Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Tak ada kabar


__ADS_3

Zifa menghela nafas pelan sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Kangen yah sama Bima?" Tanya Rey melihat tingkah Zifa. Entah sejak kapan pria itu ada di sana memperhatikan Zifa yang sedari tadi duduk gelisah dan sesekali menghela nafas.


Zifa tersentak kaget. Selama Bima pergi urusan di dalam perusahaan kembali Rey yang menangani.


"Eh? Pak Rey! Ada yang bisa saya bantu Pak?" Tanya Zifa sopan.


"Ckk! Harusnya aku yang nanya Zi, ada yang bisa aku bantu ngilangin kegalauan kamu itu?" Ledek Rey membuat Zifa berdecak kesal.


"Sahabat Bapak itu memang nyebelin yah! Masa selama dua hari ini nggak ngabarin sama sekali. Ponselnya juga ditelepon nggak aktif! Dikirimin pesan jangankan dia balas, dibaca aja enggak!" gerutu Zifa. Yah, sudah dua hari semenjak kepergian Bima ke kota S, namun pria itu sama sekali belum menghubungi Zifa. Apa Bima sama sekali tak punya waktu walau hanya sejenak memberinya kabar? Baru dua hari, dan Zifa sudah dilupakan begitu saja.

__ADS_1


"Bima pasti sibuk ngurus masalah perusahaan Zi, jangan berpikir macam-macam oke? Lima tahun aja dia setia sama kamu, masa seminggu nggak bisa?" Hibur Rey. Ia juga kasihan sebenarnya melihat Zifa. Walau bagaimanapun, acara lamarannya dan Bima tinggal beberapa hari lagi, tapi pria itu malah tak memberinya kabar.


"Aku sedang berusaha untuk nggak mikir macam-macam. Aku juga tahu gimana setianya Bima. Tapi apa nggak keterlaluan kalau dia nggak ngasih kabar sama sekali? Setidaknya walau bilang dia di sana sampai dengan selamat dan keadaannya baik-baik saja aku udah senang. Aku nggak butuh kalimat lain" Rey mendekat dan mengelus puncak kepala gadis yang sudah dianggapnya adik sendiri itu.


"Aku nggak tahu mau bilang apa. Intinya, berdoa saja semoga Bima baik-baik saja dan semuanya cepat selesai sebelum acara kalian" ucapnya lembut.


"Mas? Zi kenapa?" Tanya Nadin yang baru saja datang. Ia memperhatikan raut Zifa yang terlihat sendu. Apalagi Rey terlihat menghibur Zifa, pasti gadis itu sedang ada masalah.


"Emang Bima kenapa? Oh, aku tahu. Kamu nggak sanggup LDR kan?" Goda Nadin.


"Bima sama sekali belum ngasih kabar ke Zi. Makanya dia jadi galau gitu" ucap Rey. Pria itu kemudian mendudukkan Nadin ke atas kursi, yang Zifa tak tahu entah pria itu ambil di mana.

__ADS_1


"Astaga! Benar-benar yah tuh manusia es! Tenang aja Zi, nanti pas dia datang bakal aku bantuin kamu ngomelin dia. Kalau perlu sampai gendang telinganya pecah" ujar Nadin emosi.


Rey mengelus punggung sang Istri. "Sayang, jangan ngomong kayak gitu ah! Entar anak kita dengar gimana? Nanti dia mikir Mamanya bar-bar" nasehat Rey.


Nadin mencebikkan  bibirnya "habisnya, Bima bikin emosi aja. Kalau kamu kayak gitu, aku bakalan...."


"Dan sampai saat ini aku sama sekali nggak pernah kayak gitukan?" Potong Rey. Nadin mengangguk dan tersenyum "Iyalah! Awas aja kalau berani" ancamnya.


Zifa yang tadi sedih merasa sedikit terhibur dengan tingkah Nadin dan Rey. Rey terlihat sangat mencintai istrinya, terbukti dari pandangannya pada Nadin. Zifa hafal pandangan itu, karena ia selalu mendapatinya pada tatapan Papa untuk Mamanya. Dan juga....tatapan Bima untuknya. Dan karena hal itu, Zifa kembali menguatkan hatinya. Ia harus percaya sepenuhnya pada Bima, meski itu terasa sulit sekalipun.


Sudah mulai masuk puncak konflik yah. Siapkan hati kalian, tenang....dan jangan emosi😂

__ADS_1


__ADS_2