
Zifa tak mampu memejamkan matanya padahal jam sudah menunjukkan pukul satu tengah malam. Sejak penjelasan Bima di mobil tadi, hati Zifa benar-benar tak karuan. Ia merasa malu, bodoh, kecewa dan marah pada dirinya sendiri. Bukan karena ia senang ternyata Bima tak menyelingkuhinya dulu, dia hanya merasa bersalah karena membenci Bima yang sebenarnya tak tahu apa-apa penyebab kebenciannya. Bahkan saat di kantor tadi, ia lebih banyak diam.
Ingin rasanya meminta maaf tapi itu begitu tak mungkin. Mana bisa ia langsung mengucapkan permohonan maaf sedangkan Bima tak tahu apa tujuan permintaan maaf itu. Dan mana mungkin juga dia menjelaskan yang sebenarnya pada Bima. Zifa tak dapat membayangkan pandangan Bima terhadapnya nanti.
Pagi ini, Zifa bangun dari tidurnya dengan mata yang menghitam layaknya zombi. Bagaimana tidak, gara-gara kepikiran masalahnya dengan Bima ia malah tidur nanti jam tiga pagi. Zifa merasa kesal sebenarnya, karena menurutnya ini tak adil. Dia di sini kepikiran kesalah pahaman mereka, sementara Bima pasti sedang nyenyak-nyenyaknya tidur sambil bermimpi indah. Yah sebenarnya bukan salah Bima juga sih. Kan dia nggak tahu apa-apa.
Zifa kemudian melangkah menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Zifa melihat wajahnya di cermin rias miliknya. Ia memegang bawah matanya yang menghitam dan mulai menutupinya dengan make up. Zifa mendengus, sepertinya ia harus menggunakan conseler sedikit tebal agar mata pandanya tak nampak.
Selesai dengan semua rutinitasnya, Zifa kemudian menuruni anak tangga untuk segera berangkat karena ia sudah dikejar waktu. Jika ia terlambat, bisa-bisa Bima akan mengomelinya. Mulai saat ini Zifa berniat akan menghindari pria itu dan berusaha komunikasi mereka hanya sedikit saja sampai hatinya tenang. Atau paling bagus lagi sampai ia melupakan fakta kalau ternyata selama ini ia hanya salah paham dan membenci orang yang ternyata tak tahu apa-apa.
__ADS_1
Saat sampai di ruang tengah, mata Zifa membulat melihat siapa yang sedang duduk sambil tertawa bersama kedua orang tuanya. Apalagi ini Tuhan! Baru saja ia berniat agar ia dan Bima hanya bisa berbicara sepentingnya saja, tapi kenapa pria ini malah sudah berada di sini? Masa dia mau bertamu pagi-pagi?
"Kok Bapak ada di sini?" tanya Zifa tanpa basa-basi setelah berada di dekat tiga orang yang lagi asik bercanda itu.
Juna dan Ningsih seketika menatap anak gadis mereka dengan tajam karena pertanyaan Zifa sangatlah tak sopan untuk diajukan pada seorang tamu. Terlebih tamu itu adalah bosnya sendiri.
Zifa seketika panik. Pertemuan? Astaga! kenapa ia bisa sebodoh ini melupakan jadwal Bima hari ini. Untung saja pria itu mengingatnya dan tak bertanya seperti hari-hari biasanya.
"Tapi, berkasnya ada di...."
__ADS_1
"Kamu lupa kalau kemarin sudah kamu berikan ke saya?" potong Bima sambil memperhatikan wajah Zifa. Ia bingung ada apa sebenarnya dengan gadis ini? Ia merasa Zifa sedikit aneh sejak mereka pulang dari restoran kemarin. Zifa kelihatan tak fokus entah karena apa. Untung saja ia sudah menanyakan jadwalnya hari ini sejak kemarin dan meminta berkas yang diperlukan untuk meeting dengan klien perusahaan. Kalau tidak, bisa-bisa kacau jadwalnya hari ini. Dan yang membuat Bima lebih bersyukur lagi, Zifa sudah mengatur jadwalnya dengan baik bahkan dari beberapa hari sebelum pertemuan sehingga Bima tidak keteteran. Dalam pekerjaannya, ternyata gadis itu sangat bisa diandalkan . Tapi entah kenapa gadis itu tiba-tiba kayak orang ling-lung dan jadi tak fokus seperti ini.
Zifa menghela nafas legah mendengar penuturan Bima. Buru-buru ia menggeleng. "enggak kok Pak. Saya nggak lupa" ujarnya sedikit ragu.
"Sarapan dulu sana! Ajak Bima juga. Mama sama Papa tadi udah sarapan duluan karena kamu lama turunnya" suruh Ningsih pada sang anak. Zifa menggeleng "Nggak usah Ma. Nanti aku sama Pak Bos bakal terlambat" tolak Zifa.
"Siapa bilang kita bakal terlambat? Pertemuannya nanti jam sembilan. Jadi kita masih punya waktu lumayan banyak untuk ngabisin makanan mama kamu" ujar Bima membuat Zifa kembali menghela nafasnya, kali ini bukan karena legah namun karena lelah. Lelah dengan drama hidupnya yang tercipta gara-gara mahluk bernama Bima lebih tepatnya.
Like, vote dan komentarnya jangan lupa biar aku juga upnya nggak kelupaan😊
__ADS_1