pakaian putranya, terlihat kaku dan sangat lama padahal hanya memakaikan baju saja namun bukan berarti tidak bisa, Ilham berhasil melakukannya walau membutuhkan waktu berabad-abad lamanya.