Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Drama saat pulang bersama


__ADS_3

Double up untuk hari ini. Aku harap, kalian mau mendukungku dengan memberikan like, vote dan komentar agar aku makin semangat😊 Dan terima kasih yang udah setia membaca novel ini😙


Zifa mendengus malas saat mendengar perkataan Bima. "Bapak jangan berbicara seolah Bapak mengenal kebiasaan saya!"


"Dan saya memang mengenal kebiasaan buruk kamu itu Zifa" balas Bima santai. Zifa menghela nafas dengan kasar, ia tak berniat membalas perkataan Bima yang menurutnya aneh.


Zifa mengambil ponselnya berniat untuk memesan Taksi online. Namun ucapan Bima seketika menghentikan kegiatannya.


"Kamu nggak liat berita semalam di Tv? Mayat seorang wanita yang ditemukan dengan beberapa luka tusukan di badannya. Kamu tahu penyebabnya apa?"


Zifa memilih tak menanggapi. Lagipula, untuk apa juga ia menanggapi perkataan cowok itu?


"Penyebabnya ternyata wanita itu korban penculikan. Seorang penculik menyamar menjadi Supir taksi" Zifa seketika membelalak kaget. Ia menatap Bima, mencari kebohongan di wajah datar pria itu.


"Bapak jangan nakut-nakutin saya. Kalau saya nggak jadi pesan Taksi online bagaimana saya bisa pulang?" kesal Zifa.


"Siapa yang nakut-nakutin kamu? Kalau nggak jadi, ya naik sama saya aja"


Zifa menggeleng, mana mau ia naik bareng Bima. Lagipula, kenapa Bima mau mengajaknya bersama? Bukankah sangat terlihat aneh?

__ADS_1


"Kenapa Bapak mau nawarin saya tumpangan? Apa jangan-jangan Bapak sendiri yang berniat menculik dan membunuh saya?" selidik Zifa.


Bima menganga tak percaya. Bagaimana bisa sekertarisnya ini begitu bodoh? "Siapa yang mau menculik kamu? nggak ada untungnya kali. Apalagi membunuh! kamu pikir saya psikopat?"


Zifa kembali menghela nafasnya, kali ini berbentuk kelegaan. Kemudian ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Habis Bapak aneh tiba-tiba baik sama saya!"


Bima berdecak sebal. "Heh, yang baik sama kamu siapa? Jangan ge-er. Tadi si Nara ngoceh-ngoceh di dalam, suru nyusulin kamu ke sini. Dia takut sahabatnya yang keras kepalanya melebihi batu itu kenapa-napa!" ucapnya sambil menunjuk Zifa.


Zifa masih diam, sedikit tak percaya. "Kalau nggak percaya balik ke dalam sana! tanya sendiri sama Nara"


Zifa mendengus 'Ogah! Kayak orang nggak ada kerjaan aja bolak-balik masuk restoran hanya untuk nanya hal kayak gitu' batinnya.


"Buruan! Entar manusia kampret dua itu keburu keluar dan nyangka kita lagi asik ngobrol di sini!" seru Bima sambik berjalan menuju mobilnya yang terparkir.


"Saya bisa sendiri Pak!" ujar Zifa.


"Jangan salah paham. Pintu Mobil saya kadang macet-macet saat dibuka. Kalau tangan bar-bar kamu yang buka entar malah rusak" ucap Bima membuat Zifa kembali menghela nafasnya entah yang ke berapa kalinya.


Zifa berusaha mengatur emosinya. Andai ia tak terpengaruh dengan perkataan Bima tadi tentang wanita korban pembunuhan itu, mana mau ia semobil sama Bima. Kata-kata pria itu bahkan selalu menusuknya, membuat Zifa jengah.

__ADS_1


"Kenapa melamun? Jangan mikir macam-macam. Jangan ingat masa lalu juga, karena saya lakuin ini terpaksa. Kalau bukan karena ocehan Nara yang membuat telinga saya sakit mana mau saya ngantar kamu!"


Zifa tetap diam tak menanggapi. Ucapan Bima benar-benar menyinggung perasaannya. sedetik kemudian, dia menatap Bima datar.


"Kalau Bapak benaran terpaksa, lebih baik Bapak turunkan saya sekarang juga" ujarnya dingin. Bima tersentak kaget, tapi kemudian wajah pria itu kembali datar.


"Dan kamu mau jalan kaki?" tanya Bima.


"Saya bisa pesan taksi online" balas Zifa masih dengan nada dingin.


"Kamu nggak takut apa yang saya bil..."


"Lebih baik saya mati dibunuh daripada mendengar perkataan Bapak yang nggak bisa menjaga perasaan orang lain yang menjadi lawan bicara! Sekarang hentikan Mobilnya, saya mau keluar"


Bima mendengus "Dan membiarkan saya diceramahi Nar..."


"Saya janji tidak akan ngasih tahu dia" potong Zifa.


Bima menghentikan mobilnya seperti perkataan Zifa. Wajah cowok itu tak terlalu kentara bagaimana ekspresinya karena gelap. Tanpa mengatakan apapun, Zifa turun dari mobil atasannya itu.

__ADS_1


"AKKHHH!!" Teriak Bima sambil memukul stir Mobil sesaat setelah Zifa menjauh. Perlahan, ia mengikuti gadis itu dari belakang dengan jarak yang sedikit jauh. Ternyata Zifa tak langsung pulang, gadis itu malah singgah di sebuah Cafe yang ada di sana.


Kira-kira apa yah, yang ada di pikiran abanh Bim Bim? Penasaran nggak?


__ADS_2