Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 129 Akhir Kisah Naomi


__ADS_3

Sepanjang acara pertunangan Eden berlangsung, Monita selalu stand bye di depan ponsel untuk melakukan panggilan video bersama Amira dan juga Shaka. Bagaimana tidak, dua pasutri itu saat ini sudah menetap di Jerman membawa nenek Emely berobat dan tidak tau kapan akan pulang dan entah kapan mereka berangkat Monita juga tidak tau. Ibu satu anak itu sibuk dengan persiapan pesta pertunangan Eden jadi dia tidak sempat berkomunikasi dengan Amira.


Lain halnya dengan Ilham, pria itu sudah tau lebih dulu perihal keberangkatan mereka karena dua pasutri itu hanya berpamitan dengan Ilham lalu Ilham juga yang mengantarkan mereka sampai bandara.


“Kenapa tidak bilang kalau sudah pergi? Mas Ilham juga, sempat antar kalian ke bandara tapi tidak ajak aku.” Keluh Monita seraya melriik singkat suaminya yang kala itu tengah berdiri di sampingnya.


“Kan waktu itu kamu sedang sibuk temani Eden dan Andre pilih cincin tunangan sayang.” Sahut Ilham sembari mengusap pundak istri yang kini menjadi satu-satunya dalam hidupnya itu sembari mendekap wanita itu dengan hangat.


“Sudah lah Monita, santai saja. Kan masih bisa saling kirim kabar.” Sergah Amira yang jadi tak enak hati melihat Monita yang jadi menyalahkan suaminya.


“Iya, tapi tetap saja Mir, aku ingin mengantar kalian sampai bandara.”


“Oh ya, Dikta mana?” Tanya Amira sengaja mengalihkan pembicaraan.


“Ada tu lagi main sama Ija.” Jawab Monita seraya mengarahkan kamera ke arah putranya yang kala itu tengah fokus menerima makanan yang disuapkan Ija padanya.


“Aku bahkan tidak sempat menyapa anak kalian sebelum pergi. Begitu sampai di sini, Queen dan Samudra tak henti-hentinya mempertanyakan Dikta. Katanya mereka rindu.”

__ADS_1


“Lalu di mana mereka? Bukan kah akan lebih baik jika mereka berbicara dengan Dikta.”


“Sayangnya mereka sedang tidur Mon.”


“Ya sudah lain kali saja.”


Beberapa saat setelah mereka asyik berbincang, pihak rumah sakit menghubungi Ilham. Pria itu mengerutkan dahi dan tiba-tiba bungkam setelah mendengar fakta kalau Naomi telah berlalu.


“Ada apa mas?” Tanya Monita mengalihkan fokusnya ke arah sang suami.


“Baik saya akan ke sana sekarang.”


“Apa apa Ham?” Kali ini Shaka yang bertanya.


“Nanti saya jelaskan, aku tutup telponnya dulu.” Jawab Ilham mematikan sambungan telpon mereka dan tanpa pikir panjang, mereka berlalu keluar, tentu saja lebih dulu pamit pada Eden dan Andre yang kala itu, tengah duduk berdua di ruang keluarga begitu acara pertunangan mereka usai.


Kepergian Naomi bukan sesuatu yang patut disyukuri, meski pun wanita itu banyak menorehkan luka, tapi Ilham mau pun Monita masih mau meluangkan kesempatan untuk mengurusi jenazahnya.

__ADS_1


Selain mereka, ada mama Nancy dan juga papa Agam yang bersedia datang ke rumah sakit begitu mendengar mantan menantu mereka meninggal. Keluarga Adhitama mempunyai hati yang luar biasa baik, tak peduli dengan perbuatan Naomi, mereka masih mau berbesar hati membantu prosesi pemakaman wanita itu. Bahkan tak tanggung-tanggung, jenazah Naomi di bawah ke rumah orang tua Ilham untuk disemayamkan di kompleks pekuburan yang tak jauh dari kediaman tuan dan nyonya besar itu.


Hari itu benar-benar menjadi duka, bahkan Ilham tidak menyangka bahwa kehidupan Naomi berakhir di usia yang masih cukup muda. Mantan istrinya ini memang tidak memiliki keluarga sejak dahulu, oleh karena itu Naomi haus kasih sayang dan butuh seseorang yang benar-benar merengkuhnya dalam kehangatan.


Kendati demikian, Ilham tetap memperlakukannya sebagai bagian dari keluarga Adhitama, atas permintaan Monita tentu saja. Hal ini membuat mama Nancy dan papa Agam kagum luar biasa, bagaimana bisa Ilham menerima seorang pengkhianat seperti Naomi. Padahal biasanya pria itu tidak akan pernah sudi memaafkan seseorang yang pernah menorehkan luka dalam benaknya.


Inilah akhir kisah Naomi, di usia 30 tahun tepat di hari ulang tahunnya, Naomi Ratu tutup usia. Ilham menatap nanar gundukan tanah yang di dalamnya terdapat jasad sang mantan istri, jalan jodoh mereka memang tetap akan berakhir sekali pun wanita itu tidak berulah dan rumah tangga mereka tidak kandas, Ilham tetap akan kehilangan Naomi hari ini juga. Bahkan sangat disayangkan, Naomi pergi di saat statusnya sudah bukan istri Ilham lagi, miris memang. Dan dalam hal ini, yang patut disalahkan memang Naomi, karena mau sampai di manapun, yang salah dalam hal ini adalah dirinya.


Sementara di sisi lain, Rendy sudah mendengar kabar kematian Naomi. Pria itu benar-benar tak berhati, enam tahun mereka menjalani hubungan, Rendy tidak pernah menaruh rasa pada wanita bersurai indah itu, walau hanya seujung kuku.


“Biarkan saja, ajal tidak ada yang tau kan. Kalau dia mati, masih banyak wanita di luaran sana yang bisa kujadikan partner ranjang.” Pria itu membatin seraya menampilkan seringainya.


****


“Mas, kasihan ya mbak Naomi. Sampai saat ini aku masih belum percaya kalau dia sudah berpulang.” Tutur Monita yang kala itu tengah duduk beraama Ilham di taman samping rumah mertuanya.


“Tapi ya mau bagaimana lagi sayang, semua manusia akan mati. Kita berdoa saja semoga Naomi di tempatkan di tempat yang layak di sisi-Nya.”

__ADS_1


Monita melirik suaminya dengan tatapan tak menyangka. Bagaimana tidak, Naomi adalah wanita pertama yang menempati tahta tertinggi dalam hati sang suami, bahkan demi wanita itu suaminya berkali-kali mengabaikan Monita, namun begitu semuanya terbongkar, secepat itu perasaan Ilham berubah.


Jika kembali mengingat bagaimana cara Naomi memohon padanya untuk menikah lagi, hingga pertemuannya secara tidak sengaja dengan Monita, membuat Ilham berpikir bahwa ini memang sudah jalan jodohnya bersama Monita.


__ADS_2