Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Bete


__ADS_3

"Mami dengar dari orang tua kamu katanya kamu kerja di perusahaan anaknya Om Agung yah Zi?" tanya Tania pada Zifa. Wanita itu sengaja mengajak Zifa berbicara karena sedari tadi gadis itu hanya menampakkan wajah cemberut. Bukan tanpa sebab gadis itu berwajah masam. Bagaimana tidak, orang yang dinantikannya sejak pulang tadi ternyata tidak datang juga. Bita, sepupunya itu tiba-tiba menelpon mengatakan tak bisa datang karena ada pekerjaan mendadak yang harus ia sendiri yang menangani.


"Hmm, gituh deh Mi!" jawabnya malas. Ia bete karena Bita tak datang, malah Maminya membahas tentang bosnya itu.


"Mami beberapa kali sih ketemu sama anak Om Agung sama Tante Widyamu itu, anaknya tampan. Keliatannya juga cool banget" sepertinya Tania tak menangkap jawaban malas Zifa. Tania maupun Wita memang tidak mengetahui tentang hubungan Zifa dan Bima karena Juna dan Ningsih tak pernah menyinggung masalah tersebut.


"Iya. Cool kas!" jawab Zifa dengan nada kesal.


Tania menatap Ningsih yang mengodenya dengan mata. Ningsih seolah mengatakn untuk tak membahas masalah bos Zifa lagi. Walaupun tak mengerti, Tania akhirnya mengalihkan pembicaraan ke arah lain.


"Ya udah dong sayang, nggak usah bete gitu wajahnya. Kamu pasti kecewa yah, karena Kakakmu nggak bisa datang?" Tania mengelus pundak Zifa yang ada di dekatnya.

__ADS_1


"Zi, kamu kan udah besar. Kamu juga udah kerja, harusnya kamu mengerti kalau urusan pekerjaan yang datang mendadak dan nggak bisa ditunda yah memang harus membuat rencana yang dibuat sebelumnya batal" nasehat Ningsih.


Zifa menghela nafas kasar. Ia tadi sudah berharap ketemu sepupunya itu, tapi malah batal seperti ini. Apalagi mereka sudah sangat lama nggak pernah bertemu, video call nggak pernah, saling mengirim pesan hanya sesekali. Bagaimana Zifa nggak kecewa kalau pertemuan mereka tiba-tiba nggak jadi?


"Iya, sayang. Kamu mengerti yah? Oh yah, kata Bita tadi sebagai gantinya dia akan menjemput kamu besok saat pulang kantor" bujuk Tania.


"Benaran Mami?" tanya Zifa antusias. Tania mengangguk sambil tersenyum, akhirnya ia bisa menghilangkan wajah bete keponakannya itu.


Wita yang kini tengah sibuk dengan kedua anaknya mendapat ide untuk semakin membuat mood Zifa membaik. "Deril, kamu dekati Kak Zi dan kasih dia hadiah kecupan! Di sini" bisik Wita sambil menunjuk pipinya.


Deril menatap Wita polos "Cup Kak Zi?" tanyanya. Anak itu memang sudah bisa berbicara, hanya saja belum terlalu lancar.

__ADS_1


Wita mengangguk "Iya. Bilang hadiah karena Kak Zi nggak bete lagi"


Deril turun dari tempat duduknya dan mendekat pada Zifa. Ia menarik ujung kaos Zifa saat gadis itu tak menyadari kedatangannya. Zifa menunduk dan seketika tersenyum senang melihat Deril mendekatinya. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Zifa segera menggendong anak itu.


"Deril? Udah nggak malu lagi sama Kak Zi?"


Deril menggeleng. Saat Zifa akan mencium pipinya karena gemas, Deril malah mengecup pipi gadis itu duluan. "Kata Bunda, Hadiah!" ujarnya membuat Zifa semakin kesenangan.


"Oh yah? Hadiah apa?" tanya Zifa.


"Enggak bete" Zifa semakin memeluk bocah itu karena gemas. Ia kemudian menghujani wajah Deril dengan ciumannya. "Aduh, manis banget sih! Pengen juga punya adik kayak gini!" ujarnya dengan wajah mupeng.

__ADS_1


Semuanya menggeleng melihat tingkah Zifa yang seperti anak kecil menginginkan mainan.


Like, vote dan komennya jangan lupa😊


__ADS_2