
"Jujur aja, aku nggak akan marahin kamu kok!" desak Bima. Ia benar-benar penasaran apa yang dikatakan Nadin tentangnya. Siapa tahu saja Nadin menjelek-jelekkannya makanya Zifa terlihat mendiamkan dia. Tapi menurutnya itu nggak mungkin sih, karena meski Nadin menyebalkan tak dapat dipungkiri wanita itu juga sahabat baiknya.
"Kak Nadin hanya....emmm, menceritakan sedikit tentang kebucinan Bapak!" jawab Zifa. Asal Bima sudah berjanji untuk tak memarahinya Zifa bakalan jujur.
"Emang dia bilang apa saja ke kamu?" tanya Bima semakin penasaran.
"Dia bilang tentang...." kok malah Zifa yang malu sendiri yah? Bagaimana kalau Nadin tadi hanya mengarang cerita? Bisa-bisa Bima menganggapnya ge-er lagi!
"Kamu tenang aja, Nadin itu orangnya jujur kok. Aku bertanya hanya karena ingin memastikan kalau dia masih tetap jujur atau tidak!" ucap Bima seolah tahu keraguan Zifa.
"Dia bilang tentang Bapak yang senang karena saya melamar kerja di sini. Dia juga bilang kalau Bapak udah nggak pernah lagi pergi-pergi ke luar kota karena ada saya. Dan dia juga bilang kalau Bapak......tulus sama saya" jawab Zifa takut-takut. Ia menunduk, selain karena takut ia juga menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.
"HAHAHAHAHAHA!" Tawa keras Bima membuat Zifa mendongak. Wajahnya semakin memerah, kini ia menyesal menceritakan semuanya pada Bima. Pasti semua yang dikatakan Nadin adalah bohong.
"So...sorry! Aku ketawa bukan karena cerita kamu. Tapi karena bicara kamu yang seperti orang kedapatan mencuri. Apalagi itu tuh, wajah kamu memerah!"
__ADS_1
"Eh?!" Zifa melongo. Jadi Bima menertawakan wajah dan caranya berbicara? Bukan karena ceritanya yang Zifa sendiri masih kurang yakin akan kebenarannya?
"Kamu pikir karena apa? Akukan tadi udah bilang, Nadin itu orangnya jujur!" Bima tersenyum geli melihat kebingungan Zifa. Jadi semuanya benar? Kok jantung Zifa jadi dangdutan yah? Eh! Atau diskoan?
"Kita makan dulu, setelah itu baru aku ceritakan rahasiaku yang bahkan Nadin sendiri nggak tahu!" ujarnya.
Zifa kembali melongo, Bima ini sebenarnya spesies manusia seperti apa sih? Kok rahasianya dibongkar orang bukannya marah malah bakal nambah bongkar rahasianya sendiri?
"Makan dulu Zi! Takutnya kamu pingsan karena dengar cerita aku di saat perut kamu kosong!" tegur Bima saat melihat Zifa melamun.
Zifa menurut, ia memakan makanannya dengan tak bersemangat karena penasaran. "Aku akan cerita setelah kamu menghabiskan makanannya. Dan ini benar-benar penting karena menyangkut kesalah pahaman kita di masa lalu"
"Nggak usah terlalu bersemangat gitu juga kali Zi, sampai-sampai nggak ada jeda nyuapin makanan ke mulut!" ucapan Bima membuat Zifa tersedak. Buru-buru Bima menyerahkan air yang ada di depannya pada Zifa.
"Tuh kan, kamu tersedak. Makanya makannya pelan-pelan. Aku tadi nyuruh kamu habisin, tapi nggak sampai nentuin makanan kamu harus habis dalam dua menit juga!" omel Bima dengan nada khawatir melihat wajah Zifa yang memerah, kali ini bukan karena blushing melainkan karena kerongkongannya yang terasa sakit.
__ADS_1
"Makan pelan-pelan aja! Aku bakal tetap cerita kok, asal makanan kamu habis!"
Zifa sebenarnya menahan malu. Kenapa ia bisa bersikap sekekanakan ini sih di hadapan Bima?
"Maaf!" ujarnya pelan.
Bima tersenyum geli, "Kok minta maaf ke aku? Kan kamu yang nahan sakit karena kecerobohan kamu" Zifa hanya tersenyum malu.
Setelah makan, Zifa membereskan terlebih dahulu alat makan mereka. Setelah itu ia kembali ke ruangan Bima.
"Kamu bilang tadi aku bucin kan?" ujar Bima setelah mereka terdiam beberapa menit.
Zifa mengangguk mengiyakan, sedangkan Bima tersenyum penuh makna. "Asal kamu tahu Zi, aku lebih bucin dari yang kamu kira!"
jadi Penasaran sebucin apa si Bima! Kalian penasaran nggak?
__ADS_1
Nggak tahu kenapa aku jadi pengen up tiga bab😊
Jadi karena aku udah berbaik hati hari ini (merasa sendiri😂) Jangan lupa like, vote dan komentarnya oke😊 Ingat yah readers, orang pelit kuburannya sempit😂