
Zifa mengerutkan alisnya saat Bima menghentikan motornya di sebuah tempat yang begitu Zifa kenal. Ia mengerucutkan bibirnya kesal, ia pikir mereka akan ke tempat romantis seperti yang ia bayangkan. Sayangnya, Bima hanya membawanya ke Toko Buku tempat yang mereka datangi dulu. Zifa kembali merasa kesal teringat saat itu ia harus membayar novel milik Bima.
Bima terkekeh melihat ekspresi Zifa. Ia yakin pacarnya itu sedang kesal. "Ayo kita masuk. Kali ini kan nggak ada yang kita tunggu kayak waktu itu"
Zifa menatap Bima tajam, bibirnya masih mengerucut karena kesal.
"Kok kita malah ke sini? Kamu nggak ingat kalau waktu itu kebersamaan kita begitu buruk di sini?"
Bima tersenyum manis. "Oh yah? Tapi menurut aku kebersamaan kita di sini itu begitu manis"
"Manis apanya? Kamu nggak ingat kita adu mulut terus? Kamu juga nggak ingat kalau kamu ngerjain aku dengan nyuruh aku bayar buku-buku kamu?" Zifa mengingatkan Bima akan hari itu, membuat Bima hanya terkekeh geli. Ia ingat, sangat mengingatnya tentu saja.
"Udah, kita masuk. Nggak usah manyun gitu, aku nggak bakal bisa nyium kamu walaupun kamu goda kayak gitu"
Zifa melotot tajam "Apaan, siapa yang goda kamu coba. Ishh, ngesalin banget sih!"
__ADS_1
Bima kembali merespon dengan tawa. Tanpa mempedulikan kekesalan Zifa, ia menggenggam lembut tangan kekasihnya itu untuk di bawanya memasuki Toko tersebut.
Sampai di dalam, mereka kembali menjelajahi ribuan buku yang terjejer rapi. Sesampainya di rak yang berisi novel-novel romantis, Bima menghentikan langkahnya.
Zifa pikir Bima akan kembali memilih Novel romantis seperti dulu, namun ternyata pria itu hanya berbalik menghadapnya sambil menatap dirinya dalam.
"Kamu....kenapa?" Tanya Zifa gugup. Tatapan Bima selalu saja melemahkan dirinya. Jantungnya berdebar bgitu kencang, wajahnya pun ikut memerah.
"Kamu tahu, kenapa aku ngajak kamu ke sini?" Tanya Bima.
Zifa menggeleng, tentu saja ia tak tahu. Ia pikir tempat spesial yang dimaksud Bima seperti ke sebuah danau kek, restoran kek, atau pantai mungkin. Eh, tapi kan mataharinya lagi terik, mana mungkin mereka ke pantai.
Zifa kembali menggeleng. "Karena di sini, kita pernah menghabiskan waktu bersama dengan lama. Meski hanya kita isi dengan saling mengejek dan saling sindir sih"
Aaahhh, rasanya Zifa meleleh deh mendengar ucapan Bima. "Kamu juga tahu, apa alasan aku nyuruh kamu bayarin novel yang aku beli?"
__ADS_1
Bima masih melanjutkan ucapannya. Zifa lagi-lagi menggeleng. "Karena aku ingin, ada sesuatu yang aku dapatkan dari seorang gadis spesial yang mampu membuat aku senyum-senyum sendiri saat terbayang wajahnya. Meskipun wajah judes aja sih yang selalu dia perlihatkan"
Zifa kembali terhenyak. Matanya mulai berkaca-kaca, ia terharu akan semua ucapan Bima. Tatapan pria itu begitu teduh padanya. Matanya memancarkan ketulusan yang mampu membuat hati Zifa tergetar.
"Kamu....serius?" Tanya Zifa. Bukannya ia meragukan, hanya saja ia ingin kembali mendengar pengakuan Bima yang begitu manis itu.
"Aku serius. Asal kamu tahu, Buku yang kamu bayarkan itu bahkan belum aku baca sampai sekarang"
Zifa menatap Bima bingung. "Kenapa? Kok nggak dibaca?"
"Karena aku akan selalu menyimpannya. Aku akan menjadikannya barang paling berhargaku karena itu aku anggap sebagai pemberian pertama kamu. Bahkan plastik pembungkus bukunya aja nggak aku buka"
"Seberharga itukah? Emang.....sejak kapan kamu...emm, jatuh cinta ke aku?" Tanya Zifa malu-malu.
"Sejak pertama kita ketemu!"
__ADS_1
Dan Zifa ambyar seketika.
Readersnya ikutan ambyar nggak?😀 andai ada cowok seperti Bima yang ketemu author, dan jadi jodoh author😣😢 Oh yah, like vote dan komentarnya jangan lupa😊