Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Selalu Terdiam


__ADS_3

Baca author note di bawah yah. Jangan di skip, oke👍


Zifa dan Bima berhenti di sebuah Supermarket yang jaraknya sudah tak jauh dari rumah Zifa. Zifa menatap Bima bingung saat cowok itu ikutan turun dari Mobilnya.


"Bapak tunggu di sini saja!" ucap Zifa. Bima menggeleng "Enggak! Kamu mau buat saya nunggu lama di dalam Mobil? Lebih baik saya ikut kamu saja"


Zifa memilih mengalah. Gadis itu kemudian memasuki tempat yang ditujunya dan mulai memilih bahan-bahan yang disuruh oleh Ningsih sementara Bima tetap mengekorinya.


Saat akan membayar di kasir, Bima malah memberikan Kartu kreditnya untuk membayar belanjaan Zifa. Zifa berniat ingin menolak, namun melihat tatapan Bima yang menajam membuatnya urung. Si kasir yang terlihat masih mudah itu malah senyum-senyum sendiri saat melihat hal tersebut.


"Mas sama Mbaknya manis banget yah interaksinya. Jarang-jarang loh Mbak, ada pria yang mau menemani pacarnya belanja. Saya jadi baper ngeliatnya" ujar si Kasir membuat Zifa menggeleng cepat.


"Kami nggak pacaran kok Mbak!" ralatnya.


"Ooh, pasangan suami istri yah? Ah, romantisnya!"


Zifa semakin menggeleng, ia kembali akan membuka mulut namun si kasir malah kembali berucap "Doakan saya yah Mbak, biar dapat suami yang sifatnya mirip sama suami Mbak!"


"Tapi..."

__ADS_1


"Antrian selanjutnya!" ucap kasir sambil menyerahkan belanjaan Zifa tadi membuat Zifa langsung pergi dari sana. Ia sedikit kesal pada kasir itu yang seenaknya mengatakan kalau dia dan Bima adalah pasangan. Lebih menyebalkannya lagi, Bima malah asik memperhatikan mereka dengan wajah datarnya tanpa ikut membantu Zifa menjelaskan.


"Bapak kenapa nggak bilang ke kasir itu kalau kita bukan pasangan?" tanya Zifa kesal.


Bima malah mengangkat bahunya cuek "Nggak penting!" jawabnya.


Zifa mendengus, tipikal seorang Bima. Nggak pernah peduli apa kata orang.


Saat sampai, Bima menyuruh Zifa duluan masuk dan dia yang membawa belanjaan Zifa. Zifa kembali mendengus, tadi saja dari supermarket ke mobil belanjaan Zifa sendiri yang bawa. Cih! Apa Bima ingin cari muka di depan orang tuanya?


"Assalaamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsalaam!" jawab Ningsih dan Juna yang baru keluar dari kamar mereka, mungkin pasangan itu selesai melakukan sholat maghrib karena waktu shalat maghrib telah selesai.


"Wa'alaikumsalaam! Eh, ada Nak Bima juga?" pekik Ningsih sedikit terkejut.


"Iya Tante!" Bima meletakkan belanjaan di tangannya sebentar dan menyalami dua paruh bayah tersebut.


"Udah lama banget yah, kamu nggak mampir ke mari!" ujar Ningsih.

__ADS_1


"Iya. Akun hanya beberapa kali ketemu Om di luar, itupun saat ada urusan kantor" ucap Bima dan diangguki Juna.


Zifa melirik ketiganya malas. Ia kemudian melangkah menaiki anak tangga meninggalkan tiga orang yang lagi mengobrol seolah melupakan kehadirannya di sana.


Selesai mandi dan berganti pakaian, Zifa turun untuk makan malam. Ia terkejut saat melihat ternyata Bima juga ikut makan malam di sana. Zifa pikir Bima sudah pulang dari tadi.


"Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu. Cepatan, kita udah lapar nih!"


Zifa hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan sang Papa. Ia kembali teringat saat dulu, di mana Bima seakan menjadi anak kandung dan dia menjadi anak yang tersisihkan. Bahkan dulu Zifa mencap Bima perebut. Ternyata sekarang masih sama, pria itu selalu disambut kedatangannya oleh orang tua Zifa.


"Apa nggak sebaiknya Bapak makan malam di rumah Bapak aja?" tanya Zifa retoris membuat Ningsih dan Juna mendelik ke arahnya.


Bima mengulum senyumnya "Enggak. Malah lebih baik saya makan malam di sini. Soalnya di rumah sunyi, nggak ada siapa-siapa selain saya"


Zifa sebenarnya sedikit merasa bersalah pada Bima, namun ia benar-benar tak menyukai kehadiran pria itu. ralat, bukan tak menyukai melainkan tak nyaman.


"Lagipula, saya kangen masakan Mama kamu. Kangen juga sama suasana makan kita seperti dulu saat aku sering mampir ke sini"


Dan Zifa, seketika terdiam tak tahu ingin mengatakan apa lagi. Zifa merutuki dirinya sendiri yang selalu terdiam saat Bima mengingatkan mereka akan masa-masa dulu.

__ADS_1


Udah dua kali upnya kan. Jadi like, vote dan komentarnya jangan lupa.


Oh yah, mau bilang sama para readers. aku minta tolong yah, jangan ngedesak aku untuk up banyak-banyak😭 Soalnya aku juga punya kesibukan di dunia nyata. Nggak selalu berhadapan dengan layar ponsel sambil menulis atau membaca novel. Jadi, sekali lagi aku mohon perhatiannya. Karena tanpa kalian minta pun, aku akan tetap up kok.


__ADS_2