
Setelah selesai pertemuan dengan pihak perusahaan xx, Bima memutuskan untuk mampir makan siang terlebih dahulu. Pertemuan mereka memang berlangsung cukup lama tadi.
Selama pertemuan tadi, Bimalah yang lebih banyak berbicara. Pria itu juga menjelaskan sendiri materi yang mereka bawa karena ia merasa ada sesuatu yang tak beres dengan sekertarisnya itu.
Pesanan mereka sudah datang, keduanya kemudian makan dengan diam. Sejak berangkat dari rumah tadi pagi, mereka berbicara hanya seperlunya saja. Bima sebenarnya penasaran ada apa dengan Zifa. Tapi yang namanya Bima, mana mau ia bertanya urusan gadis itu. Bisa-bisa Zifa berpikir dirinya yang tidak-tidak. Apalagi selama ini gadis itu selalu berpikiran buruk tentangnya. Jadi lebih baik Bima diam saja.
Selesai makan, Zifa berpamitan sebentar ke toilet. Ia kemudian mencuci mukanya di westafel. Sebenarnya Zifa tak tahan diam-diaman seperti ini. Meski selama ini hubungannya dengan Bima buruk, tapi saat bersama mereka selalu berbicara. Ralat, berdebat lebih tepatnya. Mereka akan mendebatkan hal-hal yang tak penting, bahkan saling mengejek, mencibir atau bahkan menyindir satu sama lain. Tapi kali ini, ingin membuka pembicaraan dengan Bima rasanya Zifa tak sanggup. Ia bingung mau mulai dari mana. Jika ia berbicara dengan nada kasar seperti biasanya mana mungkin. Karena kemarin Zifa sudah tahu fakta yang sebenarnya dan kebenciannya pada Bima seolah hilang saat itu juga. Tapi untuk berbicara lembut pada Bima, itu lebih tak mungkin. Yang ada Bima mengiranya kerasukan Jin.
Zifa menghela nafasnya sebelum keluar dari toilet. Ia berjalan menghampiri Bima.
Pupil Bima terlihat membesar saat menatap wajah Zifa membuat gadis itu terheran.
"Bapak kenapa?" tanya Zifa.
"Kamu ngapain di toilet tadi? Perasaan tadi baik-baik aja, kenapa sekarang kamu berubah jadi zombi?"
__ADS_1
Zifa menautkan alisnya. Bosnya ini sebenarnya kenapa sih? Bisa-bisanya dia mengatai Zifa Zombi.
"Itu bawah mata kamu kenapa menghitam? Atau itu eyeliner yang luntur yah? Tapi perasaan mata kamu tadi kayanya nggak pakai eyeliner deh!"
Zifa seketika tersadar dan segera memegang bawah matanya. Ia lupa kalau matanya menghitam. Dan tadi dia mencuci mukanya dengan menggosoknya kuat, mungkin make up yang ia pakai luntur.
Zifa memang sangat jarang begadang, makanya sekalinya begadang mata pandanya langsung parah seperti itu.
"eh?! ini....ini..."
"Kepala aku sedikit pusing semalam, jadi kurang tidur. Ini aja pusingnya masih ada" jelas Zifa sambil memegang pelipisnya yang tentunya dengan sedikit kebohongan.
Bima lantas berdiri dan segera memegang lengan Zifa, takutnya gadis itu akan tumbang karena mengaku kepalanya sedikit pusing. Bima kemudian menuntun Zifa duduk.
Zifa sebenarnya terkejut akan perlakuan Bima, namun ia memilih diam karena takut Bima curiga. Ia menatap Bima yang masih berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa nggak bilang dari tadi pagi sih? Pantas aja kamu aneh sejak tadi!"
Zifa meringis dalam hati. Ia sama sekali tak tahu beracting, tapi bisa-bisanya hari ini dia melakukan acting di depan Bima. Entahlah, Zifa tidak tahu actingnya itu terlihat natural atau lebay.
Zifa memaksakan senyumnya "Enggak apa-apa kok Pak! Lebih baik Bapak duduk saja, saya baik-baik saja!"
Bima terlihat menghela nafas pelan dan dan merendahkan sedikit posisi berdirinya sambil menatap Zifa "Benaran kamu nggak apa-apa?" tanya Bima lembut namun nada khawatirnya sangat kentara. Zifa seketika tertegun. Ada apa dengan pria ini? Apa dia khawatir pada Zifa? Zifa menyadarkan dirinya 'dia itu khawatir karena dia bos kamu Zifa. Kamu sejak tadi bersamanya, makanya dia kayak gitu' batinnya mengingatkan.
"Aku, aku enggak apa-apa Pak! Bapak silahkan kembali ke tempat Bapak saja! eh, atau kita langsung balik ke kantor aja!" ujar Zifa salah tingkah.
"Enggak!" tolak Bima. "Kita setelah ini ke rumah sakit dulu, kamu harus periksa" ucapnya tegas.
Zifa menggeleng cepat "Enggak usah Pak! emmm, kita....kita pulang saja Pak! iya. Saya mau istirahat di rumah saja. Bisa kan hari ini saya izin dulu?"
Bima kembali ke posisi berdirinya, ia menghela nafasnya pelan. "Ya sudah, ayo kita pulang saja kalau gitu!" ia kemudian menuntun Zifa berdiri. Zifa meringis sambil merutuki dirinya dalam hati. Kalau seperti ini dia malah kayak orang yang modus pada Bima.
__ADS_1
Like, vote dan komentarnya jangan lupa. Ingat yah reader, beberapa hari ke depan aku hanya akan up satu bab.