
Mohon baca sebelum lanjut ceritanya❗⬇
Stop protes part sedikit, karena imajinasi aku yah cuma segini. Sekali lagi aku minta pada kalian, hargai karya orang lain. Sedikit atau banyak itu sudah kemampuannya. Aku setiap hari up untuk nyenengin reader loh, tapi masih ada juga yang komen jelek hingga buat mood aku buruk. Please pahami, author juga manusia bukan robot yang bisa langsung ngikutin apa perintah majikannya😔😔
Wajah Zifa tertekuk saat Bima selesai menerima telepon dan menjelaskan kalau Pak Zahid memintanya menjemput Lia di bandara. Gadis itu katanya datang ke Indonesia untuk jalan-jalan, tapi Zifa yakin kalau itu semua sudah diatur oleh Pak Zahid untuk mendekatkan Bima dan Lia.
"Sayang, jangan marah dong! Aku nggak enak kalau nolak permintaan Pak Zahid, lagipula kam cuma jemput" bujuk Bima.
Zifa tetap diam tak bergeming, ia bahkan membuang mukanya ke arah lain agar tak melihat wajah memelas Bima.
"Kamu ikut juga yah, biar kamu nanti nggak salah paham dan berpikir macam-macam"
Zifa memgerutkan alisnya "Dan jadi nyamuk kalian berdua?" tanyanya sarkas. Bima menggeleng "Ya enggak dong sayang. Aku nggak seakrab itu kali sama Lia. Lagipula dengan kita jemput dia, kamu bisa mendekati dia dan mencari tahu dengan perlahan siapa pria di masa lalunya"
Zifa mempertimbangkan perkataan Bima. Benar juga, siapa tahu saja mereka bisa akrab. Dengan begitu Zifa dapat membantu Lia menemukan belahan jiwanya itu, dan percintaannya dengan Bima pun selamat dari yang namanya pelakor-pelakoran.
"Gimana, setuju nggak?"
Zifa mengangguk "Ya udah. Jam berapa kita jemputnya?"
"Sekarang aja, sebentar lagi pasti pesawat yang ditumpanginya mendarat. Lagipula jam makan siang tinggal beberapa menit"
Keduanya kemudian beranjak dari sana, tak lupa singgah sebentar di ruangan Rey untuk memberitahu kalau mereka akan keluar kantor dan kembali setelah makan siang.
__ADS_1
Sampai di bandara, ternyata benar perkataan Bima. Pesawat yang ditumpangi Lia sudah mendarat Tiga puluh menit yang lalu. Zifa meminta Bima menghubungi nomor Lia yang memang sengaja diberikan Pak Zahid tadi. Kasihan juga jika gadis itu menunggu terlalu lama. Ia meminta gadis itu menemui mereka di parkiran supaya tak terlalu susah mencari di antara banyaknya orang yang memadati bandara.
Selang tiga menit selesai Bima memutuskan sambungan telepon bersama Lia, terlihat seorang gadis memakai gamis berwarna navy dan jilbab berwarna silver sedang menggeret kopernya mendekati mereka.
"Bima kan?" tanya gadis itu memastikan saat ia sampai di tempat Zifa dan Bima.
Zifa terpesona melihat gadis di hadapannya. Sangat cantik dan anggun, apalagi dengan pakaian yang ia gunakan. Ia menelan ludahnya, jika ini benar-benar Lia maka saingannya kali ini sangatlah berat.
Sementara Bima, ia mengerutkan alisnya bingung. Seingatnya Lia belum menggunakan hijab dulu. Tapi kini gadis itu terlihat meneduhkan dengan apa yang ia kenakan.
"Iya, saya Bima" ujar Bima menjawab pertanyaan gadis itu.
"Maaf jika membuat kamu menunggu lama!" ucap Bima sedikit merasa bersalah. Lia mengangguk dan tersenyum "Tenang saja. Aku maklum kok, kamu pasti begitu sibuk. Aku malah ngerasa nggak enak karena ngerepotin kamu"
"Zi, kok melamun?" tegur Bima pada sang kekasih karena Zifa hanya diam sambil berdiri seperti patung.
"eh? Astaga! sorry, sorry" ringisnya merasa malu. Ia bahkan tak menyadari kalau Lia sudah di dalam mobil.
Zifa memilih duduk di belakang bersama Lia, sedangkan Bima di depan menyupiri dua gadis itu.
"Kenalin Lia, ini Zifa. Pacar saya" ucap Bima. Ia belum menjalankan mobilnya.
Lia sedikit tersentak, ia kemudian menatap Zifa yang ada di sampingnya lalu mengulurkan tangannya pada Zifa.
__ADS_1
"Lia. Salam kenal Zifa" Zifa lagi-lagi tertegun dan merasa kecil saat berhadapan dengan Lia. Senyuman gadis itu begitu menyejukkan. Zifa sudah membayangkan kalau Lia itu adalah wanita berpenampilan seksi dengan bibir merah merona. Ternyata penampilan Lia begitu berbanding terbalik dengan perkiraannya. Sudah cantik, lemah lembut, murah senyum, berhijab pula. Apalah daya Zifa yang sholatnya saja masih suka bolong-bolong.
"Zifa. Salam kenal juga Lia" balasnya.
"Oh yah, kamu mau diantar ke mana Lia?" tanya Bima sebelum menjalankan mobilnya.
"Emm, ke hotel yang dekat-dekat sini saja" jawabnya.
"Loh? Bukannya kamu dua minggu berada di sini? Kok malah nginap di hotel?" tanya Zifa bingung.
Lia mengangguk "Iya. Soalnya rumah keluargaku yang di sini sudah disewakan ke orang lain" jawabnya.
"Gimana kalau kamu nginap di rumah aku aja? Kan bisa hemat, daripada di hotel. Aku juga bisa temani kamu jalan-jalan kalau nggak kerja" tawar Zifa.
"Nggak. Aku ngerasa nggak enak ah!" tolak Lia.
Zifa menggeleng "dienakin aja. Lagipula, aku bakal senang banget kalau ada teman di rumah. Mama sama Papa aku pasti juga bakal setuju, soalnya aku anak tunggal. Dan semalam, aku dengar Papa aku lusa mau ke luar kota karena urusan pekerjaan, Mama juga bakalan ikut"
"Ya ya, mau yah Lia?! Biar aku pas ditinggal ada temannya" bujuknya dengan wajah memelas.
"Gimana yah Zifa, aku..."
"Aku nggak nerima penolakan. Bima, antarin kita ke rumah aja!" akhirnya Lia hanya pasrah saja. Zifa memang aneh. Tadi dia takut Bina berpaling, sekarang gadis yang dianggapnya saingan tadi malah diajaknya tinggal di rumahnya. Sedangkan Bima hanya menurut saja apa yang dikatakan pujaan hatinya, lagipula dengan begitu pasti Lia dan Zifa bisa dekat.
__ADS_1
Siapa diantara reader yang seberani Zifa, ngajak saingan tinggal di rumah?😂Like, vote dan komentarnya jangan lupa yah😊