Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Naren (Akhir)


__ADS_3

Perasaan aku kemarin bilang deh, kalau nanti part depan tamat, eh kalian malah pada protes kenapa gantung. Yah maklum gantung, kan udah dibilang part itu belum tamat. Masalah status ceritanya memang sengaja aku bikin end, karena suatu alasan. Lagipula kan sebentar lagi end, jadi nggak masalah. Eh, kalian malah protes🙄


Dan hari ini, cerita ini benaran tamat yah. Jangan protes lagi, oke👌


Masalah ekstra part-nya nanti aku bikinin tenang aja, asal jangan ada yang nyinyir hingga buat mood aku ilang. Jadi selama jari tangan kalian nggak jahat, aku bakal baik kok. Kalian nggak pengertian aja aku naikin🙏


Semua mata menatapnya tajam, Bima berusaha menetralkan pernafasannya terlebih dahulu.


"Aku harap kamu belum mengambil keputusan apapun Zi" ujarnya sambil menatap ke arah Zifa yang sudah berada di pelukan Ningsih.


PLAK!!


Bunyi gesekan tangan Agung dan kulit pipi Bima membuat semua orang terperangah.


"Kamu sudah terlambat! Zifa bahkan sudah menolak lamaran kita" ucapan Agung membuat Bima tertunduk lesu. Ini salahnya, salahnya yang begitu bodoh karena bisa-bisanya mengambil keputusan seperti itu.


"Bisa kamu jelasin semuanya? Kenapa kamu membuat Zifa bahkan kita semua kecewa?" ucapnya marah.


"Maaf Pi! Aku akan menjelaskan semuanya"


"Mami benar-benar kecewa sama kamu Bim" ujar Widya dengan suara serak menahan tangis. Ia tak menyangka sang anak akan berbuat hal seperti ini, bahkan membuat gadis yang sudah dianggapnya anak sendiri itu sakit hati.


"Jelaskan semuanya!" ujar Agung tegas.


"Biarin Bima duduk dulu, kasihan dia" kata Ningsih tak tega. Ia tahu, meski Bima salah namun ini pasti bukan kemauan pria itu juga.


"Nggak apa-apa Tan..."


"Duduk!" perintah Juna dingin. Nada hangat yang selama ini terdengar ketika berbicara dengan Bima sudah hilang bersamaan dengan tumbuhnya rasa kecewa di hatinya. Bima menurut, pria itu duduk di sofa singel yang ada di samping Kakek dan Neneknya. Agungpun juga sudah kembali ke tempatnya semula.


"Proyek yang ada di kota S mengalami kendala, untuk itu Bima di sana. Bima yakin kalian semua sudah tahu itu. Masalahnya adalah, ada beberapa orang menuntut untuk penambahan pembayaran lahan mereka, padahal yang dibayarkan perusahaan sebelumnya sudah cukup besar. Sebenarnya itu masalah mudah kalau saja mereka tak mengacaukan pekerjaan itu, mereka bahkan nekat mengkroyok beberapa orang pekerja demi mendapatkan yang mereka inginkan. Aku ingin membawa masalah itu ke rana hukum, dan tanpa sepengetahuan aku ternyata mereka malah menjebak aku" Ujar Bima panjang lebar menceritakan masalah yang terjadi di kota S.


"Malam itu aku nggak sengaja melihat seorang gadis sedang di ganggu dua preman. Aku menolongnya, dan karena ketakutan gadis itu memeluk aku. Ternyata preman itu memang suruhan orang-orang tadi, dan mereka dengan sengaja memfoto aku sama gadis itu"


"Terus kenapa kamu harus menikahi dia? Nggak mungkin hanya karena sebuah pelukan sampai kamu disuruh tanggung jawab" tanya Agung, nada suaranya masih ketus.

__ADS_1


"Gadis itu nggak lama lagi akan menikah, dan karena foto itu calon suaminya membatalkan pernikahan mereka. Papanya yang merupakan Lurah di situ tak terima karena merasa dipermalukan, dan dia menyuruh aku bertanggung jawab. Karena bagaimanapun, akulah pria di foto itu. Meski yang nampak hanya punggung aku saja, tapi salah seorang dari pembuat masalah itu mengatakan kalau itu aku"


"Jadi kamu sudah menikahi gadis itu?" tanya Juna. Ia melirik sang putri yang masih ada di dalam pelukan Ningsih, gadis itu hanya diam mendengarkan. seolah pasrah apapun jawaban Bima.


"Enggak. Aku sebenarnya bingung, saat seseorang membawa baju dan celana yang aku pakai malam itu dan mengatakan kalau itu miliknya. Dia bilang kalau dialah yang menolong gadis itu. Yang memfitnah aku tadi mengatakan kalau pria itu berbohong, namun orang yang menolong aku itu punya bukti kuat, yaitu baju dan celana yang ia bawa tadi. Jadilah pria itu yang menikahinya, besok acara pernikahan mereka" Bima tertunduk, merasa bersalah pada pria yang menolongnya itu.


