Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Benda Segi Tiga


__ADS_3

Zifa dan Bima melangkah memasuki rumah Zifa. Keduanya mengucapkan salam dan mencium punggung tangan Ningsih dan Juna yang sedang menonton TV di ruang keluarga.


"Eh, dengan Bima?!" tanya Ningsih. Ia memang tahu kalau Bima dan Zifa selalu berangkat bersama akhir-akhir ini, tapi Bima tak akan mampir saat pulang. Apalagi melihat tautan tangan keduanya yang belum terlepas entah mereka sadar atau tidak, Ningsih dan Juna saling memandang penuh arti.


"Iya Tante, nggak apa-apa kan Bima mampir sebentar?"


"Tentu saja, lama juga nggak apa-apa biar Om ada teman ngobrol" Ujar Juna menjawab pertanyaan Bima.


"Iya. Tentu aja nggak apa-apa Nak! Oh yah, kamu pulang selesai makan malam aja yah" tambah Ningsih.


"Nggak usah Tante, nggak perlu repot-repot" tolak Bima halus. Sebenarnya mampir itu hanya alasannya saja, padahal dia hanya mau memastikan Zifa selamat bahkan sampai di dalam rumah. Dasar bucin parah!


"Nggak repot kok, iya kan Zi!" Ningsih meminta pendapat Zifa.


"Eh, itu....terserah Bima lah Ma. Siapa tahu dia juga mau makan malam sama Tante Widya dan Om Agung!"

__ADS_1


Ningsih menggeleng "Mama tadi baru habis telponan sama Mbak Widya. Katanya malam ini dia mau ke rumah Neneknya Bima!" Ia kemudian mengalihkan tatapan pada Bima "Emang kamu nggak diberi tahu?"


Bima mengangguk "Diberi tahu kok Tante"


"Ya sudah, kita makan malam di sini saja kalau gitu. Daripada kamu beli makanan di luar kan? Selain uangnya rugi, makanan di luar kan belum tentu semuanya sehat! Mending di sini, sehat gratis lagi"


Zifa memutar bola matanya malas, Mamanya ini bagaimana sih. Kalau yang ada di restoran udah tentu sehat lah. Tergantung dengan kecocokan tubuh kita, kalau nggak ada alergi berarti nggak masalah.


"Zi ke atas dulu, mau mandi!" pamit Zifa sambil menarik tangannya dari genggaman Bima.


"Zi!" panggilnya pada Zifa yang sudah di atas tangga. Zifa berhenti dan menoleh "Ikut Mama kamu. Ambilkan baju Papa untuk Bima dulu, baru kamu mandi!"


Zifa menurut saja. Sebenarnya bukan ia tak mau ada Bima di sini. Hanya saja, Mama dan Papanya pasti akan menginterogasi mereka. Zifa yakin mereka menahan Bima hanya karena masalah itu.


"Ini sayang, kamu kasih ke Bima. Kayaknya ini pas deh, sama dia" ujar Ningsih sambil memberikan sepasang pakaian pada Zifa. Mata Zifa membulat saat melihat sesuatu yang Mamanya berikan bersamaan dengan pakaian itu.

__ADS_1


"Ma, ini...."


"Tenang Zi, itu masih baru kok. Itu aja masih ada capnya" ujar Ningsih geli melihat ekspresi sang anak yang sedang memandang benda segitiga yang ia berikan tadi.


"Bukan gitu Ma, tapi...."


"Mama tanya deh sama kamu, emang kamu nyaman jika udah mandi dan ganti baju tanpa ganti dalaman?" potong Ningsih.


Zifa menggeleng, ya enggaklah! Sama aja rasanya seperti nggak mandi.


"Nah, makanya itu. Udah sana, kamu langsung kasih ke Bima aja. Kalau kamu nggak mau lihat, bungkus aja di kaus itu agar nggak keliatan!" suruh Ningsih.


Zifa menghela nafas pasrah. Gadis itu memegang punggiran karet celana dalam tersebut dengan dua jarinya dan meletakkannya di antara lipatan celana dan kaus. Ningsih yang melihat hal tersebut rasanya ingin terbahak saja, apalagi melihat wajah anak gadisnya itu yang sudah merona karena malu.


Like, vote dan komentarnya jangan lupa😊

__ADS_1


__ADS_2