Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Apartemen Bima


__ADS_3

Mari mulai sekarang budayakan, satu orang satu like, satu koment dan satu kali ngevote, agar kita bisa saling menghargai😊


Saya hargai anda dengan cara sering up, dan anda hargai saya dengan tinggalkan jejak seperti di atas😊


weekend kali ini, Zifa meminta agar ia dan Bima untuk kencan di Apartemen Bima sambil memasak bersama. Zifa juga begitu penasaran bagaimana apartemen milik kekasihnya itu. Padahal Bima sudah sering ke rumahnya, namun pria itu tak pernah membawanya ke rumah orang tuanya atau ke apartemennya. Zifa penasaran bagaimana penataan tempat tinggal pria tersebut selama ini.


Bima membukakan pintu penumpang untuk Zifa saat mereka sampai. Keduanya kemudian menaiki lift dengan tangan yang saling menggenggam.


Bima menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu apartemen yang Zifa yakin adalah milik pria itu. Ia kemudian mengetikkan beberapa angka di sana yang tak luput dari perhatian Zifa. Mata Zifa membulat saat merasa familiar dengan angka itu.


"Itu tanggal jadian kita dulu kan?" tanya Zifa sambil mengikuti langkah Bima yang sudah memasuki apartemennya.


Bima mengangguk membuat Zifa terkejut "Kenapa? Emang aneh kalau tanggal jadian kita aku jadiin sandi?"


Zifa menggeleng. "Aku cuma terkejut aja, aku pikir kamu udah lupa sama tanggal jadian kita"


Bima mendengus pelan. "Mana mungkin aku lupa. Orang tanggal itu aku hafal di luar kepala"

__ADS_1


Zifa pikir Bima bukanlah orang yang dengan susah-susah mau mengingat tanggal jadian mereka seperti lelaki kebanyakan. Apalagi jika melihat pribadi Bima yang dingin layaknya es batu. Ternyata pemikirannya salah.


Keduanya tak melanjutkan pembicaraan lagi. Zifa memilih mengedarkan pandangannya mengelilingi penjuru apartemen Bima, sedangkan Bima mengambil sapu dan alat bersih-bersih di dapur karena apartemennya sudah berdebu. semenjak ia tinggal di rumah Orang tuanya ia jarang ke sini. Palingan hanya jika mengambil sesuatu yang ia perlukan saja dan langsung pergi tanpa sempat beres-beres.


Apartemen Bima sangat lumayan luas. Memiliki dua kamar, ruang tamu tempat Zifa berdiri saat ini, dan dapur. Ruang tamu dan dapur tak ada sekat apapun sehingga kegiatan di dapur akan terlihat dari sini. Di ruang tamu Bima terdapat sofa panjang dan di samping kiri dan kanannya terdapat sofa yang berukuran lebih kecil. Di depannya ada meja kecil. Di sini juga dilengkapi dengan TV yang bisa langsung dinikmati siarannya sambil duduk santai di atas sofa.


"Kamu mau liat kamar aku?" tawar Bima saat ia mendapati Zifa tengah memandang sekeliling ruangan apartemennya seolah menilai.


"Aku bantuin kamu bersih-bersih dulu, baru aku mau liat bagaimana isi kamar kamu" ujarnya sambil mengambil alih pel yang ada di tangan Bima. "Kamu nyapu aja, biar aku yang pel" tambahnya.


Bima menarik kembali pel tersebut dan menggantikannya dengan sapu. "Kamu aja yang nyapu, aku yang ngepel. Entar kamu encok lagi" ucapnya disertadi ledekan di akhir kalimat.


Setelah semua pekerjaan mereka selesai, keduanya menghempaskan tubuh di atas sofa dengan keringat membanjir. Ternyata membersihkan apartemen Bima lumayan juga capeknya.


"Kita pesan makanan aja yah, masaknya entar sore aja!" ucap Bima menatap Zifa kasihan. Pacarnya ini memang ada-ada saja, dipanggil kencan di tempat enak malah minta ke apartemennya. Bima sudah menjelaskan kalau apartemennya kotor, dan Zifa lebih bersemangat lagi mengajaknya dengan alasan mereka harus segera membersihkannya karena ia tak mau apartemen Bima menjadi sarang kuman.


"Ya udah deh, aku juga capek banget! Mana kita belum belanja bahan makanannya lagi" keluh Zifa. Bima terkekeh pelan dan menepuk lembut puncak kepala kekasihnya itu.

__ADS_1


"Semalam aku udah ngomong sama Mami dan Papi" ujar Bima tiba-tiba membuat pandangan Zifa seketika fokus hanya ke arahnya.


"Ngomong apa?" tanya Zifa bingung.


"Tentang hubungan kita" jelasnya. Zifa mengangguk "Terus? Mereka setuju?"


Bima tersenyum kecil mengingat obrolannya dengan orang tuanya itu. "Bukan cuma setuju, mereka antusias banget dengernya. Bahkan Mami dengan konyolnya bilang kalau detik itu juga dia mau terbang ke mari dan langsung ke rumah kamu untuk lamar kamu"


Zifa ikut terkekeh mendengarnya. "Segitunya?" tanyanya sedikit tak percaya.


"Iya. Untungnya aja Papi langsung cegah dan nasehatin Mami untuk nggak melakukan apapun dengan tergesa-gesa. Kan masih banyak yang harus disiapkan untuk lamaran. Syukurnya Mami ngerti dan batalin rencananya"


Zifa geleng-geleng kepala mendengar kekonyolan Widya. Ia berharap hubungannya dan Bima akan saling melengkapi seperti Widya dan Agung, juga Ningsih dan Juna orang tuanya. Agung dan Widya meski sama-sama konyol, tapi kekonyolan mereka nggak akan datang diwaktu bersamaan. Jika satu sedang berpikiran konyol, yang satunya menyadarkan. Sedangkan Ningsih dan Juna hubungan keduanya tak kalah sweetnya. Ningsih yang umurnya sudah kepala empat terkadang masih suka bertingkah manja dan kekanak-kanakan. Sedangkan Juna tentu saja selalu memahami dengan sikap dewasanya.


"Mikirin apaan sih? Kok diam?" tanya Bima sambil mencubit pipi kekasihnya itu.


Zifa tersenyum "Aku cuma membayangkan aja hubungan kita akan semanis kisah orang tua kita. Terlebih mengingat kesalah pahaman berkepanjangan yang pernah terjadi di antara kita"

__ADS_1


Bima mendekat dan menarik Zifa ke pelukannya. "Ya. Dan itu semua terjadi hanya karena pikiran buruk kita sendiri, padahal kenyataannya begitu berbeda. Jadi mulai sekarang, apapun yang mengganjal di hati kita harus kita ungkapin, oke?"


"Oke!" jawab Zifa tersenyum mendongak menatap wajah Bima dan mengelus pipi pria itu dengan lembut.


__ADS_2