Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Aneh


__ADS_3

Pagi ini Zifa terkejut karena sebuah pesan yang masuk diponselnya. Pesan dari seseorang yang mengatakan akan menjemputnya untuk pergi bersama ke Sekolah. Zifa ingin menanyakan siapa si pengirim pesan itu, namun ia urungkan. Siapa tahu saja itu hanya orang iseng. Lagipula, motornya kan sudah baik jadi ia bisa pergi sendiri.


Semalam Zifa sengaja mengurung diri di kamar, agar kedua orang tuanya tak menginterogasi tentang Bima kemarin. Bahkan ia rela melewatkan makan malamnya. Dan pagi ini, ia sengaja melambat-lambatkan gerakannya, agar waktu berangkatnya kepepet dan ia terbebas dari pertanyaan yang akan diajukan orang tuanya. Zifa bukannya tak ingin menjelaskan siapa Bima, hanya saja ia yakin mereka tak akan percaya jika Zifa mengatakan Bima adalah temannya. Atau mungkin Papanya akan menguliahinya selama berjam-jam, membahas tentang batasan hubungan antara perempuan dan laki-laki seolah-olah ia tak pernah muda.


'Karena Papa pernah muda makanya Papa ngingatin kamu terus' begitulah alasan Juna kalau Zifa sudah mencibir sifatnya yang satu itu.


Selesai memasang sepatu, gadis itu melirik jam yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya.


"Kayaknya udah boleh deh. Pasti Papa udah berangkat juga!" ujarnya sambil beranjak keluar dari dalam kamarnya.


Zifa menuruni anak tangga, samar-samar ia memdengar suara orang berbincang-bincang di bawah sana.


"Nih dia, yang ditunggu-tunggu. Kalau Om jadi kamu yah Bim, udah Om tinggalin dari tadi" cibir Juna.


Zifa melotot saat melihat keberadaan Bima di ruang tamunya. Ngapain dia di sini? pikirnya.

__ADS_1


"Kamu ngapain di sini Bim?" tanya Zifa tanpa menghiraukan perkataan Juna tadi.


"Tadi aku udah ngirim pesan ke kamu. Jadi aku rasa kamu tahu kenapa aku ke sini" jawab cowok itu datar.


Zifa menganga. Jadi pesan itu dari Bima?


"Udah sana berangkat. Itu Mama buatin kamu bekal karena kamu nggak sarapan" ujar Ningsih sambil menunjuk bekal yang ada di atas meja.


"Eh?! Iya Ma. Kalau gitu Zifa berangkat. Assalaamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalaam" jawab Juna dan Ningsih.


"Iya. Hati-hati yah, nyetirnya!" peringat Juna yang diangguki Bima.


"Anak kita ternyata udah besar yah, kak!" ucap Ningsih sepeninggal Bima dan Zifa.

__ADS_1


"Iya. Waktu nggak terasa cepat berlalu. Padahal rasanya baru kemarin, aku menangis haru saat mengazaninya" kedua suami istri itu kemudian terkekeh saat menyadari suasana melo yang mereka ciptakan.


Beranjak ke Zifa dan Bima. Zifa masih memandang heran ke arah Bima. Perasaan ia tak menghubungi Nara untuk meminta dijemput. Apa memang Nara yang menyuruh Bima lagi?


"Bim" panggil Zifa membuat laki-laki itu menoleh pada Zifa yang berada di belakangnya.


"hmm?"


"Kamu disuruh Nara lagi yah?" tanya Zifa.


Bima terdiam sebentar, kemudian menggeleng. "Lalu?" tanya Zifa lagi.


"Ininsiatif sendiri" jawabnya santai. Zifa melongo "Hah?! maksudnya?"


"Udah nggak usah banyak tanya. Naik sekarang, kalau nggak mau kita terlambat" Zifa tersadar kemudian menurut. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam tak saling bicara. Bima sibuk menyetir sedangkan Zifa sibuk dengan pemikirannya akan sikap Bima hari ini. 'Dia kenapa sih? aneh banget! kok aku jadi ngeri yah sama ni es batu?' batin Zifa sambil memandangi punggung Bima. Zifa tersentak dan reflek memeluk Bima saat cowok itu mengerem tiba-tiba.

__ADS_1


"Kaget yah? makanya pegangan kalau mau melamun di atas motor biar nggak jatuh" ujar Bima dengan suara sedikit keras. Zifa malah kembali bengong, satu kata untuk Bima hari ini, Aneh! Tapi.....bukankah pria itu memang aneh sejak awal mereka ketemu?


Ayo berikan dukungannya untuk zifa dan Bima😊


__ADS_2