
Baca dan jawab pertanyaanku di akhir yah😊
Ini wajib, titik!
Wajah Bima terlihat mengeras saat menerima telepon yang tak Zifa ketahui entah dari siapa. Pria itu kemudian mengusap wajahnya dengan kasar membuat Zifa semakin penasaran hal apa yang dibicarakan oleh Bima dan si penelepon.
Selesai menerima panggilan, Bima kembali mendekati Zifa yang memandangnya penasaran. "Maaf buat kamu nunggu. Kita lanjut makan lagi yah" ujar Bima. Ya, keduanya saat ini memang sedang makan siang di ruangan Bima seperti biasa.
Zifa mengangguk, ia tak ingin langsung menanyakan masalah Bima. Apalagi pria itu terlihat sangat frustasi.
Zifa menghela nafas pelan karena sampai Bima mengantarkannya pulang pria itu tak banyak bicara. Bahkan ketika Zifa bertanya, ia terkadang hanya membalas dengan gumaman.
Mobil milik Bima sudah sampai di depan pagar rumah kediaman Arjuna, namun Zifa belum berniat untuk turun.
"Kamu kenapa?" Tanya Zifa sambil memegang lengan Bima.
Bima menggeleng "Aku nggak apa-apa" ujarnya pelan, namun Zifa tahu itu hanya kebohongan.
"Oh yah, keluarga kamu jadikan berkunjung ke rumah minggu depan?" Tanya Zifa memilih tak memperpanjang pembicaraan mereka tadi. Ia tak mau memaksa Bima bercerita jika memang pria itu belum siap.
Bima mengangguk pelan. "Zi, perusahaan lagi ada masalah! Proyek yang sedang dikerjakan di kota S mengalami hambatan" ujar Bima setelah mereka terdiam cukup lama.
Zifa sekarang mengerti, pasti itu yang sedang dipikirkan Bima tadi.
__ADS_1
"Lalu?" Tanya Zifa.
"Aku.....aku harus turun langsung ke sana. Nggak mungkin aku ngutus Rey lagi karena perut Nadin sudah membesar dan pasti sangat susah untuk melakukan perjalanan jauh. Dan nggak mungkin juga dia ninggalin Nadin di sini. Jadi..." Bima kembali mengusap rambutnya kasar "Jadi harus aku yang ke sana"
Zifa tertegun sejenak. Acara lamaran mereka tinggal seminggu lagi, dan Bima akan pergi menangani proyek itu? Bukan masalah penanganannya, tapi masalah waktu yang diperlukan untuk membereskan masalah itu. Mana mungkin Bima nggak hadir di acara lamarannya?
"Berapa lama?" Tanya Zifa pelan. Bima membawa tangan Zifa ke dalam genggamannya "Aku....nggak tahu. Tapi aku akan berusaha menyelesaikan masalah ini sebelum acara lamaran kita"
Zifa tahu Bima juga ragu. Tapi menahan Bima di sini bukanlah hal yang tepat. Ia nggak boleh egois, karena ini menyangkut banyak karyawan yang dinaungi oleh perusahaan Bima dan mengais rezeki di sana.
"Apa acara lamarannya kita batalin dulu samp..."
"No! Aku nggak mau nunda-nunda lagi Zi. Aku janji bakal selesaiin semuanya dengan cepat" potong Bima.
"Bukan gitu Bim. Aku cuma nggak mau kamu kepikiran akan acara kita padahal masalah ini butuh perhatian kamu sepenuhnya" jelas Zifa tak ingin Bima salah paham. "Lamarannya nanti saat masalah kamu selesai, agar pikiran kamu nggak terbagi. Kamu harus fokus dulu sama kekacauan ini" tambahnya.
Zifa menghela nafas pelan. "Okey, tapi kamu di sana harus fokus ke masalah perusahaan dulu yah. Jangan mikirin hal macam-macam. Aku nggak mau kamu banyak pikiran dan akhirnya jatuh sakit. Dan ingat juga, jangan maksain diri. Kalau capek istirahat, dan minta tolong ke orang untuk bantuin kamu jika kesulitan. Aku nggak mau kamu kenapa-napa" nasehat Zifa panjang lebar yang dibalas kecupan manis dari Bima di punggung tangannya.
"Makasih sayang! Kamu juga, di sini jangan mikirin macam-macam. Aku di sana akan berusaha sebisa mungkin untuk segera pulang"
Zifa mengangguk. "Terus kapan kamu berangkat ke sana?" Tanya Zifa.
"Malam ini juga aku akan ke sana" jawab Bima.
__ADS_1
"Perlu aku antar ke bandara?"
Bima menggeleng "Nggak usah. Akukan berangkatnya malam, nanti kamu masuk angin lagi kalau nganterin aku"
Zifa mencebik kesal "Aku bukan anak kecil tahu"
Bima tertawa kecil melihat tingkah Zifa. "Aku pasti bakal rindu banget sama kamu Yang" ucapnya lirih.
"Ya ampun, kalian itu yah. Sampai rumah bukannya langsung masuk malah betah aja di dalam mobil" Omel Juna melalui kaca jendela yang terbuka. Zifa dan Bima terperanjat karena kaget.
"Sejak kapan Papa di situ?" Tanya Zifa salah tingkah. Apalagi tangannya yang ada di genggaman Bima.
"Sejak tadi. Mobil Papa mau masuk malah terhalang mobil Bima, ditunggu-tunggu penghuninya nggak keluar-keluar juga! Ternyata lagi mesra-mesraan" Wajah Zifa dan Bima sontak memerah karena malu karena ucapan Juna.
Mohon jawab pertanyaan ini di kolom komentar.
1. sejauh ini, karakter siapa yang kalian sukai? sama alasannya juga
2. Hal apa yang palin bikin kalian greget di cerita ini?
3. Menurut kalian Bima itu gimana? Dan Zifa juga gimana?
4. Hal apa yang kalian sukai Dan hal apa yang kalian benci dari setiap karakter?
__ADS_1
5. Yang terakhir, menurut kalian cerita ini bagusnya masih dipanjangin lagi atau segera ditamatin aja?
Silahkan isi jawaban kalian di kolom komentar😊