Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Jangan Berubah


__ADS_3

Hari libur biasanya digunakan Zifa untuk tidur sepuasnya, namun berbeda dengan hari ini. Gadis itu bahkan sudah bersiap dengan setelan santainya. Ningsih dan Juna yang baru pulang dari tempat lari pagi mengernyit heran saat mendapati Zifa yang sudah siap pergi. Bahkan gadis itu melewatkan sarapannya.


"Kamu mau ke mana Zi?" tanya Juna. Zifa yang tengah memakai sepatu ketsnya menoleh "Eh? kalian udah pulang dari tempat olahraga?"


"Iya. Kamu belum jawab pertanyaan Papamu tadi, kamu mau ke mana?" kali ini Ningsih yang bertanya.


"Zi hari ini mau bantuin Nara beres-beres di rumah barunya Ma" jelas Zifa.


"Ooh! Nara udah pindahan?" tanya Juna. Zifa mengangguk "Iya. kemarin sore katanya. Makanya ngatur barangnya nanti hari ini"


"Terus kamu nggak sarapan dulu? Mama udah masak sebelum pergi tadi"


Zifa menggeleng. "Enggak Ma. Nara semalam nyuruh Zi sekalian sarapan bareng dia. Zi sebenarnya tak enak, tapi Nara malah maksa"


Ningsih mengangguk mengerti "Ya udah kalau gitu"

__ADS_1


"Zi berangkat dulu, Assalaamu'alaikum" pamitnya.


"Wa'alaikumsalaam, hati-hati di jalan" peringat Juna. Zifa hanya membalasnya dengan jempol kemudian berlalu dari sana.


Zifa berhenti di alamat yang dikirimkan Nara semalam. Ia kemudian mengetuk pintu berwarna putih tersebut.


Pintu terbuka, menampakkan Nara yang sedang memegang kemoceng di tangannya.


"Eh, Zi? Udah datang! Ayo masuk" ujar Nara mempersilahkan.


"Assalaamu'alaikum" salam Zifa saat memasuki rumah tersebut.


"Mas, Zi udah datang. Sebaiknya kita sarapan dulu, baru lanjut lagi" Azraf mengangguk, pria itu menyapa Zifa sebentar dan berpamitan untuk membersihkan diri terlebih dahulu.


Zifa dan Nara berjalan duluan ke dapur. Ternyata Nara sudah menyiapkan beberapa masakan yang berbeda, pantas saja sahabatnya itu berkeras menyuruhnya sarapan di sini.

__ADS_1


"Emang kamu bangun jam berapa tadi Nar, sampai masak sebanyak ini?" tanya Zifa.


"Habis subuh aku udah nggak tidur lagi. Jadi yah aku punya waktu banyak nyiapin makanan. Sama beres-beres beberapa barang sambil nunggu kamu datang"


Zifa menatap Nara takjub. Padahal dulu Nara juga sama dengannya, susah bangun pagi saat hari libur. Namun sepertinya sekarang berbeda karena gadis itu sudah menjadi seorang Ibu Rumah Tangga. Jelas saja ia sudah punya tanggung jawab yang harus ia kerjakan.


"Maaf yah Zi, jadi ngerepotin kamu" ujar Nara. Zifa menatap Nara sinis "Apaansih Nar! Udah kayak sama siapa aja pakai minta maaf segala. Jangan mentang-mentang kamu udah nikah, kamu jadi sungkan sama aku" omel Zifa.


Nara menggeleng, ia buru-buru mendekat pada Zifa dan memeluk gadis itu. "Sorry, sorry. Bukan gitu maksud aku"


"Kali ini aku maafin. Awas aja kalau lain kali bilang gitu"


Keduanya kemudian terdiam cukup lama. "Nar, aku harap hubungan kita tetap dekat walau kita udah punya kehidupan masing-masing. Aku nggak mau kayak orang lain yang hubungannya merenggang saat mereka sudah menikah. Kamu janjikan Nar, kita nggak akan kayak gitu?" ujar Zifa dengan sendu.


Dari dulu, Nara adalah satu-satunya sahabatnya yang paling mengerti dirinya. Nara tau baik buruknya dia, begitupun sebaliknya. Zifa ingin hubungan mereka tidak berubah meski mereka sudah berbeda.

__ADS_1


"Aku janji Zi. Kita akan tetap seperti ini, selamanya. Nggak bakal ada yang berubah. Aku janji akan berusaha selalu ada untuk kamu, selalu mendukung setiap langkahmu, dan selalu menegurmu di saat kamu salah. Begitupun sebaliknya" Tak terasa, air mata keduanya menetes. Yah, banyak memang fakta di mana hubungan sahabat merenggang setelah mereka menikah. Bahkan saat bertemu, mereka akan terlihat canggung. Tak ada lagi ucapan blak-blakan yang terlontar, tak ada lagi tawa lepas yang tersuara, semuanya berubah bersama dengan status mereka. Zifa dan Nara tentu tak mau seperti itu.


Ada yang sedih nggak baca dialog Nara sama Zifa? Atau ada yang ngerasain hal yang sama saat sahabat kalian sudah menikah? Kalau aku sih iya. Ketika sahabat aku menikah, saat bertemu rasanya sudah berbeda. Paling hanya saling tanya kabar dan mengobrol basa-basi saja. Sedih sih sebenarnya kalau teringat bagaimana dekatnya dulu. Entah hanya aku yang merasa kami jauh atau mungkin juga mereka merasa hal yang sama dengan aku. Maaf yah, sedikit curhat😊


__ADS_2