
"Jadi kamu tiga tahun lebih tua dari aku dan Bima?" pekik Zifa kaget saat ia menanyakan Lia lulusan tahun berapa di SMP dulu.
Lia mengangguk "Aku pikir kita seumuran"
"Berarti aku keliatan awet muda dong" canda Lia. Zifa mengangguk polos, benar sekali. Wajah wanita itu sama sekali tak terlihat dewasa seperti umurnya. Tapi ngomong-ngomong, Zifa baru sadar kalau Lia seangkatan sama Bita.
"Kalau gitu aku manggil kamu Kak Lia boleh?" pinta Zifa. Lia mengangguk senang "Boleh. Banget malah. Soalnya aku itu udah lama benget pengen punya adik, aku juga anak tunggal seperti kamu. Walau adik aku langsung gede gini, nggak apa-apa deh! Aku tetap senang!" ujarnya antusias. Dua gadis itu terlihat begitu akrab, padahal mereka baru saja bertemu tadi siang.
"Zi turun dulu, makan! Ajak Lia juga" suara Ningsih terdengar dari bawah meneriaki sang anak. Zifa mengajak Lia untuk turun, keduanya kemudian beranjak dari sana.
"Jadi kamu anak dosennya Bima saat di Singapura?" tanya Juna saat mereka selesai makan. Namun seperti biasa, mereka belum beranjak dari sana.
"Iya Om" jawab Lia sedikit canggung, mungkin karena belum terbiasa dengan anggota keluarga Zifa.
__ADS_1
"Berarti Papa kamu sama Bima akrab dong, sampai-sampai dia mempercayakan kamu ke Bima saat di sini" Zifa dan Ningsih menatap sang kepala keluarga itu dengan tajam. keduanya takut Lia tersinggung, namun ternyata gadis itu malah tersenyum "Aku juga kurang tau sih Om. Hanya saja, dulu Bima itu Mahasiswa bimbingan Papa. Jadi mereka sering bertemu baik di kampus maupun di rumah. Apalagi Bima juga sempat beberapa bulan menjadi asisten dosen Papa" jelas Lia.
Juna mengangguk "Maaf yah, jika pertanyaan Om membuat kamu nggak nyaman. Om benar-benar real bertanya kok, nggak ada maksud lain"
"Iya Om. Lia juga ngerti kok kalau Om nggak ada maksud lain"
"Kalau kamu sama Bima akrab?" tanya Juna lagi. Lia kali ini menggeleng "Enggak. Bahkan aku berbicara pada Bima nanti di bandara tadi siang"
Tanpa sadar Zifa bernafas legah, setidaknya Lia dan Bima tak dekat saat dulu.
"Oh yah? Kamu kenal Bita nggak Lia?" tanya Ningsih senang. Kenapa tiba-tiba ide menjodohkan Bita dengan Lia langsung terlintas di kepalanya yah? Sepertinya nggak ada salahnya mencoba mendekatkan dua orang tersebut.
Lia berpikir sejenak, mengingat apa ada temannya yang bernama Bita. "Enggak kenal Tante. Mungkin dulu kita beda kelas tante"
__ADS_1
Ketiga orang tersebut mengangguk "Bisa jadi sih. Apalagi Bita itu terlalu pendiam kalau dengan lawan jenis"
"Maksud Tante?" tanya Lia bingung. "Iya. Bita itu akan jadi lebih pendiam kalau dengan perempuan, entah kenapa"
Lia terkejut "Jadi Bita itu laki-laki? Aku kira perempuan"
Juna Ningsih dan Zifa tertawa "Bita itu pria Kak. Nanti deh kapan-kapan aku kenalin ke Kakak. Siapa tahu kalian jodoh"
Lia ikutan tertawa karena kesalah sangkaannya. Ia pikir nama Bita itu perempuan.
"Benar kata kamu Zi. Bita pasti bakal terpesona melihat Lia" sambung Ningsih untuk kalimat terakhir Zifa.
Wajah Lia memerah karena pujian Ningsih "Tante berlebihan banget" ucapnya malu.
__ADS_1
Like, vote dan komentarnya jangan lupa😊