
Sepertinya Bita serius dengan kata-katanya yang ingin mendekati Lia. Buktinya pria itu sudah duduk di ruang tamu rumah Zifa saat gadis itu baru pulang dari kantor.
"Ngapain Kakak ke sini?" tanya Zifa basa-basi, padahal ia sudah bisa menebak apa tujuan sepupunya itu.
"Ckk! Perlu Kakak jelasin lagi?"
"Cieee, gercep juga yah Kakak aku ini" ledeknya dengan senyum menggoda.
Bita mendengus "Oh yah Kak, Mama sama Kak Lia mana?" tanya Zifa. Kepergian Ningsih dan Juna ke luar kota memang tertunda karena tak enak meninggalkan tamu di rumah. Masa ada tamu mereka malah pergi, akhirnya Juna hanya mengutus orang kepercayaannya yang pergi. Padahal awalnya kata Juna tak bisa diwakili, tapi entah bagaimana cara Papanya itu sampai jadi bisa diwakilkan.
"Mama kamu tadi katanya mau nyusul Om Juna ke kantor, sekalian mereka mau makan malam di luar. Lia lagi di dapur, buatin aku minum" jawab Juna.
Zifa mencibir "Sok-sokan jadi tamu banget yah anda, sampai Kak Lia harus buatin minum. Biasanya juga buat sendiri"
Bita hanya terkekeh pelan "Berisik ih! Sana mandi, terus ganti baju. Nggak lama lagi waktu maghrib" usirnya.
"Nah itu tau nggak lama lagi waktu maghrib, malah masih di sini modusin anak orang" balas Zifa.
__ADS_1
"Sekalian aku mau latihan imamin dia. Meski saat ini masih ada kamu, aku berharap suatu saat nanti hanya ada aku, dia dan anak-anak kami nanti"
Zifa tersedak air liurnya sendiri mendengar ucapan Bita, sejak kapan mulut sepupunya itu jadi penuh madu yang beracun seperti itu?
"Kakak nggak lagi kesambet kan?" tanya Zifa sambil menatap Bita takut. Maklum saja, ini menjelang maghrib. Siapa tahu saja di perjalanan ke sini Bita ditempeli hantu.
"Enak aja! Udah sana cepatan mandi Zi! Kita shalat berjama'ah nanti di kamar tamu bareng sama Lia"
Zifa mengangguk, namun sebelum pergi ia kembali menatap ragu ke arah Bita yang berhasil membuat pria itu berdecak kesal karena kelakuannya.
"Kak Lia ke mana lagi?" tanyanya.
"Lagi rapiin tempat shalat. Sana kamu samperin, sekalian bantuin dia" Zifa mengangguk dan langsung masuk ke kamar tamu rumahnya itu. Kamar yang dulu pernah di tempati Bima saat menginap di sana.
"Biar aku aja Kak!" cegah Zifa saat Lia akan menggelarkan sejadah untuk mereka.
"Eh, Zi! Kamu ngagetin Kakak aja"
__ADS_1
"Kakak dapat sejadah ini dari mana?" tanya Zifa. Setahunya sejadah mereka berdua masih ada di tangannya.
"Tadi tante Sisi sebelum pergi udah nyiapin ini di sini. Dia nyuruh Kakak kamu buat nemanin kita dulu nanti, sampai mereka pulang. Shalat berjama'ah ini juga malah usulnya. ia minta Bintang kali ini shalat di sini dulu, karena ia khawatir di sini hanya ada kita " jelas Lia. Zifa mengangguk mengerti.
"Tadi aku sedikit nggak enak karena hanya ada aku sama Kakak kamu di sini. Makanya aku beralasan ke dapur untuk buatin minum dan berlama-lama di sana, untung nggak lama kemudian kamu udah datang" ujarnya.
"Maaf yah, aku tadi sedikit agak lambat. Soalnya tadi masih nunggu Bima nyelesain berkasnya" ringis Zifa merasa bersalah. Ia memang terlambat beberapa menit dari biasanya, dan Zifa mengerti pasti Lia sangat tak nyaman tadi. Mamanya juga tak mungkin menunggunya pulang, karena bisa-bisa ia kemaleman sampai di kantor sang Papa.
"Nggak apa-apa kok! Oh yah, kamu udah wudhu?" tanya Lia.
Zifa mengangguk "Sudah Kak!"
"Ya udah, kalau gitu Kakak tinggal wudhu dulu yah! Udah azan tuh" ujarnya saat mendengar suara azan yang samar-samar mengalun begitu merdu dan menenangkan hati siapa saja yang mendengarnya.
"Oke Kak!"
Jejak...jejak.....jejak😊
__ADS_1