Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Astaga!


__ADS_3

Pagi ini, Zifa bangun lebih dulu dari biasanya. Ban Motornya bocor semalam, jadilah ia harus menumpang dengan sang Papa. Lebih tepatnya bukan numpang sih, tapi Zifa minta tolong Papanya untuk ngantarin, karena Perusahaan Juna berbeda arah dengan Sekolah Zifa.


Zifa menghentikan langkahnya di anak tangga saat ia akan turun ke bawah. Kenapa dia nggak minta tolong sama Nara aja yah? Narakan bisa tuh jadi tebengannya ke Sekolah. Zifa mengambil ponselnya yang berada di dalam tas dan mencoba menghubungi Nara.


"Assalaamu'alaikum Nar!"


"Wa'alaikumussalaam. Kenapa Zi? tumben pagi-pagi gini nelpon?"


"Aku numpang dong, ke sekolah! Ban motor aku bocor. Kasian juga sih, Papa aku kalau nganterin aku ke sekolah dulu. Kan beda arah" jelasnya.


"Ooh, oke!"


Zifa bernafas legah saat Nara ternyata mengiyakannya dengan mudah. Ia kemudian melanjutkan langkahnya menuju dapur, di mana tempat orang tuanya berada.


Zifa berdehem pelan saat melihat pemandangan di depannya. Di mana Ningsih sedang menyendokkan makanan ke piring Juna, dan Juna yang sedang duduk sambil memeluk perut sang istri dari samping.

__ADS_1


Juna berdecak kesal saat melihat anak jahilnya itu lagi-lagi mengganggu momen kemesraannya bersama sang Istri.


"Masih pagi Pa, Ya Allah!" ejek Zifa. Ningsih hanya menggeleng pelan akan tingkah anak dan suaminya itu.


"Sirik aja jomblo! Makanya cari pacar sana!" balas Juna.


"Emang Papa ngijinin kalau aku punya pacar dan peluk-pelukan kayak gitu?" Tanya Zifa sengaja memancing. Juna gelagapan, mana bisa seperti itu!


"Dalam mimpimu!" ujarnya kesal saat melihat raut mengejek di wajah sang anak.


"Ih, Papa labil banget kayak anak ABG. Tadi katanya ngijinin" Zifa masih belum mau mengakhiri perdebatannya. Juna yang tak tahu harus mengatakan apa lagi untuk membalas ucapan anaknya berdiri mengelitiki sang anak. "Dasar anak nakal kamu yah"


Juna mengentikan kegiatannya saat seseorang menarik telinganya. "Ini waktunya makan, bukan waktunya bermain. Sekarang cepat sarapan, entar kalian terlambat!" omel Ningsih. Keduanya akhirnya menurut saja, lagipula siapa yang mau membantah Ibu Ratu? Mereka masih takut jatah makan mereka dihilangkan.


"Oh yah, Pa! Papa nggak usah ngantarin Zi ke Sekolah. Soalnya Zi bareng sama Nara aja" ujar Zifa memberitahu sang Papa.

__ADS_1


"Kok gitu? padahal Papa udah bangun lebih pagi loh sayang!" tanya Juna.


"Nggak apa-apa. Zi kasihan lihat Papa harus bolak-balik. Kalau Zi bareng Narakan simpel" jelasnya. Juna hanya mengangguk dan mengelus rambut sang anak. Tak berselang lama, terdengar bunyi klakson di halaman rumahnya.


"Pa, Ma! Mungkin itu Nara. Zi pamit yah, Assalaamu'alaikum" ia mencium tangan Papa dan Mamanya dan mereka balas dengan kecupan di dahinya.


"Wa'alaikumussalaam!" jawab mereka serempak.


"Bilangin Nara jangan ngebut ya sayang!" Teriak Ningsih.


"Iya Ma!"


Zifa membuka pagar rumahnya. Bukan mobil milik Nara yang ia temukan malah sebuah motor gede berwarna merah berpadu putih. Zifa tentu saja kenal dengan motor ini, karena ia pernah menaikinya sekali.


"Kok kamu yang datang? Nara mana?" tanya Zifa bingung.

__ADS_1


"Nara berangkat sama Azraf, dan dia nyuruh aku jemput kamu" jawab Bima sambil menyodorkan Helm pada Zifa. Zifa naik ke boncengan Bima saat cowok itu menghidupkan mesin motornya. Tak sengaja, mata Zifa teralih ke arah rumahnya dan.......Astaga! Juna serta Ningsih di sana tengah memperhatikan keduanya. Zifa meringis, pasti sebentar lagi ia akan diinterogasi karena disangka berbohong tadi.


Like, Vote dan komennya jangan lupa😊


__ADS_2