
Maaf yah kemarin nggak up, soalnya kemarin author sejak malam itu demam. Syukurnya sekarang udah lumayan membaik😊
"Assalaamu'alaikum! Ma!" ucap Zifa sedikit berteriak karena mendapati rumahnya yang terlihat sunyi.
"Wa'alaikumsalaam" terdengar jawaban Ningsih dari dalam. Zifa segera mempersilahkan Bima dan Lia untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Loh, Zi. kok kamu udah pulang. Ada Bima juga, dan ini......siapa?" ujar Ningsih keheranan.
"Eh, ini Ma. Kenalin, ini Lia. Teman barunya Zi"
"Lia tante" ucap Lia, ia mengambil tangan Ningsih untuk ia salami. "Ningsih, Mamanya Zifa" balas Ningsih sambil tersenyum karena sikap Lia yang begitu sopan.
"Bima, Lia, aku mau ngomong sebentar yah sama Mama" Zifa kemudian mengalihkan tatapannya pada Ningsih "Zi mau ngomong sebentar Ma, di sana aja" tunjuk Zifa ke arah dapur.
Ningsih menurut, keduanya kemudian berpamitan, namun sebelumnya mempersilahkan Bima dan Lia untuk menunggu sambil duduk di sofa.
"Mau ngomong apa?" tanya Ningsih bingung.
__ADS_1
"Begini Ma. Lia itu anak dosennya Bima saat kuliah dulu. dia asli orang Indonesia, namun Keluarga Lia sudah lama menetap di Singapura, rumahnya yang di sini juga sudah mereka sewakan sama orang lain. Nah, Lia itu datang ke Indonesia untuk berlibur selama dua minggu, jadi Zi mau izin sama Mama untuk ngajak Lia tinggal di sini aja. Kasian juga kalau dia di hotel terus, kan waktunya di sini lama" jelas Zifa.
Ningsih mengangguk mengerti "Ya kalau Mama nggak masalah sih. Lagipula itu bagus banget menurut Mama, kan lusa Mama sama Papa mau ke luar kota. Jujur aja, Mama sama Papa itu khawatir kamu di sini sendirian. Kalau kamu punya teman kan kita bisa tenang"
Zifa tersenyum senang "Tapi...." sambung Ningsih membuat Zifa penasaran. "tapi apa Ma?"
"Tapi kamu harus minta izin dulu ke Papa kamu. Kan Papa kamu pemilik kuasa tertinggi untuk mengambil keputusan di rumah ini" ujar Ningsih mengingatkan. Zifa terkekeh pelan, ia kira apa. "Ya udah deh, Zi mau nelpon Papa dulu" Ningsih mengangguk, ia membiarkan Zifa berbicara pada Juna sementara dirinya membuatkan minuman untuk kedua tamunya yang datang bersama sang anak tadi.
"Maaf yah Lama. Zifa tadi ngomong sama Tante untuk ngajak kamu tinggal di sini selama masa liburan kamu" ucap Ningsih sambil menyajikan minuman yang ia bawa untuk Bima dan Lia.
"Iya. Nggak apa-apa kok Tan. Maaf yah, jika merepotkan"
Tak berapa lama, Zifa mendekat ke arah mereka. "Gimana?" tanya Ningsih memastikan.
"Diizinin dong!" jawabnya dengan raut senang.
"Ayo Lia, aku anterin kamu ke kamar. Nanti kamu sekamar sama aku aja. Biar kita makin akrab!" ajaknya begitu antusias.
__ADS_1
Ningsih dan Bima saling pandang dan menggeleng tak percaya akan tingkah Zifa.
'padahal tadi aja sebelnya minta ampun saat aku bilang mau jemput Lia' batin Bima.
"Ya nantilah sayang! Biarin Lia istirahat sejenak dulu, sama minum minuman yang Mama bawakan tadi baru kamu ajak ke atas" tahan Ningsih. Kasihan juga tamunya belum sempat minum udah dibawa Zifa lagi.
"Hehehe, iya Ma. Abis Zi senang banget dapat teman" cengirnya. Ia kemudian mendudukkan diri di samping Bima.
Bima yang tak tahan akan sikap Zifa yang begitu lucu dan menggemaskan di matanya, mengacak rambut gadis itu dengan lembut. "Kamu itu yah, udah kayak anak kecil aja"
"Tapi kamu sukakan sama cewek yang kamu sebut anak kecil ini" goda Zifa sambil mengedip-ngedipkan matanya menggoda Bima.
"Bukan suka lagi, tapi cinta pake banget! Kalau nggak ngapain nunggu sampai lima tahun lebih, humm?" balas Bima tak mau kalah. Ia bahkan menatap lurus ke dalam mata Zifa, menandakan kalau yang ia katakan adalah kejujuran.
"Ehmmm, di sini masih ada orang loh!" keduanya kemudian tersadar dan langsung tertawa karena ucapan Ningsih. Ngomong-ngomong, Ningsih begitu senang saat Zifa memberitahunya beberapa hari yang lalu kalau hubungannya dan Bima kembali membaik.
"Maaf Tante. Habis anak Tante suka bikin nggak sadar tempat" canda Bima yang mendapat hadiah geplakan dari Zifa di lengannya. Bima menatap Zifa tak terima karena pukulan gadis itu. Meski yang ia katakan bercanda, tapi itu jujur kok. Ia bahkan tetap bersikap sebagai pacar Zifa padahal mereka sedang berada di kantor, membuat Zifa selalu menatapnya penuh peringatan.
__ADS_1
"Udah ah mesra-mesraannya. Malu dilihat tamu tuh!" ledek Ningsih membuat wajah Zifa memerah karena malu. Kenapa ia lupa di sini ada Lia.
Like, komen dan votenya jangan lupa. Jangan cuma tahu nagih author up tapi ngasih vote dan komen nggak, bahkan like juga tidak. Harus seimbangkan don, biar author semangat😊