Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Anggap Saja Kemarin khilaf


__ADS_3

Pagi ini, Zifa kembali mendapati Bima tengah bercengkrama dengan orang tuanya. Ia sudah tak menampakkan wajah juteknya lagi, karena sejak kemarin keduanya berjanji untuk saling berbaikan dan melupakan semua kejadian di masa lalu yang tak menyenangkan. Kalau yang menyenangkannya sih mungkin mereka pendam yah, siapa tau aja bisa kembali terulang.


Zifa mengingat kejadian kemarin saat Bima memeluknya dan mengatakan merindukannya. Zifa tak tahu apa itu benar-benar berasal dari hati Bima atau tidak, yang jelas mengingat hal tersebut mampu membuat rona merah muncul di kedua belah pipinya. Bahkan karena pelukan itu, sampai Bima mengantarnya pulang hanya diisi dengan suasan canggung. Tak ada perdebatan ataupun candaan, seandainya ada jangkrik mungkin yang terdengar hanya suara kriik kriik dari serangga tersebut.


"Nih, Zi udah turun. Ayo kita langsung ke ruang makan!" Ajak Ningsih saat melihat keberadaan sang anak. Zifa heran, Bima kan pulang ke rumah lama orang tuanya karena mereka berada di sini. Apa pria itu tak ikut sarapan bersama Mama dan Papanya?


Setelah menyelesaikan sarapan, kedua orang tersebut berpamitan untuk berangkat. "Memangnya Bapak nggak ikut sarapan yah sama Tante Widya dan Om Agung?" Tanya Zifa.


Bima menggeleng "Aku ikut sarapan kok. Tapi nggak sampai kenyang, biar pas Tante Sisi ajak aku ikut sarapan makanannya masih muat di perut aku" jawabnya santai.


Zifa menatap Bima bingung "kok gitu?"


"Yah iya. Sekalian pendekatan, biar makin akrab sama calon keluarga!" Ujarnya enteng namun mampu membuat pipi Zifa memerah.

__ADS_1


Zifa menepuk lengan Bima, gadis itu berusaha menyembunyikan rasa malunya "Apaan sih!"


Bukannya marah, Bima malah terkekeh. Keduanya kemudian memilih diam. Zifa mengalihkan tatapannya ke luar jendela, sementara Bima lebih memilih fokus menyetir.


Sejujurnya Zifa masih bingung dengan Bima. Bima masih sering mengeluarkan kata-kata manisnya, hanya saja Zifa takut kalau itu hanya berupa candaan saja. Lima tahun telah berlalu, mana mungkin perasaan itu masih sama. Tapi bukankah itu mungkin saja? Buktinya Zifa. Semenjak tahu kalau yang mendasari kebenciannya pada Bima hanyalah sebuah kesalah pahaman, perasaan itu seakan muncul kembali bersamaan dengan timbulnya rasa bersalah. Atau mungkin saja perasaan itu tak pernah hilang sebenarnya. Bisa jadi selama ini Zifa tak benar-benar membenci, hanya saja berusaha membenci. Tapi masalahnya, saat ini Zifa  takut berharap. Ia takut patah untuk ke dua kalinya. Meski dulu hanya kesalah pahaman, tapi rasa sakit itu masih membekas meski sudah tak seberapa.


"Zi, bisa nggak kamu nggak manggil aku dengan sebutan Bapak saat kita hanya berdua?" Tanya Bima saat mobilnya sudah berhenti di parkiran khusus untuknya di kantor.


Zifa menoleh ke arah Bima "eh? Terus aku harus manggil nama kamu seperti biasa gitu?"


"Apaan sih Bim!" Potong Zifa dengan wajah benar-benar memerah. Bisa-bisanya Bima menjawab se-asal itu, mana jawabannya bikin Zifa salting lagi.


"Hahahahahaha! Wajah kamu merah Zi" tawa Bima sambil menunjuk wajah Zifa.

__ADS_1


Zifa menekuk wajahnya kesal "kamu pikir wajah aku merah karena siapa?!" Gerutunya pelan namun berhasil ditangkap oleh pendengaran Bima.


"Kalau gitu sini, biar aku tanggung jawab" ujarnya menarik Zifa semakin mendekat ke arahnya membuat gadis itu melotot seketika.


"Ap...apaan sih, Bim!" Ucap Zifa tergagap.


Bima malah mengeluarkan senyum manisnya, wajah gadis itu semakin memerah. Ini mah namanya bukan tanggung jawab, malah nambahin merah-merah di wajah Zifa kalau gini.


Bima mengambil tangan Zifa dan meletakkan di pipi gadis itu. Tanpa di duga, ia menempelkan bibirnya di tangan Zifa. Setelah itu dia kembali mendorong Zifa dengan pelan kembali ke tempatnya.


"Untung aku ingat belum muhrim. Nanti kalau udah, nggak perlu dilapis tangan kamu lagi" ujarnya sambil tertawa kecil. Zifa  yang tak tahan lagi dengan kemanisan Bima segera membuka pintu dan melangkah cepat meninggalkan Bima yang masih senyum-senyum sendiri seperti orang gila.


"Eh, tapikan kemarin aku udah meluk Zifa" gumamnya sendiri. Ia menggelengkan kepalanya "anggap saja kemarin khilaf!" Senyumnya kembali mengembang sambil memperhatikan Zifa yang semakin menjauh.

__ADS_1


Ada yang kangen sama Zifa dan Bima? Tenang aja! hari ini aku akan up dua kali kok, biar kangennya terobati. Tapi ingat, like, vote dan komentarnya jangan lupa😊


__ADS_2