
"Jalan yuk Yang" ajak Bima melalui telepon. Zifa yang tengah bersiap-siap untuk pergi membawa Lia menikmati kuliner Indonesia untuk melepas rasa rindunya terhadap makanan Indonesia menghela nafas pelan. Gadis itu merasa bersalah karena kali ini ia harus menolak ajakan sang Kekasih.
"Maaf yah Bim, bukannya aku nggak mau. Aku udah terlanjur mau pergi sama Lia, mau nemanin dia jalan-jalan sekaligus menikmati makanan Indonesia. Dia kangen makanan Indonesia katanya"
Bima merengut kesal di seberang sana. "Aku harus menikmati hari libur sendirian lagi dong"
"Ya mau gimana lagi, maaf yah sayang" bujuk Zifa.
Senyuman Bima seketika melebar mendengar kata 'sayang' yang keluar dari mulut Zifa. Meski masih merasa kesal, tapi hatinya langsung menghangat.
"Ya udah deh. Tapi ada syaratnya"
Zifa menautkan alisnya "syarat? Kok pake syarat segala sih" ujar Zifa tak terima.
"Ya udah kalau nggak mau. Aku ngambek nih" ancam Bima.
Zifa mendengus geli "apaan, ngambek pake bilang-bilang segala"
"Ya udah, apa syaratnya?" Lanjut Zifa.
Bima tak dapat menahan senyumnya di seberang sana "syaratnya kamu harus terus manggil aku sayang seperti tadi. Nggak boleh nyebut nama lagi"
__ADS_1
Zifa melotot mendengarnya "Apaan kayak gitu! Nggak, aku nggak mau! Yang lain aja deh" tolaknya mentah-mentah. Mana mau dia. Lagian menurut Zifa itu terlalu lebay.
Senyuman yang tadi menghiasi bibir Bima langsung memudar, digantikan wajah kecutnya. "Kenapa? Kamu malu yah?" Tanyanya sendu.
Zifa tersentak, ia tiba-tiba sadar kalau mungkin saja penolakannya tadi membuat Bima tersinggung. "Bukan gitu Bim, aku cuma nggak terbiasa aja. Lagian, kamu kan bos aku. Kalau aku sering manggil kamu kayak gitu, entar kebawa-bawa sampai di kantor. Kan enggak banget kalau kamu lagi meeting terus aku lupa keadaan dan manggil kamu sayang" jelas Zifa beralasan.
Bima tak menjawab, pria itu hanya diam saja membuat Zifa kembali merasa bersalah. "Bim, jangan ma...."
"Ya udah, aku matiin yah teleponnya. Kan kamu mau jalan sama Lia" potong Bima. Zifa tahu kalau Bima pasti kecewa padanya.
"Tapi aku mas..."
Tut..tut..tut!!
"Zifa? Kamu udah selesai?" Suara Lia membuat Zifa menoleh, dan memaksakan senyum ke gadis itu. "Iya. Udah, ayo berangkat" ajaknya.
Zifa membaringkan tubuhnya di atas kasur karena kelelahan. Tadi banyak tempat yang mereka kunjungi, juga beberapa makanan yang mereka nikmati. Mulai dari bakso, sate, martabak, dan masih banyak lagi membuat perutnya terasa penuh. Lia yang ada di sampingnya kini sedang melihat-lihat hasil selfi mereka tadi saat berkunjung di beberapa tempat. Wajah gadis itu terlihat berbinar senang, berbeda dengan Zifa yang kini terlihat murung.
Pikiran Zifa kini hanya tertuju pada sang kekasih. Sedari tadi Bima bahkan tak menghubunginya walau hanya sekedar melalui pesan. Ingin rasanya Zifa meminta maaf, tapi ia sedikit.....gengsi mungkin? Entahlah, Zifa itu tipe orang yang sangat sulit meminta maaf sebenarnya.
"Kamu kenapa, kok dari tadi aku perhatikan wajah kamu nggak secerah biasanya semenjak habis telponan? Ada masalah?" Tanya Lia dengan suara lembutnya.
__ADS_1
Zifa menoleh, ia menghela nafas pelan, kemudian bangun dari posisi berbaringnya "Hmm"
Lia mendekat pada Zifa, gadis itu menepuk pundak Zifa pelan. "Kamu bisa kok cerita ke aku kalau kamu mau. Siapa tahu aku bisa bantu"
Zifa menimbang-nimbang. Ia sebenarnya ingin meminta saran, pasalnya Lia terlihat begitu dewasa di matanya. Siapa tahu saja gadis itu bisa memberikannya saran. Tapi ia malu, masa ia harus bilang mereka bertengkar hanya karena masalah sepele sih?
"Aku......aku lagi punya masalah sama Bima. Sebenarnya hanya masalah kecil sih, tapi kayaknya Bima marah banget" akhirnya Zifa memilih bercerita, siapa tahu saja Lia punya solusi.
"Emang masalahnya apa?" Tanya Lia.
"Dia nyuruh aku panggil dia sayang, bukan nama lagi seperti biasanya. Aku kan kayak geli gitu ngebayanginnya, makanya langsung aku tolak mentah-mentah"
Lia tersenyum kecil "Zi, mungkin itu menurut pandangan kamu sepele. Tapi akan di pandang besar jika kamu berada di posisi Bima. Bima mungkin menginginkan kalian semakin dekat, dia juga mungkin ingin semua orang tahu kalau kalian saling memiliki melalui panggilan kalian masing-masing. Jadi saat harapannya kamu tolak mentah-mentah tanpa berpikir lama, bisa jadi egonya langsung terluka"
"Kamu lihat bagaimana Bima memperlakukan kamu kan? Bahkan dengan akupun, dia tak segan-segan memperkenalkan kamu sebagai pasangannya. Sekarang aku tanya ke kamu, apa kamu juga saat bersama Bima dan ketemu teman-teman kamu, kamu bakal ngenalin Bima sebagai pacar ke mereka?"
Pertanyaan Lia langsung menyentil hati Zifa. Ia tak pernah memperkenalkan Bima pada temannya, bahkan ia melarang Bima mempublikasikan hubungan mereka ke khalayak.
"Lebih baik kamu minta maaf. Hal kecil, jika tidak langsung diselesaikan bisa jadi besar" nasehat Lia. Zifa mengangguk, ia memutuskan mengirimkan pesan pada Bima.
Soal tadi pagi, maaf yah sayang❤
__ADS_1
Like, vote dan komentarnya jangan lupa😊
Maaf yah, upnya nggak seperti biasanya bisa tiap hari. Soalnya lagi banyak kerjaan bahkan mengharuskan lembur, apalagi kondisi badan aku baru aja sehat. Semoga kalian bisa memaklumi😊