Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Posisi yang tak nyambung


__ADS_3

Sesuai yang dikatakan pihak perusahaan yang menghubunginya kemarin, Zifa kini sudah berada di depan perusahaan yang pernah dikunjunginya dua minggu yang lalu. Ada sedikit rasa gugup di dalam hatinya, dan menurutnya itu sangatlah wajar.


Zifa kemudian diarahkan oleh seorang wanita menuju ruangan interview.


Kegugupan semakin dirasakan Zifa, ia berusaha menetralkan jantungnya yang berdebar tak beraturan karena takut


salah menjawab nanti.


Zifa kemudian dipersilahkan duduk mengahadap seorang wanita yang bertubuh sedikit tambun. Usianya berkisar empat puluh tahunan.

__ADS_1


"Begini Bu Zifa, kami pihak perusahaan sudah membaca dan menelaah berkas-berkas milik ibu. Melihat Ibu merupakan salah satu lulusan dengan IPK yang tinggi dan ditambah lagi dengan pengalaman kerja Ibu sebelum mendaftar di sini, maka Ibu resmi diterima bekerja di sini bahkan tanpa interview lagi"


Zifa terperangah kaget. Bukannya kemarin ia dihubungi untuk interview? kenapa Wanita di depannya ini mengatakan ia tak perlu melakukannya lagi? Tapi, bukankah hal ini sangat menguntungkan bagi Zifa? Ah, ternyata Tuhan begitu menyayanginya sehingga mempermudah ia mendapatkan pekerjaan ini.


Wanita itu kemudian menyodorkan sebuah map pada Zifa. "Itu adalah kontrak kerja dan semua aturan-aturan yang harus Ibu patuhi selama bekerja di sini. Silahkan ibu pelajari terlebih dahulu kemudian tanda tangani"


Zifa menerima map berwarna biru tersebut. Dahinya mengerut saat membaca posisi dirinya di sini. Ia menatap ke arah wanita di depannya itu. "Maaf Bu, tapi kenapa saya diterima di bagian Sekertaris Direktur? Kan saya melamarnya dibagian keuangan" Zifa langsung menanyakan kebingunnya.


Zifa masih mendengarkan dan menyerap baik-baik ucapan wanita di hadapannya itu. "Ibu tenang saja, gaji menjadi sekertaris tiga kali lipat dari posisi yang ibu incar!" ujar wanita itu dengan cepat saat melihat raut keberatan di wajah Zifa.

__ADS_1


Zifa menggeleng pelan. "Bukan seperti itu Bu. Ini bukan masalah gaji, tapi ini masalah penyesuaian kerja dengan kualitas saya. Seperti yang Ibu katakan, saya sangat bagus di bidang keuangan, jadi mana mungkin belok arah menjadi sekertaris? Jika dibandingkan, kualitas otak seorang yang bekerja di bidang keuangan dan juga kualitas seorang Sekertaris Direktur, mungkin saja sama-sama bagus namun dengan posisi yang sangat berbeda Bu. Saya yang selama ini berkecimpung di bagian keuangan, nggak bakalan nyambung jika di tempatkan di posisi Sekertaris" jelas Zifa.


"Ibu tidak perlu memusingkan hal seperti itu, karena ada seseorang yang bisa mengajarkan Ibu dan membimbing Ibu selama dua minggu ke depan. Ia akan menjelaskan bagaimana tugas-tugas Ibu. Lagipula, menurut saya posisi itulah yang paling baik. Seenggaknya, Ibu tidak akan terlalu repot karena Pak Direktur juga memiliki seorang asisten pribadi. Meski begitu, gaji Ibu tetap tinggi"


"Bahkan, kalau bisa saya ingin berada di posisi itu. Sayangnya, Bos kita itu terlalu pemilih dalam segala hal termasuk masalah Sekertarisnya. Seharusnya Ibu bersyukur karena keterima di sana" Omongan wanita tersebut seolah meracuni otak Zifa agar menerima pekerjaan tersebut.


Zifa kembali membuka kontrak kerja tersebut. Ia sedikit tertegun melihat delapan digit angka yang terlalu besar dan jelas sangat disayangkan jika harus ditolaknya.


"Bagaimana? Apa Ibu akan melewatkan pekerjaan ini begitu saja?" tanya wanita itu pada Zifa meminta keputusan.

__ADS_1


Zifa akhirnya hanya mengangguk dan segera menandatangani surat kontrak pekerjaan tersebut. Tak mengapa, toh ia akan diberi pelatihan nanti. Dan semoga saja, zifa tak salah pilih jalan.


...Nih, aku up lagi. Jangan lupa juga kewajiban setelah selesai membaca. Yaitu Like, Vote dan komentnya😊...


__ADS_2