Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Tak Berdaya


__ADS_3

"Apa saja jadwal saya hari ini?" tanya Bima dingin. Bahkan pria itu tak mengucapkan kata selamat pagipun sebagai sapaan pada Zifa. Kalau tak mengingat Bima adalah bosnya, Zifa akan menggetok kepala Bima dengan map yang ada di depannya.


"Bapak ada jadwal pertemuan dengan Pak Wira dari perusahaan Wira Advertising. Jam dua siang ada jadwal pertemuan dengan Miss Nadin. Hanya itu jadwal Bapak hari ini"


Bima mengangguk, kemudian melangkahkan kakinya begitu saja memasuki ruangan tanpa mengatakan apapun lagi.


Zifa menatap punggung Bima dengan kekesalan luar biasa. "Astaga! Sifat macam apa itu tadi? Dulu dia bersikap seperti es batu, apa sekarang sudah berkembang menjadi kutub?"


Zifa mengatur nafasnya yang tak beraturan saking kesalnya pada Bima. "Sabar Zi, sabar! Ingat kata Papa. Latihan profesional" gumamnya mengingatkan dirinya sendiri.


"Kamu kenapa Zifa?" pertanyaan seseorang tersebut membuat Zifa tersentak kaget. Wajahnya memerah malu karena tingkahnya tadi kepergok Rey, pria yang menjadi bos sementaranya dua minggu yang lalu.


"Eh, nggak apa-apa kok Pak Rey" ujar Zifa.

__ADS_1


Rey tertawa pelan. "Pasti gara-gara Pak Bos yah? Kamu tenang aja. Nanti kalau kamu sudah lama bekerja di sini dan kerjamu bagus, Pak Bos pasti nggak akan sedingin di awal" ujar Rey membuat Zifa kembali mengumpat dalam hati. 'Mau selama apapun aku bekerja di sini aku yakin sikapnya bakal tetap kayak gitu kali' batin Zifa.


"Ehm... Iya Pak Rey. Saya mengerti kok"


"Kalau gitu saya ke dalam dulu yah Zifa. Semangat!" Rey mengangkat kepalan tangannya memberi gadis itu semangat.


"Semangat!" Zifa ikut membalasnya.


Sampai saat ini Zifa penasaran, sebenarnya apa posisi Rey di perusahaan ini. Rey terlihat mengikuti ke manapun perginya Bima terkecuali saat ke luar kota. Pria itu terlihat seperti Sekertaris atau mungkin Asisten pribadi Bima. Kalau ada Rey, kenapa coba Bima harus merekrutnya? Cih! Pertanyaan kenapa Bima merekrutnya jelas tak akan mendapat jawaban kecuali ia langsung menanyakan pada pria itu. Dan itu, adalah hal yang tidak mungkin Zifa lakukan.


"Mana berkas-berkas yang diperlukan untuk pertemuan dengan Pak Wira?" tanya Rey pada Zifa. Bima sudah pergi duluan, bahkan ia sama sekali tak melirik ke meja Sekertarisnya itu.


"Ini Pak!" ucap Zifa sambil menyerahkan map yang memang sudah dia siapkan sedari tadi.

__ADS_1


"Oh yah, saya dan Pak Bos mau meeting dengan Pak Wira. Jika ada tamu yang datang menanyakan atau ada keperluan dengan Pak Bos, suruh menunggu saja di kursi itu" ujar Rey sambil menunjuk kursi yang berada tak jauh dari meja milik Zifa. Zifa mengangguk "Baik Pak!"


Sepeninggal Rey, Zifa mendudukkan dirinya di atas kursi dengan lemas. "Ya Allah! Kenapa bukan Pak Rey aja sih yang jadi Bos aku? Kenapa harus pria berhati dingin dan berwajah datar bak papan triplek itu."


"Kamu mengatai saya?" Suara dingin itu membuat Zifa tersentak kaget. Sejak kapan Bima berada di depan mejanya? Bukannya pria itu tadi sudah melangkah pergi duluan?


Zifa dilanda panik seketika. Ia langsung berdiri menghadap Bima "Eng..Enggak kok Pak. Anu, Apa..emmm. Saya lagi latihan Acting. Iya, latihan acting" ujar Zifa gelagapan.


Bima terlihat memandangnya malas. "Saya benci karyawan aneh! Jadi jangan pernah bertingkah aneh di depan saya kalau kamu nggak mau saya tendang dari perusahaan ini!"


Ingin rasanya Zifa mengatakan 'Ayo lakukan sekarang! Biar aku nggak ngeliat wajah nyebelin itu lagi' Namun sayangnya ia tak sanggup mengatakan hal tersebut saat teringat ucapan Papanya semalam. Akhirnya yang bisa Zifa lakukan hanya tersenyum dan menunduk sambil mengucapkan kata maaf.


Double up. Jangan pelit vote, like dan komentarnya yah readers. Biar aku makin semangat😊

__ADS_1


__ADS_2