
"Sayang, hari ini kamu nggak lembur kan?" tanya Ningsih melalui panggilan telepon pada Zifa.
"Enggak sih Ma!" jawab Zifa. "Emang kenapa Ma?" lanjutnya.
"Emm, kamu pulang cepat yah. Pokoknya, sebelum maghrib kamu udah di sini!"
Zifa menghela nafas pelan. "Kan biasanya juga gitu kali Ma. Emang kenapa sih? Jangan bikin Zi penasaran deh Ma" ujar Zifa sedikit kesal.
"Udah, nanti kamu tahu sendiri. Mama matiin yah sambungannya, soalnya Mama cuma mau ngasih tahu itu"
Zifa menggeleng pelan akan tingkah Mamanya. Wanita itu seakan sedang bahagia terdengar dari suaranya yang begitu ceria tadi.
Seperti ucapan Mamanya tadi, ia pun pulang tepat waktu. Zifa memasuki rumahnya yang sunyi membuat gadis itu mengernyit heran.
"Mama kenapa suruh aku pulang cepat kalau rumah aja sunyi gini? Orang rumah pada ke mana sih?" gumamnya.
__ADS_1
Zifa mendengar suara gaduh di dapur, membuat ia mengerti kalau sang Mama sedang memasak. Zifa memutuskan untuk ke dapur terlebih dahulu, gadis itu kebetulan sedang haus.
Zifa memekik kaget saat melihat siapa yang sedang memasak dengan Mamanya. Pekikan Zifa juga tentu membuat tiga orang wanita itu terkejut dan berbalik menatapnya.
"Tante Wita, Mami Tania! Kalian datang kapan" tanya Zifa sambil menghambur memeluk dua orang wanita tersebut.
"Datang tadi sayang!" ujar Wita dan Tania hampir berbarengan.
"Nggak disangka yah, sekarang Zi udah gede. Dulunya yang suka nangis-nangis minta dibeliin mainan sama eskrim, sekarang udah bisa beli apa aja sendiri karena udah kerja" ujar Tania mengenang sambil memegang pipi keponakannya itu.
"Iya. Tante juga ingat banget dulu kamu suka merengek minta digendong Om Novalmu kalau lagi dimarahi Mama kamu saat kita ngumpul-ngumpul" Wita ikut mengacak lembut rambut Zifa. Dua wanita itu memang sngat menyayangi Zifa bagai anak sendiri.
"Iih, Mami!" rengek Zifa pada Tania dan seketika mendapat cibiran dari Ningsih. "Ngapain ngerengek gitu, udah nggak imut kali!" Tania dan Wita kembali tertawa sedangkan Ningsih makin memajukan bibirnya.
"Nggak, Mami bercanda kok. Mau kamu nggak tinggipun Mami tetap sayang" ujar Tania sambil menarik hidung milik Ningsih.
__ADS_1
"Makasih Mami. Makin sayang Mami deh!" ia kembali memeluk pinggang Tania membuat Ningsih menggeleng pelan akan tingkah anaknya. Sedangkan Wita hanya tertawa kecil dan memilih melanjutkan pekerjaannya.
"Oh yah, yang lain Mana?" tanya Zifa menyadari kalau hanya ada tiga wanita itu saja.
"Papa kamu bentar lagi pulang, Om Noval dan Om bimo lagi ngajak Thea sama Deril jalan-jalan. Karena Deril tadi rewel" jawab Ningsih.
Thea dan Deril adalah anak Wita. Sebenarnya ada kisah sedih yang pernah dijalani Wita dulu. Dulu, ia sangat susah hamil. Bahkan saat pernikahannya sudah sepuluh tahunpun ia belum dikaruniai seorang anak. Akhirnya Wita dan Noval memutuskan untuk mengangkat anak saja, dan anak itu adalah Thea. Thea sekarang sudah berumur lima belas tahun dan sudah duduk di bangku kelas satu SMA. Namun tak disangka, seolah keajaiban. Saat berumur empat puluh dua tahun Wita dikaruniai anak berjenis kelamin laki-laki, dan itu adalah Deril. Kini anak itu sudah berusia sekitaran tiga tahunan kalau Zifa tak salah karena gadis itu juga belum pernah melihatnya langsung. Tahukan, selama ia dia menjauh dari keluarganya dan hanya pulang sesekali.
Berbeda dengan Tania, wanita itu hanya mempunya satu anak saja. Bita namanya. Bita sejak SMA lebih memilih sekolah di Jepang, jauh dari keluarga. Padahal dia anak satu-satunya. Kuliah pun ia tetap memilih di sana. Bahkan, ketika lulus ia bukannya pulang malah memutuskan untuk membuka cabang perusahaan milik keluarga di negara yang pernah menjajah Indonesia itu.
"Ya udah, kalau gitu Zi mau ke atas dulu. Mau mandi, sama siap-siap" pamitnya.
"Iya" balas ketiganya.
"Oh yah sayang, Bita juga akan datang!" teriak Ningsih saat Zifa sudah keluar dari pintu dapur. Zifa menghentikan langkahnya dan berbalik kembali pada tiga wanita oaruh bayah namun masih sangat cantik itu.
__ADS_1
"Benaran Ma? Mami benar? Tante? Apa itu benar?" ia melontarkan pertanyaan pada mereka satu persatu guna meyakinkan. "Iya sayang!" jawab ketiganya kompak, saat itu juga Zifa melompat kesenangan. Bahkan ia segera berlari menuju kamarnya dengan semangat sambil sesekali bersenandung kecil. Yah, sudah lama ia tak bertemu sepupunya itu.
Jangan lupa ritualnya yah, yaitu like, vote dan komentar😊