Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Perubahan yang menghawatirkan


__ADS_3

Aku selalu berharap like, vote dan komentar dari kalian😊


Sudah seminggu semenjak kembalinya Zifa ke rumah. Gadis itu masih menjadi pengangguran untuk sementara. Ia sama sekali belum tahu akan melamar pekerjaan di mana.


"Kamu udah kepikiran mau lamar pekerjaan di mana?" tanya Juna sambil mendekati anaknya yang tengah menonton TV. Sementara Ningsih sedang berada di dapur, mengambil cemilan untuk mereka makan sambil menonton nanti.


"Belum Pa. Zi masih bingung mau lamar pekerjaan di mana" jawab Zifa.


"Makanya, kamu kerja di perusahaan Papa aja dong!" ujar Juna yang seketika mendapat gelengan tegas dari sang anak.


"Zifa belum mau Pa. Zi ingin merasakan dulu gimana susahnya nyari kerja dan susahnya bekerja di perusahaan orang. Memulai karir dari bawah seperti orang lain. Biar nanti suatu saat, jika Zi menggantikan posisi Papa, Zi nggak bakalan bertindak sewenang-wenang sama bawahan. Karena Zi udah pernah ngerasain di posisi itu"


Penjelasan Zifa membuat Juna tersenyum haru. Anaknya begitu dewasa, ia tak menyangka pemikiran zifa semulia itu. Dan Juna, tentu saja sangat mendukungnya.


"Kakak nggak punya rekomendasi perusahaan gitu untuk Zi?" Tanya Ningsih yang baru datang sambil membawa cemilan di tangannya.


"Oh iya benar. Papa punya satu perusahaan yang menurut Papa good banget. Kebetulan Perusahaan itu milik teman Papa yang saat ini sedang dijalankan anaknya. Gimana kalau kamu melamar di sana aja?"

__ADS_1


Zifa menimbang sebentar kemudian mengangguk. "Boleh deh Pa. Aku akan coba nanti"


Junaa kemudian beranjak meninggalkan anak dan istrinya. Beberapa menit kemudian, ia kembali sambil membawa beberapa majalah bisnis di tangannya.


"Nih, kamu nanti pelajari aja tentang perusahaan itu di sini" Juna memberikan majalah tersebut pada Zifa. Zifa mengambilnya dan menyimannya di pangkuan untuk ia baca nanti.


Paginya, Zifa sudah merealisasikan obrolan mereka semalam. Gadis itu kini sudah terlihat rapi. Zifa tengah memeriksa berkas-berkas yang diperlukan untuk melamar pekerjaan nanti. Setelah memastikan lengkap, Zifa kemudian menuruni anak tangga untuk sarapan bersana.


"Kamu benaran mau langsung lamar pekerjaan di sana hari ini juga?" tanya Juna. Zifa mengangguk. "Iya. lebih cepat lebih baik" ujarnya.


"Oh yah sayang. Nara bentar kagi nikah yah?"


Zifa mengangguk. "Iya Ma"


"Kapan acaranya Nak?" tanya Ningsih lagi.


"Masih dua minggu lagi kayaknya. Soalnya Zifa juga belum menghubungi Nara sama sekali menanyakan tanggal pastinya" Ningsih kemudian mengangguk mengerti.

__ADS_1


Mereka mengobrol santai, sampai ucapan Ningsih seketika membuat suasana menjadi aneh.


"Oh yah, ngomong-ngomong minggu-minggu ini keluarga Mbak Widya bakal berkunjung ke si..."


"Ma, Pa, Zi udah selesai. Zi duluan yah!" pamit Zifa memotong ucapan Ningsih. Gadis itu kemudian menyalami tangan Juna dan Ningsih dengan terburu-buru.


Sepeninggal Zifa, Ningsih dan Juna saling tatap dan menghela nafas bersamaan.


"Kak, aku penasaran sebenarnya Zi sama Bima itu di masa lalu kenapa?" ujar Ningsih. Bagaimana tidak, setiap membahas masalah yang berkaitan dengan Bima, Zifa akan bertingkah seperti tadi.


Dulu juga, saat Widya mengunjungi mereka, mereka sempat menanyakan di mana Bima karena cowok itu tak pernah lagi datang ke kediaman mereka. Ternyata Bima melanjutkan kuliahnya di negeri Singa. Widya dan Agung sempat terkejut karena Ningsih dan Juna mengenal Bima. Bahkan lebih terkejut lagi saat mereka menceritakan kalau Zifa dan Bima sempat dekat. Mereka menyimpulkan, kalau cowok itu sama sekali tak pernah bercerita tentang Zifa ataupun orang tuanya pada Widya dan Agung.


Perubahan Zifa juga seakan membuat Ningsih dan Juna heran. Entah mengapa, mereka merasa Zifa seakan menjauh dari mereka. Dulu, gadis itu begitu manja dan tak ingin berpisah dari orang tuanya, namun tiba-tiba ia memutuskan untuk kuliah di luar kota.


Zifa yang dulu juga seakan menghilang, berganti dengan Zifa yang begitu kaku. Gadis itu tak pernah lagi curhat pada sang Mama. Zifa hanya akan lebih bersemangat membahas masalah kantor bersama Juna dan Ningsih dibanding membahas kehidupannya. Bahkan, selama ini gadis itu sama sekali tidak terdengar dekat dengan pria manapun. Zifa yang sekarang, benar-berar sangat jauh berbeda membuat Ningsih dan Juna merasa khawatir sendiri.


Aduh, ada apa yah dengan dedek Zi? Apa dia gagal move on?

__ADS_1


__ADS_2