"Sebenarnya aku nggak mau ngebiarin dia bertanggung jawab, namun lagi-lagi pakaian itu yang menjadi buktinya dan membuat aku nggak bisa melakukan apapun"


"Kenapa dia mau mengorbankan diri? Apa ia menyukai gadis itu?" tanya Widya penasaran. Bima menggeleng "Karena dia sahabat aku, makanya dia mau berkorban demi aku" ucapan Bima membuat semua orang menahan nafas karena mulai memikirkan siapa sebenarnya orang tersebut.


"Si...siapa?" Sarah yang sedari tadi hanya diam memilih bersuara, ia berusaha menghilangkan satu nama yang terlintas begitu saja di otaknya.


Bima menatap Sarah dengan rahang mengeras "Naren" satu kata yang terucap dari bibir Bima membuat air mata Sarah jatuh.


Zifa pun sama, ia tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Kenapa harus seperti ini? Lalu kalau Naren menikahi wanita lain, bagaimana dengan Sarah?


"KENAPA HARUS DIA KAK?" teriak Sarah tiba-tiba membuat semua orang tersentak kaget. Orang tua Sarah pun segera menenangkan anaknya itu, meski mereka tidak mengerti.


"Harusnya Kakak yang tanya sama kamu, apa yang terjadi sama kamu dan Naren" jawab Bima dingin.


"Kalian tenang saja, biar kami yang mengejar Sarah. Kalian selesaikan pembicaraan kalian dulu. Nggak baik hal seperti ini ditunda-tunda" ujar Kakek Bima saat mereka semua berdiri berniat menyusul Sarah.


"Iya, benar. Biar kami yang menyelesaikan urusan Sarah" tambah Papa Sarah.


Agung mengangguk, Juna juga setuju. Akhirnya hanya Orang tua Sarah, juga para Kakek dan Nenek saja yang mengejar Sarah, termasuk Kakek dan Nenek Zifa juga.


Sekarang yang tersisa di ruangan itu tinggallah Juna, Ningsih, Widya, Agung, serta Bima dan Zifa.


"Jadi bagaimana Zi, apakah rencana ini akan dilanjut atau kamu tetap pada keputusan awal kamu?" tanya Agung setelah lama hanya kesunyian yang merambat di ruangan itu.


"Aku...."


"Lebih baik kita lanjutkan saja. Aku tahu kita terdengar seperti berbahagia di atas penderitaan orang lain, tapi mungkin ini sudah jalan dari yang kuasa untuk Bima dan Zifa. Dan ingat juga, aku nggak tahu siapa Naren itu, tapi kalian harus memikirkan pengorbanannya demi hubungan kalian. Setelah hari ini, kita harus saling membantu menyelesaikan permasalahan Naren bersama-sama. Kalau bisa, kita harus membuat si pelaku pemfitnahan itu mengakui kebohongannya" potong Juna. Menurutnya ini yang terbaik. Ia sengaja memotong ucapan Zifa, karena ia tahu anaknya itu pasti akan tetap menolak Bima. Zifa dan Bima saling mencintai, mereka akan sama-sama menderita jika mengikuti keputusan Zifa.


Sejujurnya Juna masih marah pada Bima, namun saat ini bukan saat yang tepat untuk mementingkan kemarahan. Ia harus menyelamatkan hubungan sang anak, juga hubungannya dengan sahabatnya. Dan satu lagi, mereka harus segera mengambil tindakan agar Naren bisa mereka bebaskan dari pernikahan tak diinginkan itu.

__ADS_1


Agung mengangguk, Bima pun bernafas lega. Meski setelah ini mereka harus bekerja keras untuk membuat si pelaku pemfitnahan itu tertangkap dengan segera.


Juna dan Agung mengode para istri untuk memberikan waktu pada Bima dan Zifa berdua.


"Si, aku mau ke kamar mandi. Temani yah" ujar Widya. Ningsih mengangguk. Ia lalu menatap sang anak "Mama nemanin Tante kamu ke kamar mandi dulu yah" pamitnya, Zifa hanya mengangguk.


"Gung, kita harus hubungi orang-orang kepercayaan kita untuk membuat para pelaku itu mengaku sebelum besok. Ayo!" ajak Juna, keduanya pun juga ikut meninggalkan Bima dan Zifa.


Lama mereka terdiam, Zifa menunduk tak mau menatap wajah Bima yang kini tengah menatapnya dalam.


Bima berdiri dan mendekat ke arah Zifa. pria itu menjatuhkan diri dan bersimpuh di hadapan Zifa sambil meletakkan tangannya di lutut kekasihnya itu.


"Maaf! Maafin aku karena udah nyakitin kamu. Maaf!" bahkan kini air mata pria itu menetes karena mengingat keputusan bodohnya.


...Tamat...


Reader : gitu aja Thor?


Aku : Iya. Gitu aja. Intinya lamaran Bima diterima kan.


Reader : Jahat😡


Aku : Bodoh Amat😜


Reader : Terus nasib si Naren gimana?


Aku : Mungkin besok dia bakal berubah status dari lajang jadi nikah kali😁


Reader : Terus Sarah gimana?


Aku : Nanti deh, kapan-kapan aku bahas mereka. Tenang aja, aku nggak akan ngegantungin kalian lama-lama kok. Apalagi ini musim hujan, entar kalian bukannya kering malah bau apek🤣


Reader : 😡😡😡😡😡😡😡😡


Aku : ZZUUUSSHHHHH (kabur ke kahyangan)

__ADS_1


__ADS_2