
Badanku gemetar dan jantungku berdegup kencang saat berhadapan dengan Bintang secara langsung seperti ini. Dasar aku, bisa-bisanya ngikutin saran Nadia kemarin. Kalau tahu reaksiku seperti ini aku mana mau.
"Kamu mau ngomong apa?" Tanya Bintang sambil mengangkat sebelah alisnya. Aku berani bersumpah, Bintang terlihat seratus kali lipat lebih tampan jika dilihat dari dekat seperti ini. Dan aku benar-benar tak menyangka bisa berhadapan langsung dengan dia, menatap wajahnya begitu dekat.
"Hey!", Aku tersentak kala Bintang melambaikan tangannya di depan wajahku. Pipiku memanas, apa aku ketahuan memandanginya? Dasar bodoh, jelas saja ketahuan. Aku merutuki diriku sendiri di dalam hati.
"Kamu mau ngomong apa?" Ulangnya sekali lagi.
"Aku....., Suka sama kamu. Kamu mau nggak pacaran sama aku?" Aku sendiri tak menyangka kalimat itu yang kuat dari mulutku, bahkan tanpa basa-basi terlebih dahulu. Astaga! Sungguh memalukan.
Aku melihat Bintang terdiam memandangiku. Entah apa yang ada di pikirannya, karena ekspresi di wajah tampan itu sangat sulit untuk kutebak. Tak berselang lama, ia tertawa kecil.
"Kenalin nama kamu dulu dong! Masa kamu ngajak aku pacaran tanpa ngenalin diri"
Wajahku kembali memanas. Astaga! Dari sekian banyak kalimat, kenapa kata ini yang menjadi jawaban Bintang? Tapi benar juga sih! Dia mana kenal sama aku. Aku yakin, nama yang dihafalnya hanyalah nama para guru, dan teman-teman dekatnya saja.
__ADS_1
"Namaku....Talia. Aku dari Kelas Tiga B" ujarku memperkenalkan diri sekaligus menyebutkan kelasku.
Bintang mengangguk. "Oke! Aku terima kamu jadi pacar aku" jawabnya enteng. Mataku membulat sempurna karena terkejut. Semudah itu? Aku benar-benar tak habis pikir.
"Kenapa ekspresi kamu gitu?" Bintang bertanya bingung. Aku menggaruk pelipisku karena merasa canggung "segampang itu?" Tanyaku memastikan.
Bintang mengangguk. "Terus? Memangnya kamu mau dipersulit?" Aku menggeleng cepat.
Iya juga sih. Bukannya bagus yah, kalau Bintang nerima aku? Apa benar kata Nadia kalau Bintang juga salah satu pria yang menyukaiku? Tapikan, namaku saja ia tak tahu.
"Kalau gitu.....kita......pacaran?" Oke, aku akui aku memang sedikit aneh. Untung saja Bintang tak menjawab 'udah tau nanya'. Pria di depanku itu hanya mengangguk dan tersenyum. Aku yang benar-benar merasa senang seketika mengambil tangannya untuk aku genggam dan menggerakkannya ke sana ke mari. Untung saja kami sedang berada di taman Sekolah, jadi tak ada yang melihat kebersamaan kami.
"Nggak apa-apa. Itu bagus, agar kita lebih akrab" aku mengangguk malu.
"Oh yah, bentar lagi Bel masuk. Kamu nggak makan?" Tanya Bintang. Aku menggeleng "enggak. Aku tadi sarapan dari rumah" jawabku.
__ADS_1
"Ya udah! Ayo aku antar ke kelas" aku menatapnya tak yakin.
"Kamu yakin?" Tanyaku. Dia mengangguk "Yakin. Kan kita udah pacaran. Ayo"
Aku benar-benar tak menyangka kalau sosok Bintang yang sejak dua tahun lalu kukagumi sekarang benar-benar menjadi pacarku. Bahkan sikapnya begitu manis.
Kami kemudian berjalan beriringan ke kelasku. Selama perjalanan ke kelas, kami menjadi pusat perhatian tiap anak-anak yang kami lewati. Aku yakin gosip pasti bakal menyebar tentang aku dan Bintang.
"Makasih ya, Bintang" ujarku saat sampai di depan kelasku. Bintang mengangguk pelan dan kemudian berpamitan ke kelasnya.
Aku memandangi punggung Bintang yang sudah berbelok memasuki kelasnya. Aku tetap setia berdiri di depan pintu sampai Nadia menepuk pundak ku.
"Berhasil?" Tanya Nadia sambil tersenyum-senyum menggoda.
Aku mengangguk malu-malu. Nadia langsung memelukku erat "Selamat yah sahabat manjaku, akhirnya kisah cinta pertamamu bisa kamu ukir di masa SMP kita" ucapnya berbinar senang. Aku mengangguk tak kalah senang.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya☺️
Dan jika kalian menemukan typo, tolong beritahu aku yah, biar bisa ku revisi. secarakan, baca cerita, walau sebagus apapun tapi typo kadang membuat malas duluan.