Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Rasa Syukur


__ADS_3

Like, vote dan komentarnya jangan lupa


Bima dan Zifa kini sudah berada di mobil dengan tujuan pulang. Sedari tadi keduanya hanya diam. Zifa masih kepikiran dengan hal yang ia dengar tadi siang, sedangkan Bima sedang berusaha merangkai kata untuk menjelaskan pada Zifa.


"Kamu marah?" akhirnya hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Bima.


Zifa menoleh dan menatap Bima yang kembali memperhatikan jalan di depannya.


"Enggak!"


"Bohong!" bantah Bima dengan halus, ia tahu Zifa sedang marah padanya. Bahkan gadis itu tak menungguinya untuk makan siang bersama.


"Aku benaran nggak marah. Hanya saja aku kesal dengan pria tua itu" nadanya terdengar benar-benar kesal seperti perkataannya.


"Pria tua itu Dosen aku loh Zi!" peringat Bima sehalus mungkin karena kata-kata Zifa terdengar kasar didengar.

__ADS_1


"Lah, Dosen kamu kan bukan Dosen aku? Lalu salahnya dimana?" Kekesalan Zifa semakin bertambah karena Bima membela sang Dosen.


"Walaupun gitu Zi. Ucapan kamu kasar banget, dia kan orang yang lebih tua dari kita" nasehat Bima.


Zifa mendengus "Iya iya. Belain aja terus calon mertua kamu" rajuknya sambil membuang muka ke arah jendela. Ia malas melihat wajah Bima untuk saat ini.


"Calon mertua akukan cuma Papa kamu Zi. Yang tadi itu hanya Dosen aku bukan calon mertua aku!" ujar Bima tersenyum. Ia paham Zifa sedang marah sekarang.


"Dih! gombalannya nggak mempan keles!" cibirnya sementara Bima kembali melebarkan senyumnya karena balasan Zifa yang terdengar jutek, namun Bima sempat melihat rona kemerahan di pipi sampai telinga gadis itu saat ia meliriknya tadi.


Zifa menghela nafas pelan. "Aku udah bilang nggak marah"


"Oke, oke! ralat, masih kesal?" tanya Bima.


Zifa mengangguk. "Maafin aku yah?" mohon Bima, diambilnya tangan Zifa dan membawanya ke dalan genggaman hangat miliknya.

__ADS_1


Zifa menggeleng "Nggak dimaafin?" tanya Bima memelas. "Enggak. Itu bukan salah kamu. Mana mungkin aku marah ke kamu Bim. Udah cukup selama ini aku hidup dalam kesalah pahaman dan membiarkan kamu berjuang sendirian. Kali ini, aku akan selalu ada di sisi kami untuk menghadapi semua masalah. Kita berjuang bersama-sama untuk hubungan kita" ujarnya panjang lebar membuat Bima sangat terharu.


Pria itu membawa tangan yang digenggamnya itu ke bibirnya untuk ia kecup. Begitu lama dan dalam seolah menyalurkan rasa sukurnya akan memiliki gadis yang begitu memahaminya dan mau diajak berjuang bersama.


"Makasih sayang, makasih! Kita harus sama-sama menemukan jalan keluar dari masalah ini. Kita harus membuat anak Pak Zahid bahagia, namun bukan dengan cara menikah sama aku. Supaya Pak Zahid tak kepikiran lagi dan hubunganku dengan dia bisa tetap terjalin baik"


Zifa mengangguk. dielusnya kepala Bima yang kini tengah kembali mengecup pergelangan tangannya. Prianya ini begitu manis saat dengannya, membuat Zifa juga begitu bersyukur akan kehadiran Bima. Apalagi mengingat bagaimana rasa cinta dan setianya Bima padanya. Zaman ini begitu sulit menemukan orang setulus Bima, jadi mana mungkin hanya karena masalah sepele seperti tadi ia langsung menyerah begitu saja. Bima terlalu berharga untuk ia lepas dan pria itu sangat pantas untuk diperjuangkan.


"Aku cinta kamu" bisik Bima pelan. Zifa tersenyum "Aku juga" balasnya.


Bima mendongak "Aku juga apa? Kok cuma setengah?" tanyanya kesal.


"Aku juga.......cinta aku" tawa Zifa pecah saat melihat wajah cemberut Bima. Perasaan tadi dia yang ngambek, kok sekarang jadi Bima? "Iya, iya! Aku cinta kamu juga Bima Putra Dwi Agung!" ucap Zifa membuat wajah Bima seketika berseri.


Kok makin lama makin sepi yah? Apa karena ceritanya kurang menarikkah?

__ADS_1


__ADS_2