
Jejaknya jangan lupa😊
Kali ini, Zifa ke kantor dengan membawa kendaraannya sendiri. Berbeda dengan biasanya yang selalu berangkat dengan Bima, karena seperti ucapannya semalam, pria itu sudah terbang ke Kota S malam itu juga.
Zifa menghentikan langkahnya saat mendengar dua orang yang tengah berdebat di area parkir. Karena merasa kepo, Zifa mencari arah suara tersebut. Mata Zifa membulat saat melihat Naren dan Tari, padahal setahu Zifa keduanya adalah sahabat.
"Kamu egois Ren! Aku benci sama kamu. Kamu selalu aja larang aku dekat dengan cowok lain, padahal selama ini kamu juga selalu dekatin cewek lain" teriak Tari sambil menatap penuh amarah pada Naren.
Zifa yang tersadar dari jiwa keponya segera beranjak dari sana, takutnya dua orang tersebut menyadari keberadaannya yang sedang bersembunyi di balik sebuah mobil layaknya penguntit.
Sepanjang jalan Zifa merutuki dirinya dalam hati. Bisa-bisanya ia kepo akan urusan orang padahal dirinya juga lagi merasa galau. Bagaimana tidak? Bima sama sekali tak mengabarinya sejak semalam. Bahkan untuk sekedar mengatakan kalau dia sudah sampai di tempat tujuan sama sekali nggak ada. Apa Bima tertidur karena kelelahan? Pikir Zifa berusaha menghilangkan pemikiran-pemikiran buruk yang mulai merasuki hati dan otaknya.
Zifa duduk dengan rasa bosan saat menunggu pesanannya di antarkan ke mejanya. Berbeda dengan biasanya makan di ruangan Bima saat jam makan siang, kali ini Zifa makan di kantin sendirian.
"Uisshh! Tumben banget Nyonya Bima Putra Dwi Agung ada di kantin. Sendirian lagi! Pak Bimanya mana?" Tanya Wika yang baru datang sambil celingukan mencari keberadaan Bima.
Zifa mendengus "Lagi nggak ada dia" jawabnya kurang bersemangat.
"Uuh, kaciaannn! Galau yah, ditinggal Pak Bos?" Ledek Wika.
"Ckk!" Zifa hanya mampu berdecak malas. "Yang lain mana?" Tanya Zifa.
__ADS_1
"Tari lagi dipanggil ke ruangan Direktur Keuangan, sedangkan si Amira pasti nemanin si atasannya itulah! Tri nggak masuk karena sakit perut" jelas Wika.
"Naren?" Tanya Zifa. "Ya ngekorin si Tari lah. Emang ke mana lagi dia" jawab Wika mengangkat bahunya.
Tiba-tiba Zifa teringat dengan kejadian yang ia lihat di parkiran tadi. "Ngomong-ngomong, Wik. Tari sama Naren itu benaran cuma sahabatan?" Tanya Zifa membuat Wika mengerutkan alisnya.
"Maksud kamu?"
"Tadi soalnya aku nggak sengaja ngintip mereka bertengkar sih, di parkiran. Terus Tari nyebut-nyebut masalah dia yang dilarang Naren kalau dekat dengan cowok lain gitu"
Wika mengangguk paham. "Itu udah biasa sih!" Ujar Wika santai. Berarti mereka memang sudah sering menyaksikan hal itu.
"Emangnya mereka pacaran?" Tanya Zifa bingung.
"Loh, bukannya Naren yang ada rasa sama Tari? Buktinya dia ngekorin Tari ke mana-mana. Terus ngapain juga dia posesif ke Tari kalau nggak ada rasa?" Tanya Zifa.
"Ya justru itu yang makin buat si Tari ngenes amat nasibnya. Naren ngelarang Tari untuk dekat dengan cowok manapun, saat ia dekat dengan cewek dan Tari menjauh, ia juga nggak akan ngebiarin hal itu" ujar Wika.
"Kalau menurut aku yah, Naren itu mungkin suka juga sama Tari. Hanya saja pasti ada sesuatu yang membuat dia nggak mau ngungkapinnya" ucap Zifa berpendapat.
Wika mengangguk. "Menurut aku sama teman-teman juga gitu. Naren pasti ngelakuin hal itu karena trauma akan hubungan keluarganya"
__ADS_1
"Maksud kamu?" Tanya Zifa semakin penasaran. Wika menghela nafas pelan "Naren itu sebenarnya anak orang berada. Hanya saja, dia berasal dari keluarga yang broken home. Ia dulu sering melihat bagaimana Mamanya selalu membawa pria lain ke rumahnya saat Papanya sibuk bekerja. Ia tak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Puncaknya, hubungan orang tuanya berakhir dengan perceraian, saat itu ia masih kelas satu SMP. Bayangin, gimana terguncangnya jiwa dia. Yang lebih parahnya, satu bulan setelah bercerai Papanya nikah lagi sama wanita yang ternyata juga selingkuhan Papanya dulu. Semakin terabaikanlah si Naren" Zifa menganga lebar mendengar cerita Wika. Astaga! Zifa tak habis pikir ada orang tua sejahat dan seegois itu.
"Tapi.....kok kamu tahu semuanya?" Tanya Zifa seperti menyadari sesuatu. Masalah keluarga tidak mungkin diketahui sembarang orangkan?
"Karena aku sama Naren itu sepupu" jawab Wita dan terkekeh pelan saat melihat raut terkejut Zifa. "Mama aku sama Mama dia saudaraan, jadi kami termasuk sepupu dekat. Hanya saja, sejak dulu Naren memilih menjauh dari keluarga, baik dari sebelah Papa maupun Mamanya. Ia lebih menarik diri dari perkumpulan, padahal kami sangat peduli padanya" cerita Wika sendu. Zifa mendengarkan dengan baik.
"Dan aku bersyukur lolos bekerja di sini dan bertemu serta berteman dengan Tari. Dengan begitu aku juga bisa akrab sama Naren, dan perlahan hubungan kita juga mulai membaik" ujarnya diakhiri dengan senyum ceria.
"Tapi kamu jangan cerita siapa-siapa yah Zi. Aku cerita gini karena aku udah anggap kamu sahabat aku, dan kamu juga keliatan banget penasaran akan hubungan Naren sama Tari"
Zifa mengangguk "Tenang aja!" Ujarnya
Jangan langsung tinggalkan laman ini yah😊 Isi jawaban kalian dulu
💜Sudah siap berpisah dengan kebucinan Bima dan zifa?
💜Menurut kalian, cerita ini akhirnya bagusnya dibuat kayak gimana?
-Happy anding
-sad ending
__ADS_1
-atau gantung aja?