
Hari ini, Zifa datang lebih pagi dari biasanya. Pak Rey semalam menghubunginya, mengatakan kalau hari ini Bos mereka sudah masuk kantor. Itu artinya, pekerjaannya benar-benar akan dimulai hari ini.
Zifa melangkah di Lobi kantor, langkahnya terhenti mendengar seseorang yang meneriakinya. Zofa berbalik dan mendapati Wika yang sedang mendekat.
"Hari ini Pak Bos udah masuk kantor kan Zi?"
Zifa mengangguk. Keduanya kemudian melanjutkan langkah mereka.
"Kamu harus ingat yah Zi, harus fokus. Jangan sampai berbuat kesalahan karena aku nggak mau kehilangan teman baruku" cerocos Wika.
"Hmm"
"Jangan sampai terpesona sama dia. Wajahnya itu yah Zi, bisa menghipnotis orang. Makanya banyak karyawan wanita yang suka melamun saat melihat wajahnya. Dan berakhir dipecat deh"
__ADS_1
Zifa mendengus pelan mendengar ucapan lebay Wika. Memangnya Bos mereka setampan apa? Kalau cuma gara-gara tampan, Zifa sudah terbiasa dikelilingi oleh beberapa pria tampan sejak kecil. Mulai dari Papanya, Om Noval, Om Bimo, Kak Bita. Jadi mana mungkin Zifa akan selebay itu hanya karena melihat wajah tampan bos nya. Ini di kehidupan nyata loh, bukan di cerita webtoon terlalu tampan.
"Memangnya Bos kita itu belum menikah apa sampai-sampai banyak yang suka sama dia?" tanya Zifa.
Wika menatapnya tak percaya. Masa Zifa sebodoh itu sih sampai tak menyadari kalau bosnya itu masih lajang dari perkataannya seminggu ini? Tapi Wika rasa, meski si bos sudah punya istri juga pasti dengan wajah setampan itu masih banyak yang tergoda dengannya.
"Yah belum lah Zi. Bos kita itu yah, masih lajang. Tampan, gayanya berkelas, keren, mapan, astaga! Benar-benar suami idaman banget" jelas Wika. Zifa hanya mengangguk. Ia sebenarnya sedikit penasaran akan tampang si bos itu, tapi toh nanti ia bakal bertemu sendiri.
Wika mengangkat bahunya "Nggak tahu. Kamu tahu kan, bagaimana pemikiran para pebisnis muda. Pasti menurut mereka, karir lebih penting dibanding pendamping. Karena saat mereka sukses, mereka tinggal menjentikkan jarinya dan banyak gadis yang akan mendekat"
Benar juga sih. "Tapikan Bos kita itu sudah termasuk sukses"
"Itu yang buat banyak gadis penasaran dengan bos kita. Tapi yah umurnya juga kan masih muda, baru dua puluh empat tahun. Jadi wajar aja dia belum menikah"
__ADS_1
Zifa terkejut. Semuda itu? Masa dia udah bisa menjalankan perusahaan sebesar ini?
"Kamu pasti terkejut yah?" Tanya Wika melihat ekspresi Zifa.
Zifa mengangguk. "Nanti deh kapan-kapan aku ceritain tentang perusahaan ini" ujar Wika.
Zifa duduk di mejanya dengan sedikit gugup. Ini hari pertamanya bertemu atasannya itu, tentu saja rasa gugup adalah hal biasa. Ia takut membuat kesalahan di hari ini, dan sia-sia lah sudah latihannya selama dua minggu.
Tak berapa lama, terdengar langkah mendekat ke arah ruangan di sampingnya itu. Itu pasti Rey dan Bosnya. Zifa berdiri dari duduknya, mempersiapkan diri untuk menyapa.
Mata Zifa seketika membulat melihat siapa yang berjalan di depan Rey. Wajahnya seketika menegang denga jantung yang berdetak tak beraturan. Bukan karena ia naksir akan bosnya itu seperti yang diwanti-wanti Wika, namun karena ia mengenal siapa sosok itu. Sosok yang membuatnya menanamkan benci pada seseorang begitu lama. Sosok yang membuatnya jatuh cinta di masa lalu. Pria itu, kini berjalan santai menuju ke arahnya. Zifa sadar, tentu saja dia tidak terkejut melihat Zifa. Kan dia sendiri yang memilih Zifa sebagai Sekertarisnya.
"Oh Tuhan, kenapa aku harus kembali ketemu dia sih? Tuhan, apa ini kebetulan? Kalau benar ini kebetulan, maka ini kebetulan yang paling tidak menyenangkan dalam hidupku" batin Zifa menjerit.
__ADS_1