
Like, vote dan komentarnya jangan lupa😊
"Bimanya ada?" tanya seorang pria yang berumur sekitar hampir enam puluh tahunan. Zifa mengangguk "Iya. Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Zifa.
"Saya mau bertemu Bima" ujarnya ramah. "Sudah buat janji sebelumnya?" tanya Zifa kembali. Pasalnya, ia belum pernah melihat orang di depannya ini.
"Belum. Tapi kamu bisa kan menghubungi Bima, bilang Pak Zahid, dosennya dulu ingin bertemu" ujar pria paruh bayah itu.
Dalam hati Zifa membatin 'Oh, dosennya to! Eh, tapikan Bima kuliahnya di Singapura? Berarti orang ini jauh-jauh dari Singapura mau ketemu Bima dong'
Panggilan dari Zifa langsung diangkat Bima, "Halo yang, kenapa? Kangen yah?" tanya Bima nyeleneh. Zifa menghela nafas pelan, untung saja volume panggilannya kecil, jadi tamu tersebut tak bisa mendengar suara Bima.
__ADS_1
"Ada tamu yang mau menemui Bapak. Namanya Pak Zahid, Dosen Bapak dulu" jelas Zifa formal tak menghiraukan ucapan Bima yang tak tahu tempat dan situasi.
"Eh? Astaga! Ya udah, kamu antarin dia langsung ke sini!" sepertinya Bima lagi salah tingkah di seberang sana membuat Zifa berusaha menahan kekehan yang ingin keluar dari mulutnya.
"Baik Pak!" Selesai memutuskan panggilan, Zifa beralih menatap tamu tadi.
"Mari Pak, saya antarkan ke ruangan Pak Bima!" ujarnya mempersilahkan. Pak Zahid tersenyum dan kemudian mengikuti Langkah Zifa.
Zifa melirik jam yang ada di pergelangan tangannya, sebentar lagi waktu makan siang tiba. Zifa menuju ruang Bima untuk mengantarkan berkas titipan dari beberapa orang untuk Bima tanda tangani. Ia mengetuk pintu berwarna coklat kekuningan tersebut dan langsung masuk saat mendengar suara sahutan dari dalam.
"Bagimana Bima? Kamu maukan terima tawaran saya? Saya sangat percaya sama kamu, bahkan kamulah kandidat terbaik menurut saya untuk saya jadikan mantu. Saya yakin kamu bisa merubah anak saya dan mengembalikan senyumannya" Langkah Zifa langsung terhenti mendengar ucapan pria paruh bayah itu. Jadi dia datang jauh-jauh ke sini untuk menawarkan Bima posisi menantu?
__ADS_1
Bima langsung menegang karena kalimat tersebut didengar oleh kekasihnya. Dia tak bisa menghentikan pembicaraan karena itu sangat tak sopan. Meski dia tak menyukai hal yang menjadi perbincangan mereka, namun ia masih menghargai status Pak Zahid yang merupakan Dosennya. Bima juga berpikir kalau Rey yang mengetuk pintu tadi karena pria itu mengatakan akan ke ruangannya karena ada sesuatu yang ingin ia bicarakan. Ternyata yang datang malah Zifa dan Bima takut Zifa salah paham.
"Ada apa Zifa?" tanya Bima sambil menatap khawatir pada Zifa yang terdiam. Ia bahkan mengabaikan pertanyaan sang Dosen.
"I...ini Pak, saya mau minta tanda tangan" jawab Zifa tergagap karena syok mendengar pembicaraan dua orang di hadapannya tadi.
"Oh, ayo ke sini" suruh Bima. Zifa mendekat dan menyodorkan berkas-berkas tersebut pada Bima.
Bima membaca sejenak berkas-berkas tersebut satu persatu, kadang alisnya bertaut "Kamu silahkan keluar dulu karena saya masih membutuhkan waktu untuk menganalisis beberapa laporan ini sebelum tanda tangan. Takutnya kamu bosan karena terlalu lama menunggu" ujar Bima penuh perhatian. Sayangnya Zifa malah merasa Bima mengusirnya secara halus agar ia bisa lebih leluasa berbincang dengan 'calon mertuanya' itu.
Zifa hanya pasrah dan pamit undur diri dari sana. Sampai di mejanya, gadis itu langsung duduk sambil berusaha menenangkan pikirannya.
__ADS_1
siap dengan konflik baru? Tenang, konfliknya nggak terlalu berat kok. Paling hanya buat kalian kepikiran sepanjang malam karena penasaran😂