Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Jalan


__ADS_3

Zifa saat ini tengah kebingungan memilih beberapa potong bajunya yang nanti akan ia kenakan. Ia tak tahu kenapa, ini pertama kalinya ia kebingungan memilih pakaian saat akan pergi. Apa ini efek karena yang mengajaknya kali ini adalah Bima? Ingin rasanya Zifa mengenakan pakaian biasa saja, namun hatinya seolah keberatan. Bahkan tubuhnya seolah bergerak sendiri membongkar semua pakaiannya di dalam lemari.


"Ya Allah, kenapa pakaian kamu udah lompat semua dari dalam lemari?" pekik Ningsih kaget saat memasuki kamar anaknya.


Zifa menoleh pada sang Mama kemudian menyengir kuda. "Hehe, Mama ada-ada aja deh! Masa loncat, ini Zifa sendiri Ma yang bongkar"


Ningsih mendengus. "Ckk. Kamu kayak nggak pernah belajar bahasa Indonesia aja. Itu namanya majas..."


"Iya majas. Majas hiperbola lebih tepatnya" potong Zifa.


"Aduh, ternyata anak mama pintar banget yah. Oh yah, ngomong-ngomong kenapa dibongkar? kamu mau rapi-rapi lemari apa gimana sih?" tanya Ningsih sambil mendekat dan duduk di ranjang Zifa yang sudah penuh dengan pakaiannya.


"Emm, sebenarnya.....Zifa mau jalan Ma" cicit gadis itu pelan.


"Jalan? Tapi kok tumben sampai bongkar semua isi lemari? biasanya nggak kayak gini? Emang kamu sama Nara mau ke mana?" tanya Ningsih bingung.


"Emm...bukan sama Nara sih Ma. Kemarin ada yang ngajakin Zi jalan, mumpung Nara pergi sama pacarnya, Zi iyain aja"

__ADS_1


Ningsih reflek mendekatkan duduknya ke arah Zifa saat mendengar perkataan gadis itu "Oh yah? Siapa? Cewek apa Cowo"


"Cowok Ma. Enggak apa-apakan?"


Ningsih berpikir sebentar, kemudian wanita itu beranjak dari kamar Zifa. "Kamu tunggu sini, Mama ke bawah bentar" ujarnya sebelum pergi.


Zifa menatap kepergian mamanya bingung, kok malah pergi? Mana belum jawab pertanyaannya tadi lagi.


Sekarang Zifa mengerti kenapa sang Mama tadi pergi meninggalkannya. Wanita itu kini tengah kembali memasuki kamarnya dengan Juna di sampingnya yang menatap ke arah Zifa penuh intimidasi.


Zifa memutar bola matanya malas melihat kelebaiyan orang tuanya. "Mama ngapain ngajak Papa ke mari?"


Zifa meringis pelan. Ia membayangkan, apa ekspresi orang tuanya masih seperti ini saat tahu Bima yang mengajaknya? Zifa yakin mereka bukan memasang wajah intimidasi nanti malah memasang wajah welcome pada cowok itu.


"Udah, Mama sama Papa keluar dulu. Nanti kalian bakal tahu sendiri, dia pasti datang ke sini jemput Zi" usir Zifa. Bukannya tak sopan, hanya saja ia malas mendengar kelebaiyan orang tuanya saat kaget nanti jika Zifa menyebutkan nama Bima.


"Sepertinya Papa akan hajar cowok itu saat datang ke sini karena udah buat kamu berani mengusir Mama dan Papa dari kamar kamu" ujar Juna sebelum pergi.

__ADS_1


Zifa mendengus "Awas aja kalau papa nggak nepatin kata-kata Papa" ucap Zifa. Ia bukannya mau Juna menghajar Bima, hanya saja ia yakin Juna sama sekali tak akan pernah melakukan itu. Terlebih pada Bima.


Zifa turun dari kamarnya saat selesai bersiap-siap. Penampilan gadis itu kali ini benar-benar berbeda. Jika pergi bersama Nara biasanya ia hanya menggunakan kaus dan celana jeans, tapi kali ini ia memakai dres yang panjangnya sebatas lutut. Rambutnya pun ia biarkan tergerai, berbeda dengan biasanya yang selalu ia kuncir.


"Liat Bim, anak Om sepertinya benar-benar niat banget pergi sama kamu. Bahkan ia berdandan nggak seperti biasanya" ujar Juna saat indra penglihatannya menangkap kedatangan Zifa.


Zifa mendengus malas. Lihat, siapa yang tadi bilang bakal menghajar cowok yang mengajak anak gadisnya jalan? Sekarang mereka malah mengobrol akrab di ruang keluarga.


"Iya ya Om, kayaknya beda banget sama Zifa yang biasanya. Tambah cantik Om" ucap Bima menanggapi. Zifa menatap keduanya malas, terlebih pada Bima. Kenapa Bima selalu berbeda ketika


dengannya dan orang tuanya? Bahkan cowok itu dengan tak tahu malu menggoda Zifa di depan Ayahnya.


"Berisik. Ngucapin satu kalimat lagi yang buat aku sebel, jalannya batal" ancam Zifa. Bima dan Juna saling pandang kemudian tertawa bersama. Zifa lagi-lagi merasa heran, Bima seolah mahluk biasa jika bersama Juna. Padahal biasanya ia bersikap kayak mahluk penghuni kutub.


"Ya udah Om, kita berangkat yah. Bilangin sama Tante juga nanti" pamit Bima sambil mencium tangan Juna. "Zi pamit juga Pa. Emang Mama ke mana?" tanya gadis, ia juga mencium tangan Juna seperti yang dilakukan Bima barusan.


"Di toilet! Nanti Papa bilangin"

__ADS_1


Sepeninggal keduanya, Juna menggelengkan kepalanya pelan. "Aduh, sepertinya aku bakalan besanan sama pasangan kempret nih!" gumamnya saat mengingat sebutannya untuk pasangan suami istri sekaligus sahabatnya itu.


Ayo berikan dukungan kalian pada Zifa dam Bima berupa like, vote dan komennya. Apalagi kalau rekomendasiin buat teman-teman kalian, aku bakal berterima kasih sekali (berharap😆)


__ADS_2