
Zifa dan Bita kini sedang berada di sebuah restoran untuk makan malam. Mata Zifa tiba-tiba menangkap sosok Bima yang duduk tak jauh dari mereka. Pria itu kini tengah menatapnya sama seperti biasanya, tajam dan datar.
"Dia kok bisa ada di sini yah? Aduh, Zifa! Inikan Restoran, wajar aja kalau dia di sini!" gumam Zifa. Bita yang memperhatikan sepupunya itu akhirnya bertanya. "Kamu kenapa Zi? Kok bicara sendiri?"
Zifa tersadar dan segera mengalihkan tatapannya pada Bita. "Eh, enggak apa-apa kok kak!" ujarnya bohong.
Sambil menunggu pesanan, keduanya saling mengobrol banyak hal. Bita menceritakan tentang masa-masa ia berada di Negara orang, dan Zifa ia juga menceritakan tentang kehidupannya saat Bita pergi.
Deheman seseorang membuat keduanya menoleh, mereka terkejut saat mendapati Bima sudah berada di samping meja mereka.
Bima menarik kursi kosong yang berada di samping Zifa. "Saya boleh duduk di sini?" tanyanya. Padahal ia sudah duduk, apa gunanya bertanya lagi? Lagipula meski Zifa mengatakan nggak boleh, mana mau pria itu pindah. Ia pasti hanya akan mendebat semua perkataan Zifa. Sepertinya Zifa patut mencurigai Bima.
"Eh, silahkan Pak! Bapak Bosnya Zifa kan?!" tanya Bita sedikit berbasa-basi. Cowok itu mengeluarkan senyuman ramahnya berbeda dengan Bima yang wajahnya tetap datar layaknya jalan aspal.
__ADS_1
"Iya! Saya yang tadi memergoki kalian sedang bermesraan di halaman kantor!" ujarnya menyinggung masalah tadi sore.
Bita meringis tak enak hati. "Mohon maaf atas kejadian tadi Pak. Tapi kita...."
"Permisi! Pesanannya datang" ucapan Bita terpotong karena datangnya pelayan yang mengantarkan pesanan mereka.
Ternyata pesanan tersebut sudah sekalian dengan pesanan Bima. Sepertinya pria itu tadi sengaja memesan untuk diantarkan ke meja Bita dan Zifa.
Bita menatap Bima sedikit curiga, sepertinya pria ini berada di sini bukan karena kebetulan. Tapi ia menepis pemikirannya itu mengingat pria itu adalah bosnya Zifa. Dua orang tersebut sepertinya tak sadar kalau mereka berpikiran sama.
"Saya tadi ada janji sama Sarah, tapi dia ada keperluan yang mendadak. Jadi saat saya melihat orang yang saya kenal mending saya gabung sama mereka" Jawab Bima.
Zifa mengangguk, ternyata memang kebetulan saja. Bisa-bisanya tadi ia mengira Bima..... Ah! Zifa menggelengkan kepalanya malu sendiri akan pemikirannya tadi.
__ADS_1
"Kamu kenapa menggeleng? Jangan-jangan kamu curiga kalau saya mengikuti kamu?" pertanyaan Bima sontak membuat Zifa tersedak makanan yang baru saja akan ia telan.
Zifa semakin tersedak saat dua gelas minuman sudah ada di depannya, seolah keduanya begitu sigap membantunya.
Zifa segera mengambil minuman yang disodorkan Bita, mengabaikan pemberian Bima. Setelah ia merasa tenggorokannya sudah lumayan membaik, ia menatap Bima. "Bapak jangan menuduh! Saya tidak punya pemikiran seperti itu kok" ujarnya kesal karena pertanyaan Bima tadi membuatnya tersedak. Meskipun ia akui itu benar, tapi mana mungkin ia akan mengiyakan tudingan Bima.
"Oh, saya pikir tadi benar karena setelah mendengarnya kamu langsung tersedak!" Bima mengkat bahunya cuek.
"Saya cuma kaget kenapa Bapak bisa nuduh saya kayak gitu. Bukan karena tuduhan Bapak yang benar!" Zifa tak mau kalah.
Lagi-lagi Bita kembali menjadi penonton acara debat dua orang tersebut. Bahkan ia sangat menikmati tontonan gratis yang sedikit lucu dan menggemaskan itu sambil makan dengan lahap.
"Kalian kok lebih kayak orang pacaran yang lagi berantem ketimbang Bos sama bawahannya?" celetuk Bita dengan wajah polos membuat dua orang tersebut seketika menatapnya tajam.
__ADS_1
Zifa merutuki mulut Bita dalam hati. Apa dia nggak melihat mereka bagaikan seorang musuh? 'Dasar spupu nggak ada ahlak!' Maki Zifa dalam hati.
Karena dukungan kalian banyak untuk aku, maka aku memutuskan up dua bab. Kalian senang nggak? Gemas juga nggak sama pasangan Zifa dan Bima?