Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Pria Egois


__ADS_3

Hari masih pagi, namun Zifa sudah menemukan Bima berada di rumahnya. Entah apa yang pria itu lakukan di sini. Minta makan? Minta jajan? Atau minta yang lainnya Zifa terlalu malas untuk menanyakan. Ia malah melewati Bima begitu saja sambil berpamitan pada Mama dan Papanya.


"Kamu nggak sarapan dulu sayang?" tanya Ningsih. Zifa menggeleng "Aku nanti makan di kantor aja Ma!" balasnya sambil mencium tangan Ningsih dan beralih pada Juna. Entah kenapa pagi ini ia tak berselera makan. Bahkan semalam ia tidur nanti pukul satu malam. Tentu saja bawah matanya kembali menghitam, namun ia samarkan dengan make up natural miliknya.


Bima yang merasa dicueki Zifa tetap terlihat tak terganggu. Pria itu malah berdiri dan ikut menyalimi orang tua Zifa. "Bima juga mau pamit Tante, Om!" ujarnya.


Zifa tetap masih tak menghiraukan Bima, seolah cowok itu tidak ada di sana. Ia melangkah dengan santai menuju mobilnya.


"Kamu berangkat sama aku hari ini!" ujar Bima.


Zifa yang sudah membuka pintu mobilnya terhenti dan menoleh pada bosnya yang akhir-akhir ini sering bertingkah aneh itu.


"Nggak perlu. Lagian, Bapak ngapain di sini? Kayak nggak ada kerjaan aja masih pagi udah di rumah orang" hari ini Zifa terlalu malas berbasa-basi. Mungkin efek banyak pikiran makanya ia terlihat sangat sensi.

__ADS_1


"Kan sudah aku bilang tadi, kita berangkat bareng. Berarti aku ke sini mau jemput kamu" jawab Bima santai.


"saya sudah bilang nggak perlu. Lagipula, perasaan tempat tinggal kita berlawanan deh! Bagaimana bisa Bapak melewati kantor dan malah berjalan terus ke rumah saya"


Bima mendelik "Kamu pikir aku sekurang kerjaan itu? aku beberapa hari ini dan sampai beberapa hari ke depan ada di rumah orang tuaku dulu yang di jalan Xx. Jadi karena aku sering merasa kesunyian saat menyetir, makanya aku ajak kamu aja tiap berangkat dan pulang. Biar di mobil aku bisa punya teman berdebat"


Zifa menggeleng pelan. "Tapi tetap aja nggak perlu. Bapak bisa mencari karyawan yang lain yang rumahnya sekitaran sini untuk bisa menemani Bapak di mobil" bantah Zifa.


"Alasan Bapak nggak jelas. Nanti jika ada karyawan yang ngeliat dan gosipin kita di kantor bagaimana?"


"Kita jawab aja yang sebenarnya!" Bima mengatakannya begitu santai, berbeda dengan Zifa yang melotot marah.


"saya harus bilang ke mereka kalau Bapak menjemput saya? gitu?" tanya Zifa mulai emosi. Bima mengangguk. "Dan Bapak pikir mereka percaya? Mereka akan menggosipkan saya yang enggak-enggak. Bapak enak, mereka pasti bergosip hanya membandingkan kita. Bapak yang baik-baik, sementara saya pastinya dapat yang buruk-buruk!"

__ADS_1


"Ya sudah kalau gitu. Kamu bilang aja kita saling mengenal sebelum ini. Kalau perlu kamu bilang yang sejujurnya kalau dulu kita pacaran" Bima juga mulai terpancing emosi. "nggak tahu kalau sekarang" sambungnya dengan suara pelan agar tak terdengar di telinga Zifa.


Zifa menghela nafas kasar. Kenapa ia harus terjebak masalah seperti ini sih? Ia masih kepikiran tentang perasaan Bita, dan sekarang Bima malah semakin membuatnya setres karena tingkah menyebalkan yang bahkan sudah -melekat padanya sejak dulu.


"Okey! Kita berangkat bersama" putus Zifa akhirnya. Gadis itu memilih mengalah, karena ia tahu Bima itu sangat egois. Mana mau dia mengalah duluan.


"Gitu dong! Dari tadi kek. Oh yah, sampai beberapa hari selama aku belum balik ke apartemen yah!" ujar Bima tak tahu diri. Zifa hanya membalasnya dengan gumaman. "Tapi Bapak harus tanggung jawab kalau saya digosipin orang-orang sekantor"


"Siap Bu sekertaris!"


Bima ternyata banyak modus yah? Hahahaha.


Oh yah like, vote dan komentarnya jangan lupa😊

__ADS_1


__ADS_2