Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Pendekatan?


__ADS_3

"Bima, ngapain sih kamu pake nawarin diri jadi tukang ojek pribadi aku?" tanya Zifa kesal, bahkan ia menyebut Bima tukang Ojek pribadinya.


"Enak aja nyebut aku tukang Ojek pribadi!" ujar Bima tak terima. Zifa memutar bola matanya malas, "terus apa? Temanan enggak, pacaran apalagi, pake nawar-nawarin diri ngantar jemput lagi!"


"Oh, jadi gitu. Kita nggak temanan? Iya?" Bima memperhatikan wajah Zifa lamat-lamat, membuat gadis itu salah tingkah.


"Bu...bukan g...gitu! Kita kan emang engg.....ak temanan. Setiap ketemu kita selalu berdebat" jawab Zifa dengan gugup. Ia mengalihkan pandangannya ke segala arah bergantian.


"Tapi bukannya dengan berdebat kita jadi dekat?" tanya Bima.


Zifa langsung menatap Bima saat mendengar perkataan cowok itu. Ia sih, mereka jadi sering bicara hanya untuk sekedar adu mulut.


"Tuh diam. Benarkan? jadi nggak salah dong aku ngantar jemput kamu, kan kita dekat"


Dekat? Dekat? Ini dekat dalam artian apa? kok Zifa jadi salting yah? Jantungnya berdetak kencang, seakan mau melompat.


"Udah ah, cepatan naik. Entar kita telat" peringat Bima saat melihat Zifa melamun dengan wajah memerah. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, Bima dengan wajah datarnya sedangkan Zifa dengan segala kebingungannya akan maksud dan tujuan sikap Bima.


Nara memperhatikan wajah Zifa yang sedari tadi asik melamun. Cewek itu bahkan tak menyapanya saat datang, padahal Nara teman sebangkunya. Nara tak bisa menebak isi pikiran Zifa, karena gadis itu melamun dengan wajah datar.

__ADS_1


Nara menyenggol bahu Zifa saat bel istirahat berbunyi namun cewek itu seolah tak menyadari. Untung saja tempat duduk mereka bukan di depan, jadi Zifa aman meski melamun, karena posisinya terhalang siswa lain dari pandangan guru.


"Kenapa Nar? Lah, kok kelasnya udah kosong? Pak Najib tadi mana?"


Nara menghela nafas pelan, "Udah pada keluar. Kamu kenapa melamun sih? Dua mata pelajaran kamu habisin dengan melamun? panjang amat lamunannya"


Zifa menggaruk kepalanya yang terasa gatal tiba-tiba karena bingung ingin menjawab pertanyaan Nara dengan apa. Kalau ia beritahu kalau ini masalah Bima, bisa-bisa Nara akan selalu meledeknya. Dan itu tak akan baik untuk jantung Zifa ketika berjumpa dengan Bima nanti. Entah kenapa, Zifa selalu salah tingkah jika ia bersama Bima dan mengingat semua ledekan Nara. Kalau Azraf, mana berani dia meledek Zifa. Bisa-bisa Zifa tak akan membiarkan ia memiliki kepala keesokan harinya.


"Ayo ke kantin Nar. Aku lapar, makanya sedari tadi nggak fokus" bohongnya sambil menarik tangan Nara keluar dari kelas.


"Zi, kok makanannya cuma diaduk-aduk?" tanya Nara bingung.


Nara semakin manatap Zifa heran "Bukannya tadi kamu bilang kelaparan yah, sampai-sampai nggak fokus di kelas?"


Zifa menelan ludahnya dengan kasar. Ia salah memberi alasan. Nara menghela nafas pelan "Zi, kita sahabatan udah lama loh! Jadi kamu nggak bisa nyembunyiin apapun dari aku. Aku tahu ada sesuatu yang membuat kamu terganggu, makanya kamu sering melamun. Cerita ke aku, siapa tahu aja aku bisa bantu"


Zifa memandang Nara merasa bersalah. Ia bukannya tak ingin bercerita, hanya saja ia terlalu malu jika Nara akan meledeknya. Yang Nara katakan benar, semua perlakuan Bima padanya membuatnya kepikiran, apa maksud dari semua perbuatan pria itu. Zifa selama ini tak pernah dekat dengan cowok manapun selain Ayah dan Bita--sepupunya, jadi jelas saja ia masih buta-buta untuk mengartikan sikap Bima.


"Aku bingung aja sama Bima Nar. Semakin hari dia semakin aneh, buat aku susah menebak apa tujuan dia kayak gitu" Akhirnya Zifa memilih menceritakan semuanya pada Nara. Karena bagaimanapun, Nara satu-satunya orang yang mampu mengerti dirinya setelah orang tuanya dan juga Bita. Jika Zifa bercerita pada orang tuanya, jelas saja mereka akan megatakan sikap Bima wajar, apalagi cowok itu anak dari sahabat orang tuanya. Sedangkan jika ia bercerita pada Bita, ia merasa hal itu tak terlalu penting, Zifa bisa-bisa hanya merenggut waktu Bita yang terlalu berharga karena cowok itu sedang menyelesaikan studinya di Belanda. Kasihan Bita yang sudah mumet memikirkan kuliahnya malah ditambah mendengarkan curhatan Zifa.

__ADS_1


"Aneh gimana maksud kamu?" tanya Nara.


"Masa tadi pagi dia datang lagi ke rumah. Dan lebih anehnya lagi, dia nawarin diri ngantar jemput aku ke sekolah. Mana Mama sama Papa aku main setuju aja tanpa mau mendengar protesan aku" ia menceritakan semuanya dengan berapi-api.


Nara tertawa pelan "gitu aja kamu nggak tau Zi. Itu namanya Bima sedang melakukan proses pendekatan. Ih, aku iri deh sama kamu. Bima dengan beraninya mendekati kamu secara terang-terangan di hadapan Tante Sisi sama Om Juna. Pasti mereka langsung ngasih lampu hijau tuh!" ujar Nara dengan ekspresi kagumnya.


"Pendekatan? Untuk apa?" tanya Zifa bingung.


"Iya pendekatan. Pendekatan itu proses yang dijalani sebelum masa penembakan" jelas Nara.


"Penembakan? kok ngeri yah?" Tanya Zifa dengan ekspresi bodoh, membuat Nara kembali menghela nafasnya berusaha sabar.


"Maksud aku itu penembakan untuk pacaran Zifa. Di mana Bima minta kamu jadi pacarnya dia" ujar Nara gemas. Ia bahkan menggigit sendoknya sebagai pelampiasan setelah itu saking gemasnya. Daripada ia menggigit Zifa. Nara masih sadar, Zifa jauh lebih galak dari dia.


"Maksud kamu Bima akan mengajak aku pacaran gitu?"


Nara mengangguk membenarkan. "Hmm! Jadi siap-siap aja yah Zi, sama jawabannya nanti"


Like, vote dan komennya jangan lupa. Doakan biar aku sering up. Maka dari itu, jangan malas meninggalkan jejak agar aku makin semangat😊

__ADS_1


__ADS_2