Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Bakso lagi


__ADS_3

Zifa dan Nara melangkah bersama menuju perkiran. Di sana, sudah terlihat Azraf dan Bima tengah mengobrol. Dari jauh, perbedaan keduanya sangatlah mencolok. Azraf dengan wajah ramahnya, sedangkan Bima dengan wajah datarnya. Zifa bingung, apa Azraf nggak merasa stres berbicara dengan manusia namun layaknya patung datar itu?


"Ih, si Bima udah datang aja. Pasti takut kamu nunggu tuh! Memang yah, cowok idaman banget!" Zifa hanya mampu menghela nafas pelan akan ledekan Nara. Jika ia menyangkal atau meladeni Nara, ledekan gadis itu bukannya akan berhenti malah makin menjadi-jadi. Lebih baik ia diam saja.


"Oh Bima.... pangeran bermotor warna merah putih. Datang menjemput putri singa yang sensitif!" Nara semakin meledeknya dengan puisi tak jelas, dengan kesal Zifa memukul lengan sahabatnya itu. Bukannya marah, Nara malah tertawa keras, hingga membuat pasangan sepupu itu menoleh.


"Kamu kenapa sayang, ketawanya keras banget suaranya?" tanya Azraf. Zifa berekspresi seperti ingin muntah saat mendengar panggilan Azraf ke Nara.


"Iri aja kamu Zi!" cibir Nara saat melihat ekspresi Zifa.


"Iri? Hellow! Aku benaran mau muntah loh Nar, dengarnya. Enek tau nggak!"


Azraf yang sudah terbiasa dengan sikap Zifa malah tertawa. Baginya, Zifa itu hampir mirip dengan Bima. Mereka sering mengatakan hal-hal yang terdengar menyakitkan, tapi itu tak serius. Dalam artian candaan. Yah, cara bercanda orang galak sama cara bercanda orang dingin itu sama.

__ADS_1


Bima menarik pergelangan tangan Zifa mendekat ke motornya. "Naik. Nggak usah ganggu mereka pacaran"


Zifa menghempaskan genggaman Bima, karena tak terima ucapan cowok itu. "Siapa yang ganggu mereka sih? Aku itu cuma nggak mau Nara terlena sama sikap manis sepupu kamu yang playboy itu" ujar Zifa membela diri.


"Aku tahu. Tapi Azraf udah berubah dia udah nggak playboy lagi sekarang semenjak sama Nara. Sama dengan aku yang berubah semenjak kenal kamu"


Zifa melongo mendengar perkataan Bima. Kok kata-kata nih cowok terdengar seperti menggombal yah? dan sialnya wajah Zifa memerah saat mendengarnya.


"Apaan sih ketawa, nggak ada yang lucu tau nggak!" kesal Zifa. Ia memukul keras bahu milik Bima.


"Cerewet!" gumam Bima pelan agar Zifa tak mendengarnya. Kemudian cowok itu meninggalkan parkiran sekolah.


Zifa terlihat bingung saat Bima menghentikan motornya di warung bakso yang sudah dua kali mereka kunjungi. Apa Bima akan membelikan Mamanya Bakso lagi? Mama? tapi bukannya Tante Widya nggak di sini yah? terus yang waktu itu Bima sebut Mama siapa? batin Zifa bertanya-tanya.

__ADS_1


"Kenapa berhenti di sini?" tanya Zifa.


"makan" satu kata yang seketika itu membuat Zifa senang.


"Eh Bim, waktu itu kan kamu bilang mau beliin Mama kamu bakso. Mama siapa? Bukannya Tante Widya nggak di sini?" tanya Zifa penasaran.


"Mamanya Azraf, tante aku. Aku juga manggil dia Mama" jelas Bima. Zifa mengangguk "Oh, berarti rumah yang kamu tinggali rumahnya Azraf yah?"


"Iya"


"gitu yah? Teru...."


"Diam Zifa. Cerewet banget!" ujar Bima membuat Zifa mendelik. Memang yah, ia sama Bima sama sekali nggak bisa akur lama-lama. Padahal Zifa berharap mereka akan akur selama di warung bakso ini, siapa tahukan Bima berbaik hati mentraktirnya.

__ADS_1


__ADS_2