
Zifa memandang kotak di depannya, kemudian menghela nafas pelan. Bima yang duduk di sampingnya menatap kegiatan Istrinya itu terkekeh pelan.
"Buka aja, kan kamu penasaran!" suruh Bima.
Zifa menatap Bima ragu "Ini isinya bukan foto atau barang-barang cewek lain kan?"
"Bisa jadi yah, bisa jadi juga tidak" jawab Bima santai. Zifa melengos mendengar ucapan Bima yang menyebalkan. Ia kemudian kembali memusatkan perhatiannya pada kotak itu.
Zifa perlahan membuka kotak milik Bima tersebut, lalu mulai meneliti barang-barang yang ada di sana satu persatu.
Yang pertama ia temukan adalah tiket nonton. Zifa ingat, itu adalah tiket film yang mereka nonton saat pertama kali bertemu.
"Kenapa masih disimpan?" tanya Zifa penasaran. Ia meneliti kertas itu, ingin kembali memastikan apa benar atau salah.
"Karena itu pertama kalinya aku ketemu kamu. Aku udah bilang kan, kalau aku suka sama kamu di awal pertemuan" jelas Bima. Zifa mengangguk mengerti, ia kemudian beralih pada barang selanjutnya. Zifa saat ini terlihat seperti Yuotuber yang tengah meriview barang, bedanya Bimalah yang menjelaskan.
Zifa mengeluarkan tiga Novel dari dalam kotak tersebut, okey. Kali ini Zifa tak akan bertanya, karena ia sudah tahu saat Bima bercerita tentang novel yang sampai saat ini masih disimpannya. Dan benar, bahkan buku itu masih terbungkus plastik dengan rapi.
Zifa kemudian mengerutkan alisnya heran saat melihat fotonya dengan Bima saat sedang menikmati Bakso. "Gimana bisa ada foto kita? Terus siapa yang motoin?" tanya Zifa penasaran. Sepertinya isi kotak ini terurut sesuai pertemuan mereka.
"Oh, itu. Mungkin kamu nggak ingat, waktu itu aku tinggalin bentar sendirian, karena kamu lagi sebel kan, jadi mungkin kamu nggak merhatiin. Nah, aku minta tolong tuh sama yang mejanya sebrangan ama kita untuk motoin. Ternyata dia pintar banget ngambil angelnya.
Okey, Zifa akui di foto itu memang ekspresi keduanya walaupun tidak sedang tersenyum atau tertawa, tapi fotonya tetap estetik.
__ADS_1
Beralih ke barang selanjutnya, ternyata foto juga. Namun yang berbeda, di foto itu hanya Zifa sendirian. Ia sedang berdiri di samping Motor Bima dengan wajah kesalnya.
"Ini waktu....."
"Aku nyuruh kamu nungguin aku beli Bakso" Bima mengingatkan. Ia mendengus pelan, apa cuma dia yang ingat momen-momen itu? Bahkan Bima sudah memperkirakan kalau Zifa akan menangis terharu, ini malah wajah ingin tahu saja yang Istrinya itu perlihatkan.
"Hahaha! Jangan marah dong, kan aku cuma nanya. Lagian, latarnya kan aku nggak tau lagi di mana. Siapa tau aja kan kalau aku cemberut gitu gara-gara kamu nyuruh aku dorongan motor gede kamu" canda Zifa.
"Mana ada!" sangkal Bima cepat. Okey, Bima harus menyiapkan kesabaran tinggi untuk Istri sejahil Zifa ini.
Barang selanjutnya hanya foto-foto kebersamaan mereka saat PDKT dan pacaran. Zifa tidak terlalu bertanya, yang ia tahu ternyata Bima banyak menyimpan foto kebersamaan mereka.
Tapi, pada benda setelah foto-foto itu mulut Zifa menganga lebar. Ini benar-benar membuatnya terkejut. Zifa yakin hanya Bima yang melakukan hal konyol seperti ini, walau ini sangat manis sih. Bima memang romantis dengan caranya sendiri.
Kertas HVS yang berisi hasil screenshot semua chat mereka dari awal hingga akhir yang sudah di print.
Gila bukan??!
"Astaga, Sayang! Kenapa kamu bisa kepikiran nyimpan yang kayak gini sih?" Tanya Zifa masih dengan keterkejutannya.
Bima menggaruk kepalanya yang seketika merasa gatal. "Ya itu karena aku....nggak mau chat-chat kita itu hilang atau kehapus saat aku ganti HP"
Zifa langsung ngakak di tempat. Astaga! Kenapa Bima bisa sebucin ini sih? Benar-benar manusia aneh suaminya ini.
__ADS_1
"Jangan ketawain, ih! Itu aku buat hanya untuk menjaga kenangan kita. Aku nggak mau semua tentang kita itu hilang gitu aja" rengek Bima seperti anak kecil.
Ia tahu, itu memalukan. Tapi kan ini bukti kalau dia memang sangat mencintai Zifa. Definisi bucin yang sebenarnya.
"Oke, oke. Aku nggak akan tertawa!" Zifa berusaha menetralkan wajahnya. Ia kemudian beralih pada benda terakhir. Ponsel?
Ia mengangkat alisnya untuk bertanya pada Bima. "Itu ponsel yang aku pakai waktu SMA. Sengaja aku simpan di sini, karena saat pacaran sama kamu kan aku pakai ponsel itu" jawabnya.
"Ini masih hidup atau..."
"Udah mati total. Pas waktu aku kuliah di Singapura, aku masih pakai ponsel itu. Nggak peduli walau terlihat sudah ketinggalan zaman. Sayangnya, sempat nggak sengaja jatuh ke lantai dan layarnya menghitam. Ya udah, aku ganti yang baru. Untung aja semua chat kita udah aku print, jadi aku nggak stres-stres amat deh. Kalau aku kangen kamu, aku ambil kertas itu untuk aku baca-baca"
Zifa akui, meski ini terlihat aneh, tapi benar-benar membuatnya bahagia. Bersama Bima, ia merasa dicintai begitu besar selain dari cinta ayahnya sih. Ia tak menyangka, kalau Bima begitu menghargai semua kenangan mereka. Padahal jika dipikir-pikir, Zifa yang dulu marah malah nggak mau menyisakan apapun yang berhubungan dengan Bima. Bahkan mendengar nama pria itupun Zifa nggak Sudi.
Zifa langsung memeluk Bima setelahnya, ia kemudian mencium pipi pria yang menjadi suaminya itu.
"Makasih! Makasih karena mencintai aku sebesar ini. Aku bersyukur akan hal itu. Terimakasih sudah mau menunggu, memperbaiki hubungan kita, juga mau menjadikan aku sebagai pendamping hidup. Aku benar-benar mencintaimu suamiku, Bima Putra Dwi Agung" bisik Zifa membuat senyum Bima merekah lebar.
Diantara pacar, suami, teman atau mantan reader ada yang bucin kayak Bima enggak? Ceritain bucinnya mereka di kolom komentar yah. Biar Mas Bim-bim ada temannya ngebucin😅
Oh yah, jangan salah paham yah. Aku nyuruh komentar karena memang aku suka baca komentar para readers aku. Buktinya aku sering ngasih like di komentar kalian. Itu juga salah satu cara menaiki mood aku sih☺️
Jangan lupa like, komentar, vote, sama ngasih hadiah yah🤗☺️
__ADS_